PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI

Posted on Updated on

oleh : Depdiknas, Dirjen Maqnajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan SMK, Jakarta (2008)

I. PENDAHULUAN

 

A.        Latar Belakang

 

Dalam impelementasi KTSP terdapat misi yang hendak dicapai, yaitu menjadikan peserta didik kelak sebagai warga negara yang cerdas, terampil dan berwatak, kompeten secara memadai serta mampu mewujudkan keberlangsungan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbekal dari semua itu, secara sadar dan penuh tanggung jawab, peserta didik akan menggunakannya untuk membangun identitas budaya, integritas sosial dan kepribadian bangsanya serta untuk menghadapi tantangan kehidupan dan penghidupan di masa yang akan datang.

 

Untuk mewujudkan misi tersebut mempersyaratkan perlunya dilakukan perubahan terhadap pernbelajaran yang berlangsung selama ini di sekolah/kelas, yaitu pembelajaran yang semula berorientasi pada guru menjadi pembelajaran yang berorientasi pada optimalisasi kompetensi peserta didik serta proses pencapaiannya. Perubahan tersebut perlu dilakukan karena pembelajaran yang berorientasi pada guru, keterlaksanaannya lebih bersifat indoktrinatif dengan menekankan pencapaian target kurikulum pada ranah pengetahuan saja. Pembelajaran hanya untuk kepentingan jangka pendek.

 

Kebutuhan peserta didik pada ranah sikap dan spikomotor kurang mendapatkan perhatian secara memadai. Pengembangan kemampuan psikomotorik dan afektif sangat diperlukan untuk kepentingan kehidupan jangka panjang. Pembekalan terhadap kemampuan-kemampuan tersebut belum terwujud secara optimal. Kenyataan ini berkontribusi terhadap rendahnya kualitas lulusan dan menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.

 

Dengan melakukan perubahan pembelajaran di sekolah, para praktisi pendidikan (utamanya guru), diharapkan memiliki komitmen yang tinggi untuk mempersiapkan masa depan kehidupan dan penghidupan peserta didiknya. Dengan demikian berarti bahwa pendidikan di sekolah akan banyak memberikan konstribusi dalam mempersiapkan orang‑orang agar mampu bertahan (survival) menghadapi tantangan kehidupan dan penghidupan di masa mendatang dengan ciri-ciri, sebagai berikut:

 

1.         Pemikir yang kritis, logis, kreatif, inovatif dan produktif

2.         Pemecah masalah dan pengambil keputusan dalam setiap aspek kehidupan

3.         Merefleksi dan mengendalikan diri

4.         Jujur, disiplin, tanggung, jawab, demokratis dan terbuka akomodatif

5.         Belajar bagaimana hidup saling ketergantungan dan kolaborasi

6.         Belajar bagaimana hidup bersama dalam setiap komunitas, kapan dan di manapun.

 

Keinginan yang luhur tersebut, pada kenyataannya akan sulit terwujud apabila kemampuan guru untuk melaksanakan misi pembelajaran sebagimana telah dijelaskan tidak dipersiapkan dengan baik. Sangat dipahami bahwa keberhasilan suatu proses pembelajaran pada dasarnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor dominannya yaitu kurangnya pemahaman/kemampuan guru dalam mengembangkan dan menerapkan model-model pembelajaran yang dapat menciptakan kondisi pembelajaran kondusif, menyenangkan, sehingga proses pembelajaran membuka peluang bagi peserta didik dalam menumbuh-kembangkan potensinnya terutama untuk berpikir logis, kritis, analistis, kreatif. dar inovatif. Melalui proses pendidikan seperti ini, peserta didik diharapkan dapat menjadikan dirinya seorang yang kompeten. Faktor ini pula yang diduga sebagai salah satu faktor penyebab menurunnya kualitas pembelajaran, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya kualitas pendidikan.

 

Rendahnya kemampuan yang dirasakan guru, khususnya Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dalam mengembangkan dan menerapkan model-model pembelajaran tersebut menyebabkan kegiatan pembelajaran serasa monoton dan kurang efektif. Guru semakin kurang peka terhadap pentingnya meningkatkan kualitas pembelajaran. Peserta didik menjadi cepat bosan karena suasana belajar yang kurang variatif. Motivasi belajar peserta didik tidak terbangun secara optimal, sehingga berpotensi menurunkan prestasi belajarnya. Pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan berbagai jenis kecerdasan dan pencapaian sejumlah kompetensi yang diharapkan terjadi pada diri peserta didik menjadi semakin jauh dari kenyataan.

 

Permasalahan di atas mendorong perlunya ada peningkatan kemampuan guru dalam mengembangkan dan menerapkan model-model pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan karakteristik pendidikan kejuruan. Materi Bimbingan Teknis tentang Penerapan Model Pembelajaran ini disiapkan untuk membuka wawasan dan memperkuat pemahaman guru tentang pendekatan, strategi dan metoda pembelajaran yang sangat diperlukan dalam pengembangan model-model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi sebagaimana dipersyaratkan dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Menengah Kejuruan.

 

B.        Tujuan Pembelajaran

 

Setelah mempelajari materi bimbingan teknis ini, peserta memahami dan mampu:

 

1.         memahami konsep pendekatan, strategi, metoda dan teknik pembelajaran

2.         mengidentifikasi macam dan karakteristik strategi dan metoda pembelajaran

3.         memahami karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi

4.         menunjukan kriteria pemilihan strategi dan metode pembelajaran

5.         mengembangakan model-model pembelajaran dalam pembelajaran berbasis kompetensi

6.         menerapkan model-model pembelajaran untuk mata diklat adaptif, normatif dan produktif

 

 

C.        Ruang Lingkup

 

Materi pelatihan ini membahas tentang konsep, pendekatan, strategi, dan metode dalam pembelajaran berbasis kompetensi serta aplikasinya dalam pengembangan model-model pembelajaran untuk mata diklat normatif, adaptif, dan produktif.

 

 


II. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI

 

 

A.        Pengertian Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran

 

1.          Pendekatan Pembelajaran

 

a.          Pengertian Pendekatan

 

Pendekatan (approach) adalah cara umum dalam memandang suatu permasalahan atau obyek kajian, sehingga muncul dampak dari cara pandang tersebut. Sebagai contoh: pendekatan CBSA merupakan cara memandang pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik harus selalu aktif. Pembelajaran PAKEM merupakan pendekatan pembelajaran yang ditinjau dari segi proses. Pendekatan pembelajaran tematik dan terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang ditinjau dari segi materi yang hendak di sajikan kepada peserta didik. (T. Raka Joni, 1991).

 

Ketepatan dalam memilih suatu pendekatan akan menjadi pedoman atau orientasi dalam pemilihan komponen kegiatan pembelajaran lainnya terutama strategi dan metode pembelajaran. Untuk itu pendekatan dalam kegiatan pernbelajaran berfungsi sebagai acuan pengorganisasian bahan ajar yang akan dipelajari oleh peserta didik selama proses pembelajaran. Bahan ajar merupakan uraian materi dari silabus yang akan diajarkan sebagai sarana untuk mewujudkan ketercapaian kompetensi.

 

b.          Jenis Pendekatan Pembelajaran

 

Pembelajaran dalam rangka mencapai sejumlah kompetensi pada pendidikan dan pelatihan kejuruan mensyaratkan penggunaan cara-cara belajar yang dapat mengkodisikan peserta didik aktif. Peserta didik diberi kesempatan seluas-luasnya melakukan latihan-latihan dalam rangka membangun kompetensi yang menjadi sasaran belajarnya.

 

Belajar diawali dengan menggali pengalaman atau pemahaman yang dimiliki peserta didik, selanjunya dikonstruksi menjadi pemahaman suatu konsep yang utuh. Belajar tidak hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan yang bersifat teknis saja, namun juga kemampuan-kemampuan yang bersifat intelektual, personal, sosial, attitude dan sebagainya.

 

Beberapa jenis pendekatan pembelajaran yang dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan, diantaranya :

 

·                Pembelajaran Individu (Individual Learning)

 

Pembelajaran individu merupakan salah satu prinsip dari pembelajaran berbasis kompetensi. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi pencapaian kompetensi bersifat individual bukan klasikal atau rata-rata kelas. Peserta didik sebagai individu harus dapat menunjukkan pencapaian kompetensi minimal secara tuntas (mastery learning).  Peserta didik sebagai individu  dimungkinkan belajar menguasai kompetensi dengan menggunakan modul.

 

Pendekatan pembelajaran dengan sistem modul memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara individual sesuai dengan percepatan pembelajaran masing-masing peserta didik. Modul sebagai alat atau sarana pembelajaran berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

 

Dengan pembelajaran melalui sistem modul maka dalam pembelajaran di sekolah akan memperoleh keuntungan yaitu (1) keutuhan dan ketuntasan penguasaan kompetensi, (2) kesinambungan proses pembelajaran, (3) efisiensi penggunaan sumber daya pendidikan. Untuk itu perlu adanya penyusunan bahan ajar atau modul sesuai dengan analisis kompetensi, agar peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien.

 

·                 Student Active Learning  (SAL)

 

Pendekatan pembelajaran student aktive learning mengarahkan kepada peserta didik agar dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu dalam kondisi siap melakukan aktivitas.

 

Prosedur yang harus dilakukan agar peserta didik aktif :

1).        Ciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.

2).        Ciptakan agar peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.

3).        Dorong agar peserta didik menyusun tujuan belajar.

4).        Dorong agar peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.

5).        Bantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.

6).        Bantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

 

·                 Cooperative Learning

 

 

Merupakan konsep pembelajaran yang mengarahkan kepada peserta didik agar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menganut prinsip learning to live together. Dengan demikian para peserta didik diharapkan dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dan dapat bekerja secara tim dalam kelompoknya.

 

·                 Contextual learning

 

Merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

 

·                 Mastery learning

 

Merupakan konsep pembelajaran yang menitikberatkan pada penguasaan secara utuh dan tuntas terhadap materi yang dipelajari oleh peserta didik. Jadi agar paserta didik menguasai materi secara tuntas, strategi yang harus dilakukan adalah: 1) melaksanakan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); 2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah tuntas mencapai patokan. 3) adanya pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).

 

·                 Learning by doing

 

Merupakan konsep pembelajaran yang mengkondisikan para peserta didik untuk dapat melaksanakan kegiatan belajar sambil bekerja. Jadi para peserta didik benar-benar dikondisikan pada pekerjaan yang sesungguhnya “the real job” atau belajar di dunia kerja (teaching factory).

 

2.Strategi Pembelajaran

 

Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya guru dalam memfasilitasi peserta didik untuk mewujudkan ketercapaian kompetensi yang diharapkan. Ketertaksanaan proses pembelajaran mencerminkan kondisi yang dibangun oleh guru dengan memanfaatkan berbagai strategi, metode, media dan sumber belajar terpilih sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara sistematis. Berdasarkan pengertian ini, dapat dipahami bahwa strategi dan metode sangat menentukan keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran.

 

Strategi (strategy) adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. T Raka Joni (1991) Dengan demikian cakupan strategi cukup luas, seperti yang dijelaskan oleh Oliva (1988, hal 464) bahwa strategi adalah metoda, prosedur, teknik, langkah-langkah yang dipergunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan. Untuk memilih strategi, perlu melihat sumber-sumber strategi yang meliputi tujuan, bahan, siswa, masyarakat dan guru sendiri.

 

Strategi menunjukkan langkah-langkah kegiatan (syntax) atau prosedur yang digunakan dalam menyajikan bahan ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Suatu strategi dipilih untuk melaksanakan metode-metode pembelajaran terpilih sehingga kondisi pembelajaran dapat kondusif dan menyenangkan. Dengan metode yang tepat, peserta didik akan merasa mudah dalam mengikuti pembelajaran. Strategi berfungsi mewujudkan keterlaksanaan berbagai metoda terpilih untuk menyajikan bahan ajar dengan menggunakan media yang relevan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan pada diri peserta didik.

 

Secara umum strategi pembelajaran meliputi tiga besaran langkah kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. Kegiatan pendahuluan mencakup sub kegiatan informasi singkat tentang isi materi ajar yang akan diajarkan, informasi tentang relevansi isi materi ajar dengan pengalaman peserta didik, dan informasi tentang kompetensi yang ingin dicapai. Kegiatan inti mencakup sub kegiatan: uraian secara rinci tentang isi materi ajar dengan menggunakan metode dan media yang telah dipilih, memberikan contoh-contoh dari isi materi ajar, dan memberikan latihan. Kegiatan penutup mencakup sub kegiatan: pemberian tes (post test), pemberian umpan balik, dan tintak lanjut (penugasan untuk mendalami materi ajar yang telah disampaikan).

 

Ciri‑ciri strategi yang berpeluang bagi peserta didik untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, antara lain:

 

·               Setiap tahapan kegiatan memungkinkan penggunaan berbagai macam sumber belajar, metode dan media pembelajaran.

·               Selama proses pembelajaran mencerminkan kegiatan belajar yang beragam, baik secara individu maupun kelompok.

·               Dalam kegiatan pembelajaran memungkinkan peserta didik belajar bekerjasama dan saling tukar-menukar pengalaman.

·               Setiap tahapan kegiatan pembelajaran memberikan pengalaman belajar (learning experiences) yang bermakna bagi peserta didik datam bersikap. Utamanya kemauan dan keberanian untuk menjadi pembicara sekaligus pendengar yang baik

·               Setiap tahapan kegiatan pembelajaran memungkinkan bagi peserta didik untuk menumbuh-kembangkan kemampuannya dalam berpikir secara kritis, kreatif, inovatif, dan produktif

·               Setiap tahapan kegiatan pembelajaran dapat memotivasi peserta didik untuk mengkaji lebih-jauh bahan-bahan yang telah dan sedang dipelajari

·               Dalam proses pernbelajaran peserta didik memperoleh berbagai macam fasititas belajar untuk metakukan kegiatan praktek dan/atau latihan.

·               Dalam proses pembelajaran peserta didik memperoleh kesempatan untuk berdialog dengan dirinya sendiri dan lingkungan sekitar (fisik dan sosial) secara bebas

 

3.Metoda Pembelajaran

 

Metode (method) adalah cara yang umum untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik atau mempraktekkan teori yang telah dipelajari dalam rangka mencapai tujuan belajar (Fred Percival dan Henry Ellington,1984). Metode juga diartikan sebagai cara yang berisi prosedur baku yang digunakan untuk menyajikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Dengan demikian, metode merupakan suatu komponen pembelajaran yang sangat menentukan terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien.


Dalam konteks pembelajaran yang menyenangkan, suatu kegiatan pembelajaran tidak selalu menjamin peserta didik dapat belajar. Hal ini menunjukkan bahwa sebaik apapun guru merancang/mendesain suatu program pembelajaran, apabila tidak didukung dengan pemilihan dan penggunaan metode yang tepat maka pembelajaran menjadi tidak efektif. Atas dasar itu, metode dalam kegiatan pembelajaran berfungsi menciptakan kondisi pernbelajaran yang memungkinkan bagi peserta didik memperoleh kemudahan dalam mempelajari bahan ajar.

 

Ciri‑ciri metode yang berpeluang memfasilitasi peserta didik selama proses pembelajaran, antara lain:

 

·               Memungkinkan terciptanya kondisi yang kondusif selama proses pembelajaran

·               Memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam mempelajari bahan ajar selama proses pembetajaran

·               Memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif dalam setiap kegiatan pernbelajaran

·               Memungkinkan peserta didik memperoteh pengalaman belajar yang mencakup segenap potensi dalam dirinya secara seimbang

·               Memungkinkan peserta didik untuk melakukan refleksi secara bebas terhadap pengalaman belajar yang diperoleh ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar (fisik dan sosial).

·               Mendorong tumbuh-kembangnya kepribadian peserta didik, utamanya sikap terbuka, demokratis, disiplin, tanggung-jawab dan toleran serta komitmen terhadap nilai-nilai sosio-budaya bangsanya.

 

Dikenal berbagai jenis metode pembelajaran. Masing-masing metode mempunyai karakteristik sesuai dengan fungsinya. Beberapa metode yang dapat diterapkan dalam pengembangan suatu model pembelajaran, diantaranya:

 

           Ceramah

           Diskusi

           Kerja kelompok

           Belajar bebas

           Studi perpustakaan

           Menggunakan media

           Praktik / latihan

           Belajar di laboratorium

           Karyawisata

           Tutorial

           OJT (On the Job Training)

           Studi kasus

           Bermain game

           Aplikasi proyek

           Penugasan

 


4.Teknik Pembelajaran

 

Teknik (technic)menggambarkan suatu keragamanan khas dalam mengaplikasikan suatu metode sesuai dengan latar (setting) tertentu, seperti kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan sarana dan prasarana sekolah, kemampuan dan kesiapan peserta didik, serta nilai-nilai masyarakat. Sebagai contoh: pemakaian metode ceramah dapat disebutkan sebagai rentangan teknik berceramah mulai dari menyampaikan materi secara verbal sampai dengan menampilkan berbagai alat bantu/media pada saat menyampaikan isi pelajaran. Teknik sering diartikan sama dengan metoda, seperti teknik bertanya-jawab atau teknik berdiskusi. Taktik (tactic) memiliki pengertian sama dengan teknik.

 

B.            MODEL PEMBELAJARAN

 

1.Pengertian Model Pembelajaran

 

Model adalah sesuatu yang direncanakan, direkayasa, dikembangkan, diujicobakan, lalu dikembalikan pada badan yang mendesainnya, kemudian diujicoba ulang, baru menjadi sesuatu yang final. Melalui tahapan tersebut, maka suatu model dapat melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya. Ilmiah, (George L. Gropper dan Paul A. Ross dalam Oemar Hamalik, 2000). Model terikat sekali dengan teori yang digunakan sebagai landasan dalam pengembangannya.

 

Selanjutnya yang dimaksud pembelajaran adalah serangkaian peristiwa mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar. Untuk membuat peserta didik dapat belajar secara aktif, diperlukan desain pembelajaran yang terprogram dengan baik. Sumber-sumber belajar perlu disiapkan agar proses belajar dapat optimal. (Gagne, 1983:3)

 

Model pernbelajaran adalah suatu kerangka yang bersifat konseptual yang melukiskan prosedur secara sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan suatu aktivitas pembelajaran (Winataputra, 1996).

 

Berdasarkan teori pendidikan yang melandasinya, model pembelajaran dikelompokkan menjadi:

 

·               Model pemrosesan informasi

·               Model interaksi sosial

·               Model pribadi

·               Model pengubahan perilaku

 

2.Jenis dan Kegunaan Model Pembelajaran

 

Bruce Joyce & Marsha Well, 1992, dalam bukunya Teaching Metodology menjelaskan jenis-jenis model pembelajaran dan kegunaannya sebagai berikut:


Tabel:     Jenis-jenis Pembelajaran

 

No

KARAKTERIS-TIK MODEL

MODEL

KEGUNAAN

Kesesuaian Untuk

Mata Pelajaran*

Normatif

Adaptif

Produktif

A

Model Pemrosesan Informasi

 

 

1.  Induktif

·   Membentuk kemampuan berfikir induktif (dari unsur/contoh ke definisi-rumusan.

2.  Inquiry training

·   Melatih mencari dan menemukan melalui berfikir induktif.

 

 

3.  Science Inquiry

·   Mencari, menemukan melalui proses penelitian ilmiah (IPA dan ilmu-ilmu yang lain).

 

 

4.  Concept Attainment

·   Membentuk konsep (materi) secara benar sebagai dasar dalam kemampuan analisis.

 

 

 

 

 

 

5.  Pengem bangan (Tugas) Berfikir)

·   Pengembangan kemampuan berfikir (berfikir logis, kritis, dan kreatif).

 

6.  Advanced Organizer

·   Terjadi struktur kognitif dengan mengaitkan/ menghubungkan pengetahuan yang baru dengan yang lama.

7.  Laborato rium*

(dapur, salon, bengkel,kolam, kandang, green house dll)

·   Meningkatkan keterampilan antar pribadi (interpersonal) dalam bekerja bersama/kelompok secara fleksibel.

B

Model Interaksi Sosial

 

1. Group Investigation

·   Memiliki keterampilan dalam proses penyelidikan kelompok; keterampilan interaksi dalam kelompok..

 

 

2.     Class -room Meeting

·   Memahami interaksi pribadi yang bertanggungjawab dalam pertemuan kelas (disiplin, toleransi, tanggung jawab).

 

 

 

 

3.     Social Inquiry

·   Mampu memecahkan masalah-masalah sosial secara inquiry.

 

 

4.     Yurispro- densi

Meningkatkan upaya penyelesaian isu-isu yang berkembang dalam masyarakat dengan cara berfikir demokratis, berani menerima kritik. “Yurisprodensi” dalam ilmu hukum berarti:

·       Penilaian diri sendiri/kelompok berdasar kondisi lingkungan.

·   Keputusan hakim atas suatu masalah pidana/perdata yang dipandang adil karena  tidak ada satu hukum yang dijadikan acuan/patokan.

·   Menentukan pendirian yang kuat (atas bukti) terhadap masalah sosial politik.

 

 

C

Model Pribadi

1.   Non Direktive

 

·   Belajar menemukan pemahaman atas usaha-usaha sendiri dengan dibantu guru/orang lain.

·   Pembentukan konsep diri, keyakinan, percaya diri, dsb.

 

 

2.   Awareness

·   Melatih menerima kenyataan, menyadari perilaku, pribadi, dan kemampuan untuk mencari jalan keluar/cara yang tepat untuk dirinya.

 

 

 

 

 

3.   Sinectic (Pengem bangan kreativitas)

·   Mampu berfikir kreatif

·   Meningkatkan kreativitas anak dengan sengaja

·   Asumsi setiap orang memiliki kemampuan kreatif yang harus dikembangkan sehingga tumbuh cipta kreasi.

 

4.  Personal Conceptual

·   Membantu peserta didikmenemukan konsep pribadi yang harus dikembangkan  dalam masyarakat sehingga fleksibel (luwes), tenggang rasa, aktualisasi diri.

 

 

D

Model Pengubahan Perilaku (behavior)

 

 

1. Operant Kondisio ning

·   Memanipulasi perilaku dengan penguatan (inforcement).

·   Penguatan untuk memacu belajar siswa.

2. Reduksi Tekanan Jiwa

·   Membantu mengurangi tekanan jiwa melalui psikodrama, menyanyi, menari, darmawisata/field study.

 

 

3. Rekreasi

·   Mengajak mengamati lingkungan ke obyek-obyek rekreasi (taman hiburan, kebun binatang, taman bunga, dsb).

Keterangan :

*)  = dikembangkan

 

 

3.         Pengembangan Model Pembelajaran

 

Di dunia pendidikan, model dapat dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan beberapa sumber yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan model, diantaranya adalah kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran yang akan dikembangkan, minat dan gaya belajar peserta didik, nilai, keyakikan dan kebutuhan masyarakat serta kesesuaiannya dengan tipe kepribadian dan gaya mengajar guru. Sumber belajar disesuaikan dengan topik belajar dan fasilitas disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

 

Pengembangan model pembelajaran juga perlu memperhatikan jenis-jenis kecerdasan yang diharapkan dapat tumbuh pada peserta didik. Kecerdasan tersebut terdiri dari kecerdasan:

 

·               Linguistik (Linguistic Intelligence)

·               Logika Matematika (Logical Mathematic Intelligence)

·               Spasial (Spatial Intelligence)

·               Kinestetik tubuh (Bodily Kinesthetic Intelligence)

·               Musik (Musical Intelligence)

·               Interpersonal (Interpersonal Intelligence)

·               Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence)

·               Natural (Naturalistic Intelligence)

 

Proses pengembangan suatu model pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar: Alur Pengembangan Model Pembelajaran

 

 

 

Keterkaitan antara komponen pembelajaran dengan pengembangan suatu model pembelajaran, terutama dapat dilihat dari sifat dan sasaran belajarnya. Keterkaitan tersebut sangat penting ketika harus menetapkan metode pembelajaran dan pendekatan belajar yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran.

 

Tabel 1:     Komponen, Sifat dan Sasaran Pembelajaran

 

No.

Komponen Pembelajaran

Sifat

Sasaran

1.

Tujuan

Latihan, drill, menggunakan mesin hitung, menggunakan tabel

 

Pencapaian suatu kompetensi (perubahan perilaku)

2.

Bahan pembelajaran

Fakta, pengertian, prinsip, ketrampilan, sikap, apresiasi yang harus dikuasai

Dapat membangun kecerdasan majemuk:

·     Linguistik

·     Logika Matematika

·     Spasial

·     Kinestetik

·     Musikal

·     Interpersonal

·     Intrapersonal

 

3.

Peserta didik

Jumlah, tingkat perkembangan, tipe

Sesuai dengan kebutuhan, minat dan gaya belajar

 

4.

Masyarakat

Nilai, keyakinan, kebutuhan

Nilai, keyakinan yang hidup di masyarakat

 

5.

Guru

Gaya, kepribadian, model

Sesuai dengan pribadi dan gaya mengajar

6.

Sumber belajar

Masyarakat, lingkungan

Masyarakat, lingkungan yang sesuai dengan topik belajar

 

7.

Fasilitas

Sarana, alat, bahan, alat bantu, situasi ruang

Sesuai dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran

 

 

 

Format 1. : Analisis Materi Pembelajaran

 

No.

SK/KD

Materi Diklat

Kecakapan Majemuk yang Diharapkan

 

 

 

1

2

3

4

5

6

7

8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

1.         Linguistik (Linguistic Intelligence)

2.         Logika Matematika (Logical Mathematic Intelligence)

3.         Spasial (Spatial Intelligence)

4.         Kinestetik tubuh (Bodily Kinesthetic Intelligence)

5.         Musik (Musical Intelligence)

6.         Interpersonal (Interpersonal Intelligence)

7.         Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence)

8.         Natural (Naturalistic Intelligence)

 

 

Format 2. : Analisis Pengembangan Model Pembelajaran

 

Standar Kompetensi                                                           :

Kompetensi Ddasar                                                            :

Kecakapan majemuk yang diharapkan         :

1.            

2.            

3.            

Dst.

 

No.

Komponen Pembelajaran

(Dianalisis untuk tiap KD)

Strategi/Metoda

(Pilih yang sesuai)

 

Model

(Pendekatan dalam proses pengujian)

 

Pendekatan

(Pilih yang sesuai)

1.

Tujuan

(pencapaian suatu kompetensi)

   Ceramah

   Diskusi

   Kerja kelompok

   Belajar bebas

   Studi perpustakaan

   Menggunakan media

   Praktik / latihan

   Belajar di laboratorium

   Karyawisata

   Tutorial

   OJT (On the Job Training)

   Studi kasus

   Bermain game

   Aplikasi proyek

   Penugasan

 

Atau yang lain

 

·   CBSA

·   PAKEM

·   Kompetensi

·   Tematik

·   Terpadu

·   Cuantum Teaching Learning (CTL)

 

Atau yang lain

 

·    CBSA

·    Tematik

·    Kompetensi

·    Cuantum Teaching Learning (CTL)

·    Calistung

·    Libat

·    Iqro’

 

Atau yang lain

 

2.

Bahan pembelajaran

(Fakta, pengertian, prinsip, ketrampilan, sikap, apresiasi yang harus dikuasai) untuk membangun kecakapan majemuk.

3.

Peserta didik

(Jumlah, tingkat perkembangan fisik dan mental, tipe, gaya belajar)

4.

Masyarakat

(Nilai, keyakinan, kebutuhan)

5.

Guru

(Gaya, kepribadian)

6.

Sumber belajar

(Masyarakat, lingkungan)

7.

Fasilitas

(Sarana, alat, bahan, alat bantu, situasi ruang)

 

 

C.        Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi

 

Pendekatan kompetensi pada dasarnya menekankan pada kemampuan seseorang mengaktualisasikan perubahan perilaku sebagai hasil dari proses pendidikan dan pelatihan dengan mengacu pada suatu standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian pembelajaran berbasis kompetensi memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.

 

·               Tujuan pembelajaran jelas

·               Pembelajaran berfokus pada peserta didik

·               Menekankan pada penguasaan kompetensi

·               Menekankan pada pencapaian kinerja

·               Menggunakan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi cara belajar yang bervariasi

·               Pembelajaran dilakukan secara individual dan dilakukan dengan menggunakan modul

·               Memperhatikan kebutuhan dan kecepatan belajar peserta               didik secara individu

·               Media dan materi belajar didesain untuk membantu pencapaian kompetensi

·               Kegiatan pembelajaran memperhatikan kemudahan untuk dimonitor, sehingga memudahkan dalam pengaturan program

·               Kegiatan pembelajaran diadministrasikan secara disiplin

·               Memanfaatkan sumberdaya internal dan eksternal sekolah

·               Pembelajaran dapat dilakukan di dalam dan di luar sekolah

·               Melakukan penilaian hasil belajar untuk mendapatkan umpan balik

·               Penilaian dilakukan secara individu

·               Kemampuan peserta didik dalam menguasai kompetensi ditentukan dengan membandingkan standar yang berlaku

 

D.        Model-Model Pembelajaran dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi

 

Banyak ahli pendidikan telah melakukan pengembangan model pembelajaran. Setiap model memiliki fungsi sesuai dengan karakteristiknya. Biasanya model dikembangkan untuk kondisi dan situasi tertentu. Atas dasar itu, tidak setiap model dapat langsung efektif bila diimplementasikan pada kondisi dan situasi yang berbeda. Atas dasar itu, sebelum suatu model digunakan perlu dikaji dan dilakukan penyesuaian-penyesuaian terlebih dahulu agar dapat memberikan hasil pembelajaran yang optimal

 

Berikut ini, beberapa contoh model-model pembelajaran yang memiliki karakteristik sesuai dengan pembelajaran berbasis kompetensi. Model yang dimuat dalam materi Bimtek ini sekali lagi hanya sebagai contoh, sekolah sekolah dapat mengembangkan model-model pembelajaran lain yang lebih inovatif dan lebih banyak lagi. Semakin banyak alternatif model pembelajaran yang ada, sekolah akan lebih mampu mengakomodasi berbagai kepentingan pembelajaran.

 

Beberapa model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat diimplementasi pada proses  pembelajaran di SMK, sebagai contoh:

 

1.          Model Pembelajaran Normatif dan Adaptif

 

ARCS, .model pembelajaran yang menjadikan motivasi peserta didik sebagai komponen utama yang harus selalu dikondisikan agar pembelajaran dapat berjalan secara optimal. Semakin tinggi motivasi peserta didik semakin tinggi pula hasil belajar yang diharapkan. Karena itu seorang guru harus mampu menciptakan strategi meningkatkan motivasi peserta didik.

 

ARCS merupakan singkatan dari:

 

A (Atention), yaitu bahwa motivasi akan tumbuh jika peserta didik memiliki perhatian, Strategi pelaksanaan:

·               Gunakan metode bervariasi ( diskusi, bermain peran, simulasi,  demonstrasi, studi kasus, problem solving, dsb)

·               Gunakan media yang relevan

·               Gunakan humor jika perlu

·               Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan contoh untuk memperjelas konsep yang dipelajari

·               Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa

 

R (Relevance), motivasi akan tumbuh jika materi yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Strategi pelaksanaan:

·              Sampaikan apa yang dapat mereka lakukan setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, ( tujuan ).

·              Jelaskan manfaat materi yang dipelajari dikaitkan  dengan pekerjaannya kelak, (dapat membantu melaksanakan tugas dengan baik di kemudian hari ).

·              Berikan contoh, latihan, atau tes yang langsung berhubungan dengan kondisi peserta didikatau profesi tertentu.

 

C = Confidence, motivasi akan tumbuh jika setiap tahapan pembelajaran dapat memberikan rasa percaya diri bahwa peserta didik akan mampu mengikuti tahapan pembelajaran berikutnya. Strategi pelaksanaan:

·               Menyusun materi pembelajaran agar mudah dipahami, diurutkan dari yang mudah ke yang sukar.

·               Menyusun materi pembelajaran ke dalam bagian-baian yang lebih kecil, sehingga peserta didik tidak dituntut terlalu banyak memahami konsep baru sekaligus.

·               Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan cara menyampaikan tujuan dan kriteria tes/ujian, sehingga peserta didikmemiliki gambaran yang jelas.

·               Menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan peserta didiksendiri.

·               Menumbuhkan kepercayaan diri, misal: “Anda telah menguasai konsep dengan baik”

·               Memberikan umpan balik yang konstruktif.

S = Satisfaction, motivasi akan tumbuh dan berkembang jika setelah mempelajari materi, peserta didik mendapatkan kepuasan atas hasil belajarnya. Strategi Pelaksanaannya:

·              Gunakan pujian verbal dan umpan balik yang informatif, bukan ancaman/cemooh.

·              Berikan kesempatan kepada peserta didikuntuk segera menggunakan/mempraktikkan materi yang telah dipelajari.

·              Minta kepada peserta didikyang telah berhasil   untuk membantu teman-temannya.

·              Bandingkan prestasi peserta didikdengan prestasinya sendiri di masa lalu, bukan dengan peserta didikyang lain.

 

PAKEM, model pembelajaran yang menjadikan peserta didik lebih aktif, kreatif, pencapaian tujuan pembelajaran lebih efektif dan kondisi belajar lebih menyenangkan sehingga diharapkan hasil belajar akan lebih optimal. PAKEM merupakan singkatan dari :P = Proses pembelajaran, A = Aktif, K = Kreatif, E = Efektif,M = Menyenangkan

 

Model PAKEM memiliki ciri:

               Menekankan pada proses (pemecahan masalah)

               Membelajarkan peserta didik

               Cooperative learning

               Learner centered (terkonstruksi dari pikiran peserta didik sendiri)

               interaktif, investigatif, eksploratif, kegiatan terbuka, keterampilan proses dan pemecahan masalah.

               Memfokuskan pada pemahaman (learning of understanding).

               Authentic assessment (portofolio, jurnal, proyek, laporan siswa, penampilan ).

 

Model pembelajaran PAKEM menuntut guru harus selalu:

·               Memahami apa yang diajarkan

·               Mengajari peserta didik dan mengedepankan contoh konkrit.

·               Menghargai pekerjaan peserta didik

·               Memotivasil peserta didik.

·               Mengonstruksi tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

·               Kreatif mengembangkan silabus sehingga proses pembelajaran akan mudah diwujudkan.

·               Mengajari peserta didik dengan Problem Solving Skill.

·               Membaca dan mencoba berbagai model pembelajaran.

·               Mengajari peserta didik tentang “Belajar

·               Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memilih gaya belajarnya sendiri.

·               Mengontruksikan perangkat test yang valid.

 

Strategi :

Perencanaan

·              Memulai pertemuan dengan tujuan singkat dan pembuka selera.

·              Memulai pelajaran dengan pemberitahuan tujuan dan alasan, secara singkat.

·              Menyajikan pelajaran sedikit demi sedikit, beri kesempatan kepada peserta didik untuk memahaminya.

·              Memberikan petunjuk yang jelas setiap tugas.

·              Memeriksa pemahaman peserta didikdengan memberikan pertanyaan/latihan.

·               Beri kesempatan kepada peserta didikuntuk bekerja bersama.

 

Penyajian

·              Pemeriksaaan pemahaman kepada peserta didikdengan pemberian tugas.

·              Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.

·              Pada pembelajaran penguasaan konsep atau prosedur, peserta didik mengerjakan latihan terbimbing.

 

Penutup Pertemuan

·              Jika sisa waktu sedikit, berikan kesempatan kepada peserta didik untuk membuat ringkasan hasil belajar.

·              Jika sisa waktu agak banyak, berikan langkah-langkah penyelesaian tugas mandiri.

 

Penjelasan model tersebut diatas hanya merupakan contoh, dan masih  banyak model pembelajaran yang dapat dipilih dan dikembangkan, diantaranya:

 

Model Personal Conceptual

 

Pembelajaran yang mengarahkan atau membantu peserta didik  menemukan konsep pribadi yang harus dikembangkan  dalam masyarakat sehingga mengahsilkan perilaku yang fleksibel (luwes) tidak kaku, memiliki tenggang rasa yang tinggi serta dapat mengaktualisasi dirinya dengan baik. Langkah-langkah:

 

§    Mengidentifikasi maslalah(contoh: hidup dan kehidupan)

§    Mengumpulkan informasi hakekat dan tujuan hidup

§    Menganalisis tugas dan tanggung jawab terhadap diri sendiri

§    Menganalisis tugas dan tanggungjawab terhadap sesama

§    Aktualisasi diri (mempraktikkan dalam kehidupan).

Model Science Inquiry

 

Model Science Inquiry adalah model pembelajaran yang diarahkan untuk membantu peserta didik mengembangkan keterampilan intelektual yang terkait dengan penalaran sehingga mampu merumuskan masalah, membangun konsep dan hipotesis serta menguji untuk mencari jawaban melalui penelitian ilimiah. Langkah-Langkah:

·               Tahap satu, mengidentifikasi masalah

·               Tahap dua: mengumpulkan informasi yang dilihat dan dialami terkait dengan masalah 

·               Tahap tiga , mengelompokkan data

·               Memisahkan variabel-variabel yang relevan

·               Membuat hipotesa tentang hubungan-hubungan penyebab

·               Tahap empat, mengorganisasikan data dan memformulasikan suatu paparan

·               Tahap lima, menganalisa strategi inquiri dan mengembangkan model penemuan yang lebih efektif.

 

2.          Model Pembelajaran Produktif

 

·               Pembelajaran Berbasis Luas dan Mendasar

 

Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik agar memiliki dasar yang luas kuat dan mendasar. Dengan memiliki landasan yang kuat dan mendasar maka para peserta didik akan memiliki kemampuan analisis yang tajam dan komprehensif. Jadi sebelum peserta didik mempelajari mata pelajaran yang akan dipelajari, perlu diberikan pre-requisite test. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah peserta didik telah siap untuk memasuki materi berikutnya, atau dengan kata lain apakah materi-materi dasar yang  bersifat luas dan mendasar telah memberikan dasar yang cukup.

 

·                Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Pembelajaran memfokuskan pada apa yang dapat dilakukan peserta didiksebagai kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa. Pembelajaran kompetensi menempatkan peserta didiksebagai subyek belajar yang aktif merencanakan pembelajarannya, menggali dan mengintepretasi-kan materi pembelajaran yang diperlukan.

 

·               Pembelajaran berbasis Normatif dan Adaptif

Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik agar memiliki dasar normatif dan adaptif. Dengan memiliki landasan normatif dan adaptif yang kuat maka segala perilaku peserta didik akibat proses pembelajaran yang dialaminya akan selalu mempertimbangkan norma-norma yang berlaku dan memiliki kemampuan adaptabilitas yang tinggi sehingga peserta didik dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan yang terjadi di lapangan.

 

·             Pembelajaran berbasis Produksi

Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik agar setiap proses pembelajaran yang dialaminya mampu menghasilkan produk/jasa.

 

·               Pembelajaran di Dunia Kerja

Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik dapat meningkatkan kompetensinya melalui dunia kerja. Pembelajaran di dunia kerja ini, peserta didik harus melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan persyaratan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

 

·              Pembelajaran berwawasan Lingkungan

Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan sebagai cerminan perilaku yang rasional dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Disamping itu agar peserta didik memiliki sikap profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan Iptek dan tuntutan pembangunan berkelanjutan.

 

·             Pendekatan Projeck Work

Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa), melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya.

 

·              Quantum Teaching and Learning (QTL)

Pembelajaran yang digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. Filosofi pendekatan pembelajaran Quantum dikenal dengan istilah TANDUR yang merupakan kepanjangan dari :

 

T

=

Tumbuhkan, tumbuhkan minat dengan menunjukkan manfaat dari kompetensi yang dipelajari terhadap kehidupan peserta didik.

A

=

Alami, ciptakan dan berikan pengalaman langsung yang dapat dimengerti oleh peserta didik.

N

=

Namai, berikan kata-kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, untuk mudah diingat dan dipahami.

D

=

Demonstrasikan, sediakan waktu dan kesempatan bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan yang diperoleh selama proses pembelajaran

U

=

Ulangi, tunjukkan kepada peserta didik cara mengulangi materi dan tegaskan bahwa “Aku mampu bahwa aku memang mampu”

R

=

Rayakan, akui hasil belajar peserta didik, baik dalam bentuk penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan ataupun ilmu pengetahuan dan beri penghargaan

 

 

·             Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pembelajaran yang holistik dan bertujuan memotivasi peserta didikuntuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga peserta didikmemiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

 

Langkah-langkahnya:

1.          Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2.          Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik

3.          Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya.

4.          Ciptakan masyarakat belajar.

5.          Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6.          Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

7.           Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.

 

Pembelajaran berbasis produksi

Model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa sehingga mampu mengarahkan kepada peserta didik untuk dapat menghasilkan suatu produk barang atau jasa. Langkah-langkah:

 

·               Menyusun rencana (jasa/produk apa yang akan dibuat).

·               Menyusun peta proses produksi

·               Menyusun proses operasi/kegiatan produksi.

·               Melaksanakan kegiatan produksi.

·               Memeriksa hasil kerja (meneliti atau mengukur dsb).

·               Menguji produk (fungsi produk) .

·               Menguji kapasitas (jika diperlukan).

 

Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Pembelajaran yamg mengarahkan kepada peserta didik untuk dapat menguasai kompetensi sebagaimana dipersyaratkan dunia kerja. Pembelajaran berbasis kompetensi (competency-based training), diharapkan peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar yang dapat mengembangkan potensinya masing-masing untuk menguasai secara tuntas (mastery) tahap demi tahap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajarinya, tanpa harus dibebani oleh hal-hal yang tidak terkait dengan penguasaan kompetensi tersebut. Langkah-langkah :

 

·               Menyusun materi pembelajaran agar mudah dipahami, diurutkan dari yang mudah ke yang sukar.

·               Menyusun materi pembelajaran ke dalam bagian-baian (unit/topik) yang lebih kecil, sehingga peserta didiktidak dituntut terlalu banyak memahami konsep baru sekaligus.

·               Menyampaikan tujuan dan kriteria tes/ujian, sehingga peserta didikmemiliki gambaran yang jelas.

·               Materi disampaikan setiap unit (modular system), setelah peserta didik menguasainya baru boleh melanjutkan ke topik/unit berikutnya.

·               Menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan peserta didiksendiri.

·               Memberikan umpan balik yang konstruktif.

 

Pendekatan Projeck Work

 

Model Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa), melalui proses produksi/ pekerjaan yang sesungguhnya. Model pembelajaran ini dilakukan secara terprogram dalam rangka mengukur dan menilai ketercapaian kompetensi secara kumulatif. Teknik pelaksanaanya biasanya diberikan kepada peserta didikpada semester akhir. Langkah-langkah :

 

Guru

·               Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

·               Menyampaikan strategi pembelajaran dengan pendekatan project work

·               Menyampaikan alternatif judul/nama produk/jasa yang dapat dipilih peserta.

·               Menyampaikan ruang lingkup standar kompetensi yang akan dipelajari oleh peserta didik dalam setiap judul/nama produk/jasa

·               Menyusun dan menetapkan pedoman penilaian kompetensi sesuai dengan judul project work

·               Memfasilitasi bimbingan kepada peserta didik dengan memanfaatkan lembar bimbingan.

 

Peserta didik

·               Menganalisis kondisi lingkungan/masyarakat.

·               Menganalisis kebutuhan lingkungan/masyarakat.

·               Menganalisis sumberdaya yang ada.

·               Melakukan penyusunan proposal usaha/proyek.

·               Melakukan persiapan usaha (memuat pembuatan desain, peta proses produksi, perencanaan produksi/prosedur kerja, cara pengujian).

·               Melaksanakan usaha sesuai dengan prosedur kerja yang direncanakan dan dalam pengawasan/penilaian pembimbing.

·               Mengorganisasikan bukti belajar (evidence of learning) sebagai portfolio.

·               Melaksanakan kegiatan kulminasi.

·               Membuat laporan sesui dengan pengalaman belajar yang dialami.

 


TUGAS

 

 

Peserta diklat diberi tugas mengidentifikasi dan menganalisis SK/KD, lalu memilih salah satu KD sebagai bahan untuk membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran, melalui prosedur :

1.     Analisis Materi Pembelajaran (format 1)

2.     Analisis Pengembangan Model Pembelajaran (format 2)

 

Selanjutnya peserta diklat dipersilakan untuk memilih atau menentukan model pembelajaran sekaligus menuliskan strategi/skenarionya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s