Tag Archive | proposal PTK Teknik Otomotif

Proposal PTK SMK

Proposal PTK Teknik Otomotif

Penulis : Arif Harianto, S.Pd ( Guru SMK Negeri 2 Sungai Penuh)

Judul : Peningkatan Hasil Belajar Kompetensi Menggunakan Alat-Alat UkurMelalui Penerapan Model Belajar Contextual Teaching and        Learning (CTL) Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1 SMK Negeri 2 Sungai Penuh Propinsi Jambi”.

BAB  I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

  Standar Kompetensi Menggunakan Alat-Alat Ukur merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki siswa SMK dari Program Studi Keahlian Teknik Otomotif dengan tujuan agar siswa memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menggunakan dan memelihara alat ukur yang benar. Standar kompetensi yang ditargetkan adalah siswa mampu menggunakan dan memelihara alat ukur dengan benar sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Namun kondisi di lapangan masih jauh dari kompetensi yang diharapkan, sebagian besar siswa masih kesulitan dalam menggunakan dan memelihara alat ukur. Hal ini terlihat dari banyaknya kesalahan siswa dalam menggunakan alat ukur dan membaca hasil pengukuran pada saat proses belajar praktik pemeriksaan komponen-komponen mesin. Banyak siswa menyatakan belum bisa menggunakan alat ukur dan membaca hasil pengukuran sehingga berdampak pada kemampuan dan hasil belajar siswa.

1

Hal tersebut terlihat dari rendahnya hasil belajar (nilai) siswa baik dalam ujian teori maupun praktik, yakni nilai hasil ujian kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1  SMK Negeri 2 Sungai Penuh  Semester 1 Tahun Pelajaran 2010/2011 hanya +  50 % siswa memperoleh nilai > 7,00 seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini .

Tabel 1.Persentase Nilai Ujian Siswa pada Kompetensi Menggunakan

             Alat-Alat Ukur Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan (TKR)

             SMK Negeri2 Sungai Penuh Tahun Pembelajaran 2010/ 2011

No

Kelas

Jumlah

Siswa

Penyebaran nilai siswa ( % )

< 7, 00

> 7,00

1

X TKR 1

40

23

57,50%

17

42,50%

2

X TKR 2

40

25

62,50%

15

37,50%

Sumber ( Arsip data nilai guru otomotif SMKNegeri 2 Sungai Penuh)

 Berdasarkan tabel 1 di atas, terlihat bahwa nilai ujian kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur masih banyak (>50%) berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan  yaitu 7,00.

 Pada saat pelaksanaan proses pembelajaran di kelas guru telah menerapkan metode pembelajaran demontrasi dengan memperagakan penggunaan alat ukur. Tetapi dalam pelaksanaan metode tersebut belum sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menggunakan dan memelihara alat ukur yang berdampak pada hasil belajar. Banyak siswa menyatakan belum bisa menggunakan alat ukur dan membaca hasil pengukuran. Padahal para siswa juga mengetahui bahwa kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur ini merupakan salah satu prasyarat untuk mengikuti kompetensi selanjutnya.

 Berdasarkan asumsi penulis, rendahnya hasil belajar dan kemampuan siswa dalam MenggunakanAlat-Alat Ukur disebabkan beberapa faktor, yaitu kurangnya motivasi dan aktifitas siswa dalam belajar baik dalam belajar teori maupun praktik di bengkel, di mana dalam proses pembelajaran lebih banyak didominasi oleh guru.

 Guru lebih banyak menyajikan materi dengan metode ceramah, siswa mendengar dan mencatat ringkasan materi yang diberikan guru. Dalam menjelaskan materi yang berhubungan keterampilan seperti pada materi cara menggunakan alat ukur, guru hanya mendemontarsikannya di depan kelas dan siswa hanya memperhatikan. Selama proses pembelajaran siswa lebih banyak pasif. Walaupun guru telah memberikan kesempatan untuk bertanya mana materi yang belum mengerti, tetapi tetap saja siswa malas bertanya langsung pada guru. Berdasarkan pengamatan, siswa lebih berani bertanya kepada temannya yang pandai dan mempunyai kemampuan akademik yang baik.

 Oleh sebab itu, diharapkan guru mampu mencari solusi dari permasalahan di atas dan mampu memfasilitasi siswa untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan sesama temannya, berpikir kritis dalam menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga siswa dapat menguasai kompetensi yang diajarkan.

 Berdasarkan permasalahan di atas, maka dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang cocok agar pembelajaran kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur lebih berkualitas dan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

 Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah di atas adalah dengan menerapkan model belajar Contextual Teaching and Learning (CTL).Penerapanmodel belajar Contextual Teaching and Learning (CTL) diharapkan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa baik secara individual maupun klasikal.

Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul  Peningkatan Hasil Belajar Kompetensi Menggunakan Alat-Alat UkurMelalui Penerapan Model Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL) Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1 SMK Negeri 2 Sungai Penuh Propinsi Jambi”.

B.   Indentifikasi Masalah

   Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dikemukakan beberapa identifikasi masalahnya, yaitu sebagai berikut :

  1. Siswa kurang aktif dalam belajar.
  2. Siswa kurang motivasi dalam belajar.
  3. Proses pembelajaran praktik kurang optimal.
  4. Interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran kelompok belum dikembangkan secara optimal.
  5. Hasil belajar siswa pada kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur rendah.

C. Batasan Masalah

         Berdasarkan identifikasi masalah, maka masalah yang dibahas dalam penelitian ini dibatasi pada hasil belajar siswapada kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur melalui penerapan Model Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL) siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1 SMK Negeri 2 Sungai Penuh Propinsi JambiSemester Ganjil Tahun Pelajaran 2011-2012.

D. Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalahnya adalah: “Apakah dengan Menerapkan Model Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL)dapat Meningkatkan Hasil Belajar Kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1 SMK Negeri 2 Sungai Penuh Propinsi Jambi ?”

E.  Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian Tindakan ini adalah untuk memperoleh informasi peningkatan hasil belajar siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 2 Sungai Penuh dengan menggunakan Model Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL)pada pembelajaran kompetensi Menggunakan Alat-Alat Ukur. Hasil akhir yang diharapkan adalah agar hasil penelitian  dapat:1) Meningkatkan aktifitas siswa dalam belajar; 2) Meningkatkan hasil evaluasi belajar siswa; 3) Meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran dikelas maupun di bengkel.

F.   Manfaat Penelitian

            Setelah penelitian ini dilaksanakan, maka Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah antara lain:

      1.   Bagi Siswa

a.       Untuk dapat belajar lebih aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.

b.      Memiliki rasa setia kawan, kerjasama dan tanggung jawab.

c.       Membantu siswa dalam meningkatkan kemampuannya menggunakan dan memelihara alat ukur.

d.      Memperoleh nilai ujian minimal 7,00 (sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal).

  1. Bagi Guru

a.       Meningkatkan kreatifitas guru.

b.      Dapat menyusun suatu strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.

c.       Meningkatkan kinerja guru.

      3.   Bagi Sekolah

                    Sebagai bahan masukan mengambil kebijakan terutama dalam menyediakan fasilitas belajar yang lebih baik, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

BAB  II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.  Kajian Teoritis

            Dalam kajian teoritis ini akan dibahas tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model belajar Contextual Teaching and Learning (CTL)  pada kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur   

  1. Tinjauan Tentang Belajar dan Hasil Belajar

 

a.      Hakikat Belajar

 

         Pembelajaran meliputi dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Belajar  mengacu pada kegiatan siswa sedangkan mengajar mengacu  pada kegiatan guru. Belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Pengertian belajar ini para ahli psikologi pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

7

MenurutAhmadi (2005:17)“Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi.” Sedangkan menurut Usman (1999:5) “Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya.”

        Walaupun terdapat perbedaan rumusan pengertian belajar, namun pada hakekatnya pendapat di atas mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.

                     Menurut Depdiknas (2008:3) menjelaskan ciri-ciri belajar, yaitu:

1)        Pelakunya adalah siswa yang bertindak belajar atau pembelajar.

2)        Tujuan belajar adalah memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup.

3)        Prosesnya terjadi secara internal pada diri pembelajar.

4)        Tempat belajar di sembarang tempat.

5)        Lama belajar sepanjang hayat.

6)        Syarat terjadinya belajar yaitu ada motivasi belajar yang kuat.

7)        Ukuran keberhasilan dari belajar adalah dapat memecahkan masalah.

8)        Faedah belajar bagi pembelajar adalah dapat mempertinggi martabat pribadi.

9)        Hasil belajar adalah dampak yang diperoleh dari pengajar

         Menurut Hamzah (2009:1) “Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan”. Sedangkan Menurut Suryosubroto (1997:19) ”Proses pembelajaran meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran.”

        Selanjutnya Winkel dan Paulina (2001:24) “Pembelajaran sebagai aktivitas mental dan fisik  yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, menghasilkan perubahan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap, bersifat tetap dan membekas.” Pembelajaran bukan proses pemindahan pengetahuan melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membentuk  pengetahuan, mengkonstruksi makna secara jelas dan kritis dalam menghadapi fenomena baru dan menemukan cara-cara pemecahan permasalahan.

         Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran  adalah suatu kegiatan atau proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik untuk mencapai tujuan tertentu.

b.      Hakikat Hasil Belajar

   Hasil belajar diperoleh melalui kegiatan guru yang terkait dengan  pengambilan keputusan melalui penilaian kelas. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan hasil belajar yang akan dinilai. Dari hasil belajar diperoleh profil kemampuan siswa dalam mencapai sejumlah kompetensi dasar. Untuk mengetahui penguasaan setiap siswa terhadap mata pelajaran tertentu maka perlu dilaksanakan evaluasi. Dari hasil evaluasi itulah akan dapat diketahui kemajuan siswa.
Menurut Winarno ( 1986 : 88 ) “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”. Kemampuan siswa dalam menguasai konsep pengetahuan yang disampaikan oleh guru akan bervariasi hal ini dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh oleh siswa melalui penilaian. Selanjutnya Hamzah (2009:139) ”Hasil belajar biasanya mengikuti pelajaran tertentu yang harus dikaitkan dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.” Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hal yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi pelajaran.        Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hal yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi pelajaran.

 

2.      Tinjauan Tentang Kompetensi MenggunakanAlat-Alat Ukur

 

a.      Hakikat Kompetensi

 

        Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. McAshan dalam Mulyasa (2004 : 45) mengemukakan bahwa kompetensi:

‘… is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviours”.

 

Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, efektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu, Finch dan Crunkilton dalam Mulyasa (2004: 222) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh siswa untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan (link) antara tugas-tugas yang dipelajari siswa di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja. Untuk itu, kurikulum menuntut kerja sama yang baik antara pendidikan dengan dunia kerja, terutama dalam mengidentifikasi dan menganalisis kompetensi yang perlu diajarkan kepada siswa di sekolah.

        Kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman langsung.Siswa perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dan memiliki kontribusi terhadap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajari. Penilaian terhadap pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja siswa, dengan bukti penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap sebagai hasil belajar. Dengan demikian dalam pembelajaran yang dirancang berdasarkan kompetensi, penilaian tidak dilakukan berdasarkan pertimbangan yang bersifat subyektif.

        Dalam materi pelatihan KTSP dijelaskan bahwa ”Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki siswa” (Depdiknas : 2008). Berkaitan dengan perumusan tersebut, maka kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikator yang dapat diukur dan diamati.

         Berdasarkan batasan pengertian kompetensi belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi Menggunakan Alat-Alat Ukur adalah hasil yang telah dicapai siswa melalui suatu kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan secara individu maupun dan secara kelompok.Tujuan pembelajaran kompetensi Menggunakan Alat-Alat Ukur adalah agar siswa memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menggunakan dan memelihara alat ukur dengan benar. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka proses pembelajaran kompetensi Menggunakan Alat-Alat Ukur dalam tahapan-tahapan sebagai berikut ; (1) kegiatan belajar pengetahuan yaitu siswa mempelajari tentang mengidentifikasi alat-alat ukur, cara menggunakan alat-alat ukur dan merawat alat-alat ukur.(2) Kegiatan pembelajaran praktik,  siswa belajar menggunakan alat-alat ukur mekanik, menggunakan alat-alat ukur pneumatic, menggunakan alat-alat ukur elektrik/elektronik dan merawat alat-alat ukur.Keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi proses pembelajarannya. Proses pembelajaran terjadi ketika ada interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa, karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik.

b.      Menggunakan Alat-Alat Ukur

        Alat ukur merupakan peralatan yang sangat penting dalam pemeriksaan/perawatan pengukuran kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua.Alat ukur terdiri dari alat ukur mekanis, alat ukur pneumatic dan alat ukur elektronis.Alat ukur pneumatic adalah alat ukur yang bekerja karena pengaruh tekanan ataupun karena adanya perbedaan tekanan pada gas, udara dan zat lain.Sedangkan alat ukur elektronis merupakan salah satu alat ukur yang bekerja atas dasar arus yang mengalir.

1)      Alat-alat Ukur Mekanis

a)      Jangka Sorong (Vernier caliver/Mistar geser)

 

                              

 

               Gambar 2.1  Jangka Sorong (Vervier caliper/Mistargeser)

Jangka Sorong atau Vernier caliver digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam dan mengukur kedalaman ketelitiannya adalah 0,05 mm, 0,02 mm dan 0,1 mm.

b)      Dial Indikator

Fungsi Dial Indikator:

v  Mengukur permukaan bidang datar.

v  Mengukur kebulatan sebuah poros

v  Mengukur kerataan dinding silinder

Berdasarkan batas ukurnya Dial gauge terbagi atas :

v  Dial gauge ketelitian 0,01 mm è Batas ukur s/d = 10 mm

v  Dial gauge ketelitian 0,001 mm è Batas ukur s/d = 1 mm

v  Dial gauge ketelitian 0,0005 mm è Batas ukur s/d = 0,25 mm

                

                Gambar 2.2 Dial Indikator

c)      Silinder Bore Gauge

        Fungsi silinder bore gauge adalah untuk mengukur garis tengah bagian dalam dari sebuah benda kerja, seperti: Cylinder, lubang dudukan poros dan lain-lain.

 

                     

 

              Gambar 2.3 Silinder Bore Gauge

d)     Mikrometer

FUNGSI :

v  Mengukur benda kerja dengan lebih teliti (presisi) pada bagian luar, bentuk kubus, persegi panjang, bujur sangkar atau bulat (Out Side Micrometer).

v  Mengukur benda kerja dengan lebih teliti (presisi) pada bagian dalam, bentuk pipa bulat, segi empat dll (Inside Micrometer)

                              Micrometer dibagi menjadi dua macam:

vOutside micrometer: mengukur diameter luar.

vInside micrometer: mengukur diameter dalam

Kedua alat ini memiliki ketelitian 0,01 mm, satu putaran thimble terdiri dari 50 strip (0,5 mm)

http://www.mitutoyo.co.jp/jpn/syouhin/image/shohin/M200-1.gif200-1000mm measuring range model (Series 337)

Gambar 2.4 Mikrometer luardan mikrometer dalam

2)      Alat-Alat Ukur Pneumatic

a)      Tire gauge : Fungsinya untuk mengukur tekanan angin ban Satuan ukuran dalam “ Psi “ atau Bar

                          KF2-24L Tire Gauge

                        Gambar 2.5 : Pengukur tekanan angin ban

b)     Compression Tester

Berfungsi untuk mengukur tekanan kompresi yang terjadi di dalam silinder Satuan ukuran dalam “ Psi “ atau Kg/cm2.

                              

               Gambar 2.6 Compression Tester

c)      Fuel Pressure Tester dan Vacum Tester

Alat ukur tekanan dan kevacuuman digunakan untuk menguji kevacuuman pada saluran masuk sebuah engine atau besarnya tekanan pompa bahan bakar.

                                                

 Gambar 2.7 Fuel Pressure Tester dan Vacum Tester

d)     Kunci Momen (Tension wrench)

Berfungsi untuk mengencangkan baut atau mur  sesuai dengan torsi/momen tertentu. Satuan ukuran dalam Kg.m atau N.m

              

                      Gambar 2.8 : Kunci Momen

e)      Hidrometer

Berfungsi untuk melakukan pengukuran berat jenis battery

                                                      DSCN1781

                            Gambar 2.9 : Hidrometer

3)      Alat-Alat Ukur Elektrik / Elektronik

a)      Multitester

Fungsi dan Konstruksi

P1010021

Multi tester adalah alat pengetes  kelistrikan. Penggunaannya untuk mengukur tegangan DC dan AC, tahanan dan arus DC dan AC. Multi tester dibagi menjadi dua yaitu tipe digital dan tipe analog.

 

                                        Gambar 2.10 : Multitester

b)      Engine Tune Up Tester

Tune up tester adalah alat yang berfungsi untuk memeriksa breaker point, dwell angle, putaran mesin (rpm), tegangan battery, sistem pengisian dan kevakuman dari intake manifold.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.11 Engine Tune Up tester

3.      Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

        Sistem pembelajaran saat ini masih dominan dengan istilah belajar yang diartikan sebagai kegiatan-kegiatan berupa duduk, dengar, catat kemudian pulang untuk dihapal. Melihat kondisi yang demikian, siswa akan merasakan kejenuhan yang berkepanjangan. Untuk menghindari dan mengantisipasi kejenuhan itu, maka perlu adanya pembentukan konsep penting yang harus dilaksanakan dalam praktik pembelajaran. Salah satu di antaranya adalah pembelajaran kontektual atau Contextual Teaching and Learning (CTL).

a.      Pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL)

        Yang dimaksud dengan Pembelajaran kontekstual menurut Best (2001) adalah: Contextual Learning :

“A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers.”  

 

          Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan salah satu model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan implementasi kurikulum berbasis kompetensi. Menurut Nurhadi (2004:103) menyatakan bahwa :

“Pendekatan CTL adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi  dunia nyata  siswa dan juga  mendorong siswa membuat hubungan  antara pengetahuan  yang dimilikinya dan diterapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. “

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan suatu konsep yang membantu guru-guru menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia nyata (real world) dan memotivasi siswa untuk lebih memahami hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerja. Guru sebagai fasilitator lebih banyak mengembangkan strategi pembelajaran dibanding mengajar atau memberi informasi, mengelola kelas sebagai tim bekerja untuk menemukan sesuatu yang berguna bagi anggota tim (siswa).  Guru mendorong kegiatan pembelajaran agar siswa mengkonstruksi  pengetahuan,  ketrampilan, dan sikap dengan cara menemukan sendiri  (inquiry). Siswa didorong  untuk membentuk masyarakat belajar (learning community) selalu aktif  bertanya (questioning), kreatif, menggunakan waktu secara efektif, efesien dalam suasana hati yang menyenangkan.

b.      Karakteristik Pembelajaran CTL

1)   Kerjasama

2)   Saling menunjang

3)   Menyenangkan

4)   Tidak membosankan

5)   Belajar dengan bergairah

6)   Pembelajaran terintegrasi

7)   Menggunakan berbagai sumber

8)   Siswa aktif

   Guna mewujudkan model pembelajaran CTL yang memiliki  karakteristik seperti di atas,  seorang guru perlu mengkondisikan dan mempersiapkan materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta mengkaitkannya dengan realitas dan kebenaran (kontruktivisme).  Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru sebagai pengajar adalah:

1)     Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.

2)     Mengajar berarti berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis, mengadakan justifikasi.

3)     Guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik, sehingga proses belajar lebih ditekankan pada siswa yang belajar.

c.       Komponen CTL

1)   Inquiry  (merumuskan masalah)

Bagaimanakah cara melukiskan suasana kerja di suatu unit kerja.   Dapat dilakukan antara lain dengan melakukan:

a)      Mengamati atau melakukan observasi

b)      Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan atau gambar.

c)      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.

2)        Questioning ( bertanya)

                Questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru atau antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. Bisa juga dilakukan saat berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika mengamati atau ketika menemui kesulitan.

3)        Konstruktivisme

        Merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja praktek

mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan atau menciptakan ide.

4)        Learning Community (masyarakat belajar)

        Dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam pembelajaran dan materi yang akan diberikan, antara lain pembentukan kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat atau bekerja dengan kelas di atasnya, serta bekerja dengan masyarakat di lingkungan sekolah.

5)        Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya)

         Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan hanya hasil.Menilai pengetahuan dan keterampilan (performansi) yang diperoleh siswa.Penilai tidak hanya oleh guru, tetapi juga bisa teman atau orang lain.Karakteristik Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung,  bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.Yang diukur pengetahuan dan keterampilan, bukan mengingat fakta, tetapi berkesinambungan, terintegrasi dan dapat digunakan sebagai feed back.

6)        Modeling (permodelan)

        Guru bukan satu-satunya model, tetapi bisa juga model dari siswa yang memiliki suatu kelebihan untuk mendemonstrasikan kemampuannya atau dari pihak luar yang bertindak sebagai native speaker.

7)        Reflection (refleksi)

        Bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang sudah diketahui, dan hal-hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Realisasinya dapat berupa:

a)      Pernyataan langsung tentang apa yang diperolehnya hari itu.

b)      Catatan atau jurnal siswa.

c)      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu.

d)     Diskusi.

e)      Hasil karya.

d.      Konsep Model Pembelajaran CTL

   Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada siswa, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.

  Secara garis besar penerapan pendekatan dalam belajar memiliki 7 (tujuh) langkah sebagai berikut (Nurhadi, 2002: 10):

1)      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri membangun pengetahuan dan keterampilan barunya.

2)      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri pada semua topik.

3)      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan cara bertanya.

4)      Ciptakan masyarakat belajar (belajar kelompok).

5)      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6)      Lakukan refleksi pada akhir pertemuan.

7)      Lakukan penilaian dengan berbagai cara.

Menurut (Nurhadi, 2002:5) Dalam konsep pendekatan CTL ada 3 (tiga) unsur yang harus dipahami yaitu:

1)      CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara sadar. Proses belajar dalam CTL tidak mengharapkan siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

2)      CTL mendorong siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata akan memberikan makna secara fungsional serta akan lama tertahan dalam memori siswa sehingga materi yang telah dipelajari tidak akan mudah terlupakan.

3)      CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi itu mewarnai prilaku dalam kehidupan sehari-hari.

   Pembelajaran kontekstual mendorong siswa memahami hakikat makna dan manfaat belajar sehingga mereka akan rajin belajar dan termotivasi untuk senantiasa belajar. Selama pembelajaran, guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan belajar yang kondusif agar terjadi keberhasilan pembelajaran sesuai yang diharapkan.

         Pelaksanaan model pembelajaran  CTL, dilaksanakan dengan langkah sebagai berikut :

1)      Mengkaji konsep atau teori (materi ajar) yang akan dipelajari oleh siswa.

2)      Memahami latar belakang,  dan prediksi pekerjaan dimasa mendatang bagi siswa.

3)      Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan latar belakang,  dan prediksi pekerjaan yang akan ditekuni  dimasa depan bagi siswa.

4)      Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengkaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman sebelumnya dan fenomena kehidupan sehari-hari, serta mendorong siswa untuk membangun kesimpulan yang merupakan pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang dipelajarinya.

5)      Melakukan penilaian autentik (authentic assessment) yang memungkinkan siswa untuk menunjukkan penguasaan tujuan dan pemahaman yang mendalam terhadap pembelajarannya, sekaligus pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan dan menemukan cara untuk peningkatan pengetahuannya. (Depdiknas (2003:17).

B.  Kerangka Konseptual

Secara grafis pemikiran yang dilakukan peneliti dapat digambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut :

Diagram 1. Kerangka Berpikir

 

      Deskripsi kerangka berpikir:

1.      Kondisi awal, guru  belum memanfaatkan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada kegiatan pembelajaran. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kelompok, dengan metode-metode: ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan diskusi. Hasilnya, banyak siswa yang masih mengalami kesulitan dalam memahami kompetensi Menggunakan Alat-alat Ukur sehingga hasil belajar masih rendah.

2.      Agar semua siswa dapat aktif dalam proses pembelajaran dan kualitas pembelajaran meningkat , maka perlu tindakan yang harus dilakukan oleh guru, yaitu dengan menerapkan pendekatan model belajar  Contextual Teaching and Learning (CTL)dalam proses pembelajaran.

3.      Pada Siklus 1: guru memanfaatkan pendekatan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada kegiatan pembelajaran. Adapun wujud pengalaman nyata untuk siswa, diberikan melalui metode belajar kelompok (learning community), metode pemodelan denagn tahapan-tahapan skenario pembelajarannya.

4.      Pada Siklus 2: guru memanfaatkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada kegiatan pembelajaran. Adapun wujud pengalaman nyata untuk siswa, difokuskan melalui metode inkuiri, belajar praktik langsung  menggunakan media konkrik dan bermodel teman sejawat. Materi pelajaran yang dipelajari sesuai modul.

5.      Dari kondisi siklus 1 ke siklus 2 diharapkan hasil belajar siswa pada kompetensi Menggunakan alat-alat ukur meningkat.

6.      Pada kondisi akhir, diduga melalui pemanfaatan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas X  Teknik  Kendaraan  Ringan 1 SMK  Negeri 2 Sungai Penuh pada kompetensi Menggunakan alat-alat ukur.

B.  Hipotesis Tindakan

 

         Melalui Penerapan  Model Belajar  Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat peningkatan Hasil Belajar Kompetensi Menggunakan Alat-Alat Ukur  Siswa  Kelas X  Teknik  Kendaraan  Ringan 1 SMK  Negeri 2 Sungai PenuhPropinsiJambi.


BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Setting Penelitian

         Uraian tentang setting penelitian meliputi rincian waktu yang dialokasikan untuk penyelenggaraan/pelaksanaan penelitian, dan informasi tentang tempat diselenggarakannya penelitian tindakan ini.

1.      Tempat Penelitian

         Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas X Teknik Kendaraan Ringan  1 SMK Negeri 2 Sungai Penuh dengan jumlah siswa 36 orang, karena kelas tersebut tingkat kemampuannya rata-rata sedang dan peneliti  mengajar dikelas tersebut.

2.      Lokasi Penelitian

            Nama sekolah              : SMK Negeri 2 Sungai Penuh

            Alamat                                    : Jl. Raya Kayu Aro KM. 03 Sungai Penuh

            Kecamatan                  : Pesisir Bukit

            Kabupaten/Kota          : Kota Sungai Penuh

            Provinsi                       : Jambi

            Telpon/ Fax                 : (0748) 21070/ (0748) 21070)

3.      Waktu Penelitian

303

Penelitian ini  direncanakan selama 2 (dua ) bulan yaitu pada bulan Januari sampai dengan  bulan Februari 2011 tepatnya pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012. Waktu penelitian ini  sesuai dengan program pembelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan Teknik Kendaraan Ringan  yang telah ditetapkan pada Kurikulum Program Studi Keahlian Teknik Otomotif SMK Negeri 2 Sungai Penuh Semester Genap tahun pelajaran 2011/2012 dengan kompetensi yang diajarkan saat itu adalah Menggunakan Alat-Alat Ukur.

B.  Subjek Penelitian 

         Subjek penelitian adalah siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1 SMK Negeri 2 Sungai Penuh dengan jumlah siswa 36 orang  laki-laki dengan tingkat kemampuan  rata-rata sedang.

 

C.  Sumber Data

        Data primer, yang merupakan hasil belajar siswa, diperoleh dari subyek penelitian, yaitu seluruh siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan 1 tahun pelajaran  2011/2012 dengan jumlah siswa 36 orang, sedangkan data sekunder diperoleh dari temuan guru lain yang menjadi team teaching dalam proses pembelajaran di kelas tersebut.

D.  Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

1.      Teknik Pengumpul Data

        Pada penelitian ini, teknik pengumpul data yang digunakan adalah: teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes digunakan ketika pengumpulan data tentang tingkat pemahaman kognitif siswa. Sedangkan teknik non tes digunakan sebagai sarana pengumpulan data tentang perubahan sikap/ perilaku yang terjadi.

2.      Alat Pengumpulan Data

         Saat pengumpulan data dengan teknik tes, alat yang digunakan adalah soal tes, sedangkan ketika pengumpulan data dengan teknik non tes, alat yang digunakan adalah lembar/pemandu observasi.

E.     Validasi data

         Untuk data kuantitatif, ditetapkan untuk dilakukan validasi teoritik, dengan cara memeriksa instrumen dan kisi-kisi yang telah di buat. Sedangkan untuk data kualitatif, dilakukan validasi melalui triangulasi, baik triangulasi sumber maupun trianggulasi metode.

F.     Analisis Data

        Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan deskriptif komparatif, yaitu membandingkan  nilai tes pada kondisi awal, nilai tes setelah siklus 1, dan nilai tes setelah siklus 2. Sedangkan data hasil observasi dianalisis secara deskriptif kualitatif.

         Analisis data bertujuan untuk melihat apakah terdapat peningkatan hasil belajar. Dalam analisis nilai digunakan rumus :

      Rata-rata hitung :    

      Keterangan :             rata-rata  tes

                                  nilai peserta tes

                                       N = Banyak peserta tes

 

 

G.    Indikator Kinerja

         Indikator Keberhasilan dengan menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan  dalam  KTSP Teknik Otomotif SMK Negeri 2 Sungai Penuh tahun pelajaran  2011, yaitu :

1.         Siswa dikatakan tuntas belajar secara individu, jika siswa     tersebut telah menguasai 70% dari materi yang diuji.

2.         Siswa dikatakan tuntas secara klasikal bila 85% dari seluruh pengikut tes sudah menguasai 70% dari materi yang diujikan.

 

H.    Prosedur Penelitian

        Berdasarkan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Penelitian ini dilakukan dengan prosedur yang mengacu pada langkah-langkah sebagai berikut, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (refecting).

1. Persiapan penelitian tindakan

            Adapun persiapan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi :

a.       Guru peneliti membuat perangkat pembelajaran, yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan menyusun modul pembelajaran. Untuk mengetahui RPP dan Modul sudah valid dan layak pakai maka RPP dan modul dibahas bersama guru mitra team teching dan mitra kolaborasi yang juga mengajar kompetensi yang sama.

b.      Mempersiapkan job sheet yang akan digunakan pada saat proses belajar praktik di bengkel. Job sheet diberikan kepada siswa sebagai panduan siswa  dalam melakukan kegiatan praktik

c.       Mempersiapkan instrumen pengumpulan data untuk mengukur kesiapan siswa dalam belajar dan untuk mengetahui proses pembelajaran di kelas dan di bengkel, yaitu lembar observasi aktifitas siswa.

d.      Mempersiapkan sumber-sumber, alat dan bahan yang digunakan saat proses pembelajaran di kelas/bengkel.

e.       Mempersipkan perangkat penilaian yaitu; format penilaian unjuk kerja (praktik), penilaian ujian teori dan kisi-kisinya.

f.       Membentuk kelompok-kelompok belajar praktik, yaitu membagi siswa menjadi 6  kelompok, masing-masing beranggotakan 6 orang dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda. Setiap kelompok ditunjuk satu orang sebagai ketua kelompok.

       2. Siklus Penelitian

Pada penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Permasalahan yang belum dapat dipecahkan pada siklus pertama, direfleksikan bersama teman kolaborator dalam suatu pertemuan kolaborasi untuk mencari penyebabnya. Selanjutnya peneliti merencanakan berbagai langkah perbaikan untuk diterapkan pada siklus kedua.

a.    Siklus 1

1) Perencanaan (planning)

a)      Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah.

b)      Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran.

c)      Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

d)     Memilih materi pembelajaran yang sesuai

e)      Menentukan skenario pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (CTL).

f)       Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat  yang dibutuhkan.

g)      Menyusun lembar kerja (job sheet) siswa

h)      Membuat rencana kegiatan awal (apersepsi)

i)        Membuat rencana kegiatan pokok

j)        Membuat rencana kegiatan penutup

k)      Mengembangkan format evaluasi.

l)        Mengembangkan format observasi pembelajaran.

2)      Pelaksanaan (acting)

a)      Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.

b)      Mengadakan tanya jawab tentang  alat-alat ukur yang biasa di gunakan di bengkel otomotif.

b)      Membentuk kelompok belajar menjadi 6 kelompok, setiap kelompok beranggotakan 6 orang siswa yang heterogen.

c)      Menugaskan siswa untuk mengidentifikasi alat ukur yang digunakan di bengkel otomotif, kemudian mendiskusikannya dalam kelompok.

d)     Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok

e)      Diskusi pembahasan semua hasil kelompok

f)       Menyimpulkan bersama-sama

g)      Membuat laporan hasil kerja secara berkelompok dan individu

h)      Melaksanakan evaluasi

                 3) Observasi (observing)

a)      Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan untuk mengamati situasi pembelajaran, mengamati keaktifan siswa dan  kemampuan siswa.

b)      Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja (job sheet) siswa.

          4)  Refleksi

a)      Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasai mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.

b)      Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang skenario pembelajaran dan laporan praktik pada lembar kerja (job sheet) siswa.

c)      Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

d)     Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus 1 ini diharapkan minimal 75% dari seluruh pengikut tes sudah menguasai 70% dari materi yang diujikan.

b.      Siklus II

1)   Perencanaan

a)      Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasidan penetapan alternative pemecahan masalah.

b)      Menentukan indikator pencapaian hasil belajar.

c)      Pengembangan program tindakan pada siklus II.

2)      Tindakan

      Pelaksanaan program tindakan pada siklus II mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternative pemecahan maslah yang sudah ditentukan, antara lain melalui:

a)      Membentuk kelompok belajar menjadi 6 kelompok, setiap kelompok beranggotakan 6 orang siswa yang heterogen.

b)      Siswa mempelajari materi pelajaran melalui penggalian informasi pada modul dengan metode diskusi kelompok

c)      Siswa mengidentifikasi dan memilih alat-alat ukur dan bahan yang sesuai berdasarkan tugas pada job sheet.

d)     Siswa mengerjakan tugas praktik menggunakan alat ukur dan mendemontrasikan penggunaan alat ukur.

e)      Siswa mendiskusikan hasil praktik di dalam kelompoknya

f)       Masing-masing kelompok mengutus seorang anggota kelompoknya untuk  mempresentasikan  hasil tugas kelompoknya.

g)      Siswa menyelesaikan laporan praktik

                 3) Pengamatan (observing)

a)      Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan untuk mengamati situasi pembelajaran, mengamati keaktifan siswa dan  kemampuan siswa.

b)      Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja (job sheet) siswa.

          4)  Refleksi

a)      Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasai mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.

b)      Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang skenario pembelajaran dan laporan praktik pada lembar kerja (job sheet) siswa.

c)      Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan 85% dari seluruh pengikut tes sudah menguasai 70% dari materi yang diujikan.