LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN

PEMANFAATAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN “EXPERIENTIAL LEARNING CYCLE (ELC)” UNTUK PENINGKATAN HASIL DIKLAT KEWIRAUSAHAAN BAGI GURU SMK

 Oleh : MULJO RAHARDJO


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran kewirausahaan merupakan mata pelajaran yang dianggap penting saat ini, hal ini terlihat dari ditetapkannya mata pelajaran kewirausahaan sebagai mata pelajaran adaptif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada Peraturan Menteri Diknas no. 22 th.2006 tentang standar isi, telah ditetapkan bahwa, mata pelajaran kewirausahaan diajarkan pada kegiatan pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal ini dinyatakan pada struktur kurikulum pendidikan kejuruan ( lampiran Permen Diknas no. 22 th.2006: 19). Sehingga Diklat Kewirausahaan bagi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) secara intensif selalu diselenggarakan sebagai tindaklajut dari kebijakan dan untuk meningkatkan keterampilan para guru kewirausahaan dalam pengelolaan pembelajaran kewirausahaan di kelas..

Target hasil pembelajaran kewirausahaan, lebih menitik beratkan pada perubahan perilaku, sehingga pendekatan dan metode pembelajaran yang bervariasi sangat disyaratkan. Namun pada kenyataan di sekolah, masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan pembelajaran ketika menyajikan materi kewirausahaan di kelas. Karena itu pada diklat kewirausahaan, materi yang terkait dengan pendekatan dan metode pembelajaran harus menjadi bahasan mendalam yang ditindaklanjuti dengan microteaching. Tetapi pada beberapa kali diklat kewirausahaan yang  telah dilaksanakan, walau peserta diklat kewirausahaan diarahkan untuk mencermati pendekatan dan metode yang relevan dengan materi kewirausahaan, namun hasilnya masih belum maksimal. Sebagian besar guru masih mengalami kesulian dalam mengembangkan materi kewirausahaan menjadi sajian yang menarik. Walaupun kalau dilihat secara umum masih lebih baik daripada pembelajaran yang mereka lakukan sebelumnya.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, dinyatakan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Kompetensi pedagogik terdiri atas  sepuluh kompetensi, yaitu:

1.    Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, social, kultural, emosional, dan intelektual.

2.    Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

3.    Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.

4.    Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.

5.    Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.

6.    Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

7.    Berkomunikasi secara efektif, simpatik, dan santun dengan peserta didik.

8.    Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

9.    Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasiuntuk kepentingan pembelajaran.

10.Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.B

Mengacu pada butir empat dan butir enam di atas, menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran sangat penting untuk dikuasai dan dikembangkan dalam suatu kegiatan pembelajaran.

Keberhasilan Experiential Learning Cycle (ELC) untuk kegiatan pembelajaran telah dikemukakan oleh Erel Avineri berdasarkan penelitian yang ia lakukan, pada pembelajaran perencanaan transportasi di kampusnya yaitu University of the West of England (universitas Inggris Barat). Disampaikan pula bahwa ketika ia mengimplementasikannya dalam pembelajaran yang ia lakukan melalui studi kasus, hasilnya sangat sukses.

Hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan yang selama ini masih kurang maksimal atau secara kualitas masih pada kategori sedang, diharapkan ada peningkatan berarti setelah diaplikasikannya pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) ini. Uraian rinci tentang adanya peningkatan pembelajaran Diklat kewirausahaan bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK) melalui pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC)  akan dapat diperoleh setelah dilakukannya penelitian tindakan Diklat yang telah diprogramkan ini.

Beberapa fakta atau temuan di atas memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian tindakan Diklat tentang manfaat suatu pendekatan pembelajaran, yaitu: pemanfaatan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) untuk peningkatan hasil Diklat Kewirausahaan bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK).

 

B.   Identifikasi Masalah

Mengacu pada kenyataan bahwa hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan yang selama ini masih kurang maksimal atau secara kualitas masih pada kategori sedang , memunculkan pertanyaan-pertanyaan terhadap kondisi tersebut. Hal ini menunjukkan adanya permasalahan-permasalahan yang perlu dicermati, yaitu:

1.    Mengapa hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan selama ini masih kurang maksimal atau secara kualitas masih pada kategori sedang ?

2.    Apa yang menyebabkan hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan masih kurang maksimal atau secara kualitas masih pada kategori sedang ?

3.    Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan ?

4.    Mengapa hasil belajar peserta Diklat kewirausahaan perlu ditinglkatkan ?

5.    Apakah pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) dapat meningkatkan hasil belajar peserta Diklat kewirausahaan ?

 

C.   Pembatasan Masalah

Mencermati sejumlah permasalahan di atas, ternyata terdapat begitu banyak permasalahan yang perlu dipikirkan penyelesaiannya terkait dengan pembelajaran pada penyelenggaraan Diklat kewirausahaan. Namun dengan adanya keterbatasan, terutama waktu, maka pembahasan dalam penelitian ini dibatasi hanya pada butir permasalahan kelima, yaitu apakah pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) dapat meningkatkan hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan ?

Adapun kelompok belajar yang digunakan sebagai subyek dalam penelitian ini adalah peserta Diklat Kewirausahaan sekolah menengah kejuruan (SMK). Lebih tepatnya, dilaksanakan pada Diklat Train of Trainer : Know About Business (KAB) for SMK Teachers. Tanggal 16 sd 27 Maret 2009, di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

 

D.   Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi, dan pembatasan masalah, diajukan permasalahan penelitian dengan rumusan sebagai berikut:

1.  Bagaimana menerapkan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran Diklat Train of Trainer : Know About Business (KAB) for SMK Teachers agar memberikan hasil yang maksimal ?

2.  Apakah melalui pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) dapat meningkatkan hasil belajar peserta Diklat Train of Trainer : Know About Business (KAB) for SMK Teachers ?

E.   Tujuan Penelitian

Secara umum, tujuan yang ingin dicapai dilaksanakannya penelitian tentang pemanfaatan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC)  untuk peningkatan hasil Diklat Kewirausahaan bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK) ini, adalah peningkatan mutu pembelajaran kewirausahaan di sekolah menengah kejuruan (SMK).

Secara khusus, tujuan yang ingin dicapai dilakukannya penelitian tentang pemanfaatan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC)  untuk peningkatan hasil Diklat Kewirausahaan bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK) ini adalah:

1.  Menerapkan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran Diklat Train of Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers agar memberikan hasil belajar yang maksimal.

2.  Meningkatkan hasil belajar peserta Diklat Train of Trainer : Know About Business (KAB) for SMK Teachers melalui pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC).

 

F.    Manfaat Penelitian

Dari sisi teoritis, penelitian pemanfaatan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) untuk meningkatkan hasil belajar peserta Diklat kewirausahaan bagi guru SMK ini, memiliki manfaat:

1.  Tambahan pengetahuan atau wawasan tentang peningkatan hasil belajar Diklat Kewirausahaan sekolah menengah kejuruan melalui pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC).

2.  Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian-penelitian terkait selanjutnya.

 

Sedangkan dari sisi praktis, hasil dari penelitian pemanfaatan pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) untuk meningkatkan hasil belajar peserta Diklat kewirausahaan bagi guru SMK ini, memiliki manfaat:

1.  Pendekatan pembelajaran experiential learning cycle (ELC) dapat digunakan sebagai alternatif pilihan bagi guru mata pelajaran kewirausahaan untuk mengembangkan pembelajaran kewirausahaan yang bervariasi.

2.  Hasil penelitian ini juga dapat dirmanfaatkan oleh guru di luar guru kewirausahaan untuk mengembangkan pembelajaran mata pelajaran yang diampu

3.  Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam memberikan bimbingan kepada guru-guru kewirausahaan maupun guru yang lain.

4.  Bagi pengawas, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan wawasan dalam memberikan bimbingan pembelajaran kepada para guru-guru di sekolah, tidak hanya guru kewirausahaan.

5.  Hasil penelitian ini juga bermanfaat untuk perpustakaan sekolah, karena akan menambah koleksi hasil penelitian yang dapat diakses oleh banyak warga sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

 

A.   Kajian Teori

Sejumlah teori yang dibahas pada bab ini meliputi: hakekat Diklat Kewirausahaan, hakekat hasil belajar, pendekatan pembelajaran, dan Experiential Learning Cycle (ELC).

1.  Hakekat Diklat Kewirausahaan

Diklat merupakan kependekan kata dari pendidikan dan latihan. Adapun pendidikan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bahwa “pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan” (Depdiknas, 2005: 263). Sedangkan latihan diartikan sebagai “belajar dan membiasakan diri agar mampu melakukan sesuatu’ (Depdiknas, 2005: 643). Selanutnya, pada bahan ajar Diklat Manajemen, dikemukakan bahwa “pelatihan merupakan proses pembelajaran yang memungkinkan pegawai melaksanakan pekerjaan yang sekarang sesuai dengan standar” (Depdiknas(d), 2007: 2). Sehingga Diklat dapat didefinisikan sebagai kegiatan belajar untuk pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang agar lebih dewasa dan mampu melakukan sesuatu. Adapun menurut

Kata “kewirausahaan” berasal dari kata dasar “wirausaha’, yang menurut Buchari Alma (2008: 24) bahwa “seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang, kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.” Sedangkan menurut Joseph Schumpeter, “wirausaha adalah.orang yeng mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru.” Mencermati dua pengertian di atas, secara sederhana kewirausahaan dapat diartikan sebagai kegiatan memanfaatkan peluang dengan mempertimbangkan berbagai resiko untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk uang atau kepuasan.

Mengacu pada pengertian diklat dan kewirausahaan, maka dapat dirumuskan bahwa Diklat Kewirausahaan adalah kegiatan belajar untuk pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang agar lebih mampu memanfaatkan peluang dan memiliki pola pikir ekonomis yang efektif.

2.  Hakekat Hasil Belajar

Belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. (WS Winkel, 1991: 36). Hal ini menunjukkan bahwa dalam belajar terdapat kegiatan-kegiatan seperti: melihat, mendengarkan, bertanya, mempraktikkan atau menirukan, mendiskusikan, dan kegiatan lain untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran.

Sedangkan untuk hasil belajar, oleh WS Winkel (1991: 38) dinyatakan bahwa “hasil belajar merupakan kemampuan baru atau penyempurnaan atau pengembangan dari kemampuan yang telah dimiliki”. Perlu diketahui pula bahwa tidak semua perubahan merupakan hasil belajar. Perubahan yang terjadi karena kelelahan, penggunaan obat, penyakit, pertumbuhan jasmani bukan merupakan kasus gejala belajar.

3.  Pendekatan dan Metode Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran merupakan perlakuan umum yang diberikan kepada peserta didik oleh guru, pengajar, fasilitator, atau penyaji yang lain dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan pembelajaran memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran, karena perlakuan guru atu fasilitator sangat berpengaruh secara psikologis bagi peserta didik. Beberapa pendekatan pembelajaran yang digunakan selama ini meliputi: pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan permainan, pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL), pendekatan Experiential Learning Cycle (ELC), dan pendekatan quantum teaching-learning. Namun dalam penggunaannya harus menyesuaikan dengan kondisi dan situasi kelompok/ rombongan belajar beserta lingkungannya.

Metode pembelajaran adalah perlakuan khusus yang lebih bersifat teknis kepada peserta didik untuk membentuk pemahaman atau pengertian, keterampilan, dan sikap sesuai tujuan yang diharapkan. Beberapa metode yang selama ini digunakan dalam pembelajaran meliputi: ceramah, tanya jawab, demonstrasi, bermain peran (role play), proyek, PETRA, leittexte, … Dalam penggunannya, juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, serta situasi pesrta didik dan lingkungannya.

4.  Pendekatan Pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC)

Ada tiga hal pokok yang menjadi bahasan pada pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) ini, yaitu: pengertian, metode yang relevan, dan implementasi pendekatan pembelajaran ELC.

a.  Pengertian ELC

Experiential Learning Cycle (ELC) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengacu pada siklus tingkatan gaya belajar, mulai dari pemberian kegiatan sebagai pengalaman nyata sampai dengan aplikasi pengembangan. Pada awalnya, Experiential Learning Cycle (ELC) ini diperkenalkan oleh David Kolb dengan empat tingkatan gaya belajar, meliputi: memberikan pengalaman (experiencing), melakukan tinjauan (reviewing), menyimpulkan (concluding), dan merencanakan aplikasi (planning for application). Namun beberapa saat kemudian,  teori ini dikembangkan oleh Anne Wyscocki, yang tadinya empat tahap dikembangkan menjadi lima tahap, yaitu: memberikan pengalaman (experiencing), berbagi pengalaman (sharing), mencermati permasalahan (processing), membuat kesimpulan (generalizing), dan menerapkan (applying). Hal ini dinyatakan oleh Center for Service Learning at Denison University (CSL, 2009).

b.  Metode yang Relevan dengan ELC

Sesuai dengan karakteristiknya, bahwa pada pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), bentuk pembelajarannya lebih mengarah pada pemberian pengalaman yang dikembangkan menjadi pengalaman baru. Karena itu metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajarannya harus yang lebih bisa mendukung pada pembentukan pengalaman.nyata. Sehingga metode-metode yang relevan dengan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah:

1). Demonstrasi

2). Tanya jawab

3). Diskusi

4). Kerja kelompok

5). Curah pendapat (brain storming)

6). Micro teaching

c.  Implementasi ELC dalam Pembelajaran

Tahap implementasi yang digunakan pada penelitian ini mengikuti tahapan yang dikemukakan oleh Anne Wyscocki, yaitu tahapan Experiential Learning Cycle (ELC) yang terdiri atas lima tahapan, adalah:

1). Memberikan pengalaman (experiencing).

Pada tahap ini guru dapat membuat kegiatan dengan pemberian penugasan kepada peserta didik untuk dikerjakan, secara individual atau kelompok. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik, yang selanjutnya bisa digunakan sebagai sarana diskusi untuk pembahasan lebih mendalam.

2). Berbagi pengalaman (sharing)

Setelah memberikan pengalaman nyata melalui kegiatan, guru dapat menindaklanjuti hasil penugasan dengan diskusi kelompok, atau tanya jawab untuk menanggapi hasil pemikiran yang disajikan oleh kelompok tersebut.

3). Mencermati permasalahan (processing)

Pada tahap ini, peserta didik diminta menganisis berbagai temuan dalam diskusi, setelah itu dikelompokkan sesuai dengan jenis permasalahannya. Dan selanjutnya direkapitulasi untuk dijadikan bahan pada tahap selanjutnya, yaitu pembuatan kesimpulan.

4). Membuat kesimpulan (generalizing)

Selanjutnya, setelah melakukan analisis temuan, yang harus dilakukan adalah mengembangkan temuan-temuan menjadi prinsip-prinsip umum. Hal ini sering disebut dengan istilah meyimpulkan.

5). Menerapkan (applying)

Tahapan terakhir dari pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), adalah membuat perencanaan aplikasi untuk pemanfaatan/penggunaan pada kehidupan nyata. Tentu saja yang ada kaitannya dengan kondisi dan situasi setempat.

B.  

KONDISI AWAL

TINDAKAN

TINDAKAN

KONDISIN

AKHIR

Peneliti Belum menerapkan pendekatan pembelajaran ELC

Peserta Diklat:

Mengalami kesulitan mengembangkan pembelajaran kewirausahaan

Memanfaatkan pendekatan pembelajaran ELC

SIKLUS I

Memberikan pengalaman nyata melaluicontoh dari peragaan fasilitator

SKLUS II

Memberikan pengalaman nyata melalui mencoba langsung

Diduga melalui pemanfaatan pendekatan pembelajaran ELC dapat meningkatkan hasil Diklat Kewirausahaan bagi guru SMK

Kerangka Berpikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Deskripsi kerangka berpikir:

1.      Kondisi awal, fasilitator belum memanfaatkan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kelompok, dengan metode-metode: ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan diskusi. Hasilnya, banyak peserta Diklat yang masih mengalami kesulitan mengembangkan pembelajaran kewirausahaan secara bervariatif.

2.      Agar semua peserta Diklat dapat mengembangkan pembelajaran kewirausahaan secara bervariatif, maka perlu tindakan yang harus dilakukan oleh fasilitator, yaitu dengan memanfaatkan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran kewirausahaan bagi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

3.      Pada Sillus 1: fasilitator memanfaatkan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran. Adapun wujud pengalaman nyata untuk peserta Diklat, diberikan melalui contoh-contoh yang  diperagakan oleh fasilitator.

4.      Pada Siklus 2: fasilitatos memanfaatkan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran. Adapun wujud pengalaman nyata untuk peserta Diklat diberikan melalui aplikasi langsung atau mempraktikkan langsung Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran dengan menggunakan topik yang ada pada modul. Aplikasi tersebut dalam bentuk microteaching.

5.      Dari kondisi siklus 1 ke siklus 2 diharapkan para peserta Diklat dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan pembelajaran kewirausahaan secara bervariatif.

6.      Pada kondisi akhir, diduga melalui pemanfaatan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil Diklat kewirausahaan.

 

C.    Hipotesis Tindakan

Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah:

Melalui pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil Diklat kewirausahaan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.   Setting Penelitian

Uraian tentang setting penelitian meliputi rincian waktu yang dialokasikan untuk penyelenggaraan/pelaksanaan penelitian, dan infromasi tentang tempat diselenggarakannya penelitian tersebut.

1.    Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dengan rincian waktu sebagai berikut:

No.

Kegiatan

Waktu

Tempat

1

Konfirmasi waktu dan tempat pelaksanaan Diklat KAB

24 Pebruari 2009

P4TK Malang

2

Penyusunan proposal penelitian

2 sd 6 Maret 2009

P4TK Malang

3

Koordinasi persiapan pelaksanaan penelitian

10 sd 13 Maret 2009

P4TK Malang

4

Pelaksanaan penelitian

16 sd 27 Maret 2009

LPMP – NTT, Kupang

5

Mengolah data penelitian

23 sd 27 Maret 2009

P4TK Malang

6

Pembuatan laporan penelitian

30 Maret sd 22 April 2009

P4TK Malang

6

Seminar hasil penelitian

27 April 2009

P4TK Malang

7

Perbaikan-perbaikan,

28 April 2009

P4TK Malang

Penentuan waktu tersebut di atas, disesuaikan dengan jadwal program institusi yang sudah dirancang sebelumnya.

2.    Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, pada Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers. Program ini merupakan program kerjasama antara P4TK Malang dengan International Labour Organization (ILO) Jakarta, untuk pemberdyaan Sumber Daya Manusia (SDM) di kawasan Indonesia Timur. Sehingga semua peserta Diklat adalah para guru kewirausahan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berasal dari kawasan di pulau Timor dan sekitarnya. Karena itu Diklat ini harus dilaksanakan disana, dengan pertimbangan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan dilaksanakan di pulau Jawa.

B.   Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian ini adalah peserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers. Mereka adalah guru-guru yang bertugas mengampu mata pelajaran kewirausahaan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang berasal dari sekolah-sekolah di kota dan kabupaten pada kawasan pulau Timor dan sekitarnya. Mereka terdiri atas 26 orang guru kewirausahaan yang tergabung pada kelas A. Sedangkan untuk kelas B yang berjumlah 25 orang guru kewirausahaan dipandu oleh widyaiswara yang lain.

C.   Sumber Data

Data primer, yang merupakan hasil belajar Diklat, diperoleh dari subyek penelitian, yaitu seluruh peserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers., sedangkan data sekunder diperoleh dari temuan fasilitator yang ikut serta memandu kegiatan Diklat  tersebut.

D.   Teknik dan Alat Pengumpul Data

Pada penelitian ini, teknik pengumpul data yang digunakan adalah: teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes digunakan ketika pengumpulan data tentang tingkat pemahaman kognitif peserta Diklat. Sedangkan teknik non tes digunakan sebagai sarana pengumpulan data tentang perubahan sikap/ perilaku yang terjadi.

Saat pengumpulan data dengan teknik tes, alat yang digunakan adalah soal tes, sedangkan ketika pengumpulan data dengan teknik non tes, alat yang digunakan adalah lembar/pemandu observasi.

E.   Validasi Data

Untuk data kuantitatif, ditetapkan untuk dilakukan validasi teoritik, dengan cara memeriksa instrumen dan kisi-kisi yang telah di buat. Sedangkan untuk data kualitatif, dilakukan validasi melalui triangulasi, baik triangulasi sumber maupun trianggulasi metode.

F.    Analisis Data

Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan deskriptif komparatif, yaitu membandingkan  nilai tes pada kondisi awal, nilai tes setelah siklus 1, dan nilai tes setelah siklus 2. Sedangkan data hasil observasi dianalisis secara deskriptif kualitatif.

G.   Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan prosedur yang mengacu pada langkah-langkah sebagai berikut, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (refecting).

 

Siklus I

1.    Perencanaan (planning)

·      mengidentifikasi kompetensi pedagogik (permen no.16 th.2007) yang harus dikuasai oleh guru.

·      mencermati substansi modul KAB dan membandingkan dengan kompetensi ( SK & KD) pada kurikulum.

·      membuat rencana kegiatan awal (apersepsi)

·      membuat rencana kegiatan pokok

·      membuat rencana kegiatan penutup

·      menyiapkan soal tes dan lembar pengamatan (observasi)

  1. Pelaksanaan (acting)

·      mengadakan tanya jawab tentang “pembelajaran bervariasi”

·      membagi peserta menjadi enam kelompok

·      mendemonstrasikan penerapan “pembelajaran bervariasi” pada kegiatan pembelajaran

·      menugaskan peserta Diklat mengidentifikasi langkah-langkah yang ada pada “pembelajaran bervariasi”, kemudian mendiskusikannya dalam kelompok.

·      masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok

·      diskusi pembahasan semua hasil kelompok

·      menyimpulkan bersama-sama

·      melakukan pengamatan terhadap semua perilaku peserta Diklat

  1. Observasi (observing)

·      mengamati situasi pembelajaran

·      mengamati keaktifan peserta

·      mengamati kemampuan peserta

  1. Refleksi (refecting)

·      Diklat dinyatakan berhasil bila:

Minimal 80 % peserta dapat mengimplementasikan “pembelajaran bervariasi” dalam kegiatan pembelajaran melalui microteaching.

Siklus II

  1. Perencanaan (planning)

·      Faslitator membuat perencanaan, disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus 1

  1. Pelaksanaan (acting)

·      mengadakan tanya jawab tentang “pembelajaran bervariasi” yang telah dibahas sebelumnya.

·      membagi peserta menjadi enam kelompok

·      menugaskan peserta Diklat mengimplementasikan “pembelajaran bervariasi” dalamkegiatan pembelajaran dengan topic yang terdapat pada modul KAB.(microteaching)

·      masing-masing kelompok mencermati dan mengidentifikasi proses implementasi “pembelajaran bervariasi”.

·      diskusi semua hasil implementasi

·      membuat kesimpulan bersama-sama

·      menugaskan kembali peserta Diklat mengimplementasikan “pembelajaran bervariasi” dalamkegiatan pembelajaran dengan topik yang terdapat pada modul KAB.(microteaching dengan topik bahasan berbeda)

·      diskusi hasil implementasi

·      membuat kesimpulan bersama-sama

  1. Observasi (observing)

·      mengamati situasi pembelajaran

·      mengamati keaktifan peserta

·      mengamati kemampuan peserta

  1. Refleksi (refecting)

·      Mencermati hasil belajar, dan membandingkannya dengan tolok ukur keberhasilan: 80 %

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus-siklus pembelajaran yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini pembelajaran dilakukan dalam dua siklus, seperti uraian di bawah ini.

A.   Deskripsi Kondisi Awal

Pada kondisi awal, peneliti masih belum menerapkan pendekatan Experiential Learning Cycle (ELC), jadi pendekatan yang digunakan masih konvensional. Namun juga menggunakan empat tahapan dalam pembelajaran, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (refecting). Metode yang digunakan adalah: ceramah, diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi (peragaan).

 

 

 

Gambar 1. Peserta Diklat: ToT: Know About Business (KAB)

Suasana pembelajaran pada kondisi awal, kurang “hidup”. Interaksi antara peserta didik dengan penyaji sangat minim, sehingga suasana terlihat agak beku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Suasana kelas saat kondisi awal (1)

Keseluruhan hasil belajar peserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers pada kondisi awal,secara rinci, terurai pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Hasil Tes Kondisi Awal

No.

Nama

Hasil Tes Kondisi Awal

Kategori Penilaian

1

Yansensius K. Nahak, S.Pt

2,2

Cukup

2

Yosef Wao Werang, S.Fil

2,0

Cukup

3

Klitus Bolo Wurin

1,9

Kurang

4

Aloysius Dutarjo, S.Pd

1,9

Kurang

5

Veronika Yulita Moi, A.Md

2,0

Cukup

6

Meryson E.A. Nufninu, S.Pd

1,9

Kurang

7

Ariance Ch. Daniel, S.Pd

2,2

Cukup

8

Endang Sudarsono, S.Pd

2,2

Cukup

9

‘Asa Manason Lahtang, S.Pd

2,1

Cukup

10

Agnes Selyana Laapen, S.Sos

2,2

Cukup

11

Timotius Laradjawa, S.Pd

2,1

Cukup

12

Grace Ester Faot, S.Th

2,0

Cukup

13

Erny Adriana Taneo, SP

2,0

Cukup

14

Sefice A. Kause, S.Pi

1,9

Kurang

15

Agustinus Seno, Amd

1,8

Kurang

16

Maria Apu, S.Pd

2,2

Cukup

17

Maria Margaretha Kefi

2,0

Cukup

18

Petrus Olin, S.Pd

2,0

Cukup

19

Paulus Seran, S.Pd

1,9

Kurang

20

Agustinus Johanes Baso Bas, ST

1,8

Kurang

21

Rafael Seran, S.Pd

1,9

Kurang

22

Jeni Bernadetha Oematan

2,0

Cukup

23

Simeon Liunima, S.Pd

2,1

Cukup

24

Dra. Ec. Cornelia Margreet Doko

2,0

Cukup

25

Elias Neno, S.Pd

2,1

Cukup

26

Blandina Amfotis

2,0

Cukup

 

Rata-Rata

2,08

Cukup

 

  • Dari keseluruhan data nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata  hasil belajar peserta Diklat: ToT: Know About Business (KAB) pada kondisi awal, adalah 2,08, dengan kategori “cukup”.

 

B.   Deskripsi Hasil Siklus I

Siklus 1 terdiri atas empat tahap, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (refecting).

1.  Perencanaan (planning)

·      mencermati kompetensi pedagogik yang harus dikuasai oleh guru, terutama pada butir empat (menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik) dan enam (memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki).

·      menganalisis substansi modul KAB dan membandingkan dengan kompetensi ( SK & KD) siswa pada kurikulum.

·      membuat rencana kegiatan awal (apersepsi), kegiatan inti (pokok), dan kegiatan penutup.

·      menyiapkan soal tes dan lembar pengamatan (observasi)

2.    Pelaksanaan (acting)

·      Pada siklus 1, menggunakan pendekatan Experiential Learning Cycle (ELC), dengan metode-metode: demonstrasi, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan curah gagasan (brain storming).

·      Contoh “pembelajaran bervariasi” didemonstrasikan oleh guru, sehingga guru berperan sebagai model

·      Selanjutnya semua peserta Diklat mengimplementasikannya dalam pembelajaran, dengan topik bahasan yang ada dalam modul KAB, seperti yang telah ditetapkan sebelumnya.

·      Sedangkan untuk peserta Diklat yang tidak melakukan microteaching, berperan sebagi peserta didik (siswa). Ini dilakukan secara bergantian.

Gambar 3. Peserta Diklat melakukan  microteaching, untuk Implementasi “pembelajaran bervariasi”, namun masih kelihatan canggung.

 

Gambar 4. Peserta yang tidak  microteaching berperan sebagai peserta didik (siswa), ekspresi mereka tampak kurang bersemangat

Gambar 5. Peserta didik  (siswa) mengalami kesulitan mencerna penjelasan penyaji

 

3.    Observasi (observing)

·      Hasil Diklat yang teramati, secara umum peserta dapat memahami apa yang dimaksud dengan “pembelajaran bervariasi”. Namun mereka masih belum bisa mengimplementasi secara efektif dalam pemeblajaran. Hanya ada tiga orang yang mampu mengadaptasikannya. Itupun dalam mengimplementasikannya,  juga masih tampak agak tegang.

·      Microteaching yang dilakukan peserta Diklat, oleh peneliti tampilan tersebut diabadikan pada gambar 3. Peserta tersebut kelihatan sedang mengimplementasikan “pembelajaran bervariasi”, namun tampak masih canggung. Menurut pengakuannya, dia agak grogi karena harus menyampaikan hal yang baru.

·      Untuk peserta yang tidak melakukan microteaching, dan harus berperan menjadi peserta didik (siswa), mereka dapat memerankannya dengan baik. Pada gambar 4, menunjukkan perilaku yang kurang bersemangat ketika penyaji (guru) masih canggung dalam penampilannya. Sedangkan pada gambar 5, peserta didik mengalami kesulitan mencerna penjelasan penyaji (guru).

·      Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta Diklat dalam menyajikan materi masih kurang memperhatikan keberadaan peserta duidik (siswa). Sehingga guru menjadi kurang tahu tentang apa yang sedang dilakukan oleh peserta didik (siswa), begitu juga  tingkat pemahamannya terhadap materi yang telah disajikan.

·      Keseluruhan hasil belajar yang dicapai oleh peserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers pada siklus I, secara rinci diuraikan di bawah ini.

Tabel 2. Hasil Tes pada Siklus I

No.

Nama

Hasil Tes Kondisi Awal

Kategori Penilaian

1

Yansensius K. Nahak, S.Pt

2,5

Cukup

2

Yosef Wao Werang, S.Fil

2,4

Cukup

3

Klitus Bolo Wurin

2,2

Cukup

4

Aloysius Dutarjo, S.Pd

2,3

Cukup

5

Veronika Yulita Moi, A.Md

2,2

Cukup

6

Meryson E.A. Nufninu, S.Pd

2,0

Cukup

7

Ariance Ch. Daniel, S.Pd

2,5

Cukup

8

Endang Sudarsono, S.Pd

2,4

Cukup

9

‘Asa Manason Lahtang, S.Pd

2,5

Cukup

10

Agnes Selyana Laapen, S.Sos

2,4

Cukup

11

Timotius Laradjawa, S.Pd

2,4

Cukup

12

Grace Ester Faot, S.Th

2,5

Cukup

13

Erny Adriana Taneo, SP

2,4

Cukup

14

Sefice A. Kause, S.Pi

2,3

Cukup

15

Agustinus Seno, Amd

2,0

Cukup

16

Maria Apu, S.Pd

2,3

Cukup

17

Maria Margaretha Kefi

2,3

Cukup

18

Petrus Olin, S.Pd

2,4

Cukup

19

Paulus Seran, S.Pd

2,3

Cukup

20

Agustinus Johanes Baso Bas, ST

2,0

Cukup

21

Rafael Seran, S.Pd

2,3

Cukup

22

Jeni Bernadetha Oematan

2,4

Cukup

23

Simeon Liunima, S.Pd

2,5

Cukup

24

Dra. Ec. Cornelia Margreet Doko

2,4

Cukup

25

Elias Neno, S.Pd

2,4

Cukup

26

Blandina Amfotis

2,3

Cukup

 

Rata-Rata

2,37

Cukup

 

  • Dari keseluruhan data nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata  hasil belajar peserta Diklat: Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers  pada siklus I, adalah 2,37., dengan kategori “cukup”.

 

4.    Refleksi (reflecting)

·      Terdapat suatu  peningkatan hasil saat implementasi “pembelajaran bervariasi”, namun masih relatif kecil. Nominal  peningkatan tersebut, dari nilai rata-rata 2,08 menjadi 2,375. Kalau ditinjau dari ukuran persentase, peningkatan yang terjadi sebesar 53,8 %.

·      Kelemahan yang masih tampak adalah, ketika menyikapi perubahan suasana kelas secara mendadak, penyaji (guru) kurang cepat dan sigap dalam pengambilan keputusan.

 

C.   Deskripsi Hasil Siklus II

Seperti pada siklus I, siklus II juga terdiri atas empat tahap, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (refecting).

1.    Perencanaan (planning)

Perencanaan siklus 2 mengacu pada hasil observasi dan refleksi pada siklus 1, yaitu:

·      Pengamatan secara individual harus dilakukan, mengingat adanya beberapa orang yang kemampuannya terpaut agak jauh dengan kemampuan kelompok.

·      Keterlibatan peserta Diklat dalam kelompok harus dipantau, untuk menjamin keseimbangan partisipasi dalam menyelesaikan tugas kelompok.

·      Pola pembagian kelompok perlu diubah-ubah agar situasi yang ada pada kelompok dapat lebih bervariasi, juga memberikan kesempatan kepada peserta Diklat untuk dapat saling mengenal secara lebih luas.

2.    Pelaksanaan (acting)

·      Penyampaian informasi tentang pembelajaran bervariasi, dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam implementasinya. Hal ini diberikan sebagai bahan acuan dalam diskusi dan pembahasan.

 

Gambar 6. Peserta Diklat mendengarkan informasi pendahuluan tentang “pembelajaran bervariasi”.

 

·      Pembagian kelompok dan  topik modul, yang harus  dicermati dan diimplementasikan dalam pembelajaran. Kelas dibagi menjadi empat kelompok, sehingga dua kelompok terdiri atas enam orang, dan yang dua kelompok lainnya terdiri atas tujuh orang. (gambar 7)

Gambar 7. Pembagian kelompok

 

·      Masing-masing kelompok mempersiapkan implementasi, tahapan pembelajaran bervariasi. Hal ini dapat dilihat pada gambar 8, yang menunjukkan peserta sedang mempersiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan pada saat microteaching.

 

 

 

Gambar 8. Diskusi untuk merancang kegiatan kelompok

Gambar 9. Persiapan alat bantu microteaching

·      Microteaching 1, implementasi pembelajaran bervariasi, dilakukan oleh seluruh kelompok secara bergantian. Selain yang tampil, harus berperan sebagai peaserta didik (siswa). Semua anggota kelompok harus ikut ambil bagian dalam microteaching tersebut.

 

Gambar 10. Penyaji (guru) memberikan “ice breaker” kepada peserta didik (siswa)

 

 

 

 

Gambar 11. Pemberian tugas oleh penyaji (guru)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 12. Peserta didik (siswa) mengerjakan tugas guru

·      Pembahasan bersama terhadap semua  hasil presentasi kelompok. Lalu disimpulkan, hal-hal yang harus diperhatikan dalam implementasi pembelajaran bervariasi. Dimulai dari komentar dari masing-masing kelompok, secara acak, lalu ditindaklanjuti dengan diskusi terbuka, mencari alternatif terbaik yang dapat dilakukan agar penyajian/presentasi bisa lebih baik lagi.

 

Gambar 13. Menyampaikan pembahasan hasil kelompok untuk sumbang saran terhadap penampilan kelompok lain.

 

 

 

·      Microteaching 2, implementasi pembelajaran bervariasi dilakukan dengan kelompok yang terdiri atas dua orang. Sehingga terdapat tiga belas kelompok yang presentasi. Topik modul yang disajikan adalah topik baru yang diambil dari modul KAB yang lain (tidak sama dengan yang sebelumnya). Setiap penyajian dilakukan secara acak untuk menentukan siapa yang harus tampil.

 

Gambar 14. Ice breaker diberikan oleh penyaji/presenter (guru) untuk mengkondisikan kelas

 

 

Gambar 15. Penyaji (guru) menuliskan tahapan yang harus dilakukan pada pembelajaran bervariasi.

Gambar 16. Penyaji (guru) memberikan bimbingan pada kelompok

Gambar 17. Peserta didik (siswa) menuliskan hasil kerja kelompok di depan kelas

 

·      Pembahasan hasil microteaching dilakukan secara bertahap, satu persatu dicermati, yang selanjutnya dibahas bersama-sama. Penyampaian komentar dimulai dari hal-hal yang positif, baru kemudian meyampaikan hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Hal ini ditunjukkan pada gambar 17, yang menunjukkan proses pembahasan respon terhadap penyajian. Selanjutnya pada gambar 18, menunjukkan proses penempelan hasil pembahasan respon penyajian. Sedangkan gambar 19, menunjukkan komentar yang disampaikan secara terbuka, namun santun.

Gambar 18. Pembahasan penyajian kelompok lain

Gambar 19. Semua komentar ditempelkan di depan kelas

Gambar 20. Penyampaian masukan secara terbuka, namun santun

 

3.    Observasi (observing)

·      Hasil Diklat, secara umum peserta dapat memahami tentang “pembelajaran bervariasi”, dan dapat mengimplementasikannya secara efektif dalam kegiatan pembelajaran.

·      Microteaching yang dilakukan oleh peserta Diklat, oleh peneliti diabadikan pada gambar 13 sampai dengan 19. Mulai dari memberikan gambaran umum tentang “pembelajaran bervariasi”, sampai dengan pemberian komentar terhadap kualitas penyajian.

·      Seperti pada siklus I, untuk peserta yang tidak melakukan microteaching, dan harus berperan menjadi peserta didik (siswa), mereka dapat memerankannya dengan baik. Pada gambar 17, menunjukkan perilaku siswa yang sedang membahas kualitas suatu penyajian. Sedangkan pada gambar 18, peserta didik sedang menempelkan komentar-komentar mereka terhadap kualitas suatu penyajian. Selanjutnya pada gambar 19, menunjukkan dua orang peserta didik (siswa) sedang menyampaikan komentar lisan tentang kualitas  suatu penyajian.

·      Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta Diklat dalam menyajikan materi sudah memperhatikan dengan cermat keberadaan peserta duidik (siswa). Sehingga penyajian yang dilakukan terlihat menjadi hidup, karena adanya variasi kegiatan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran.

·      Keseluruhan hasil belajar yang dicapai oleh peserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers pada siklus II, secara rinci diuraikan di bawah ini.

Tabel 3. Hasil Tes pada Siklus II

No.

Nama

Hasil Tes Kondisi Awal

Kategori Penilaian

1

Yansensius K. Nahak, S.Pt

3,4

Cukup

2

Yosef Wao Werang, S.Fil

3,2

Cukup

3

Klitus Bolo Wurin

3,0

Cukup

4

Aloysius Dutarjo, S.Pd

3,0

Cukup

5

Veronika Yulita Moi, A.Md

2,9

Cukup

6

Meryson E.A. Nufninu, S.Pd

2,8

Cukup

7

Ariance Ch. Daniel, S.Pd

3,2

Cukup

8

Endang Sudarsono, S.Pd

3,6

Cukup

9

‘Asa Manason Lahtang, S.Pd

3,4

Cukup

10

Agnes Selyana Laapen, S.Sos

3,3

Cukup

11

Timotius Laradjawa, S.Pd

3,0

Cukup

12

Grace Ester Faot, S.Th

3,4

Cukup

13

Erny Adriana Taneo, SP

3,4

Cukup

14

Sefice A. Kause, S.Pi

3,0

Cukup

15

Agustinus Seno, Amd

3,2

Cukup

16

Maria Apu, S.Pd

3,2

Cukup

17

Maria Margaretha Kefi

3,3

Cukup

18

Petrus Olin, S.Pd

3,3

Cukup

19

Paulus Seran, S.Pd

3,2

Cukup

20

Agustinus Johanes Baso Bas, ST

3,0

Cukup

21

Rafael Seran, S.Pd

3,3

Cukup

22

Jeni Bernadetha Oematan

3,1

Cukup

23

Simeon Liunima, S.Pd

3,3

Cukup

24

Dra. Ec. Cornelia Margreet Doko

3,2

Cukup

25

Elias Neno, S.Pd

3,3

Cukup

26

Blandina Amfotis

3,2

Cukup

 

Rata-rata

3,20

baik

 

·      Dari keseluruhan data nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata  hasil belajar peserta Diklat: Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers  pada siklus I, adalah 3,20., dengan kategori “baik”.

·      Perhatian guru kepada siswa sudah banyak perbaikan, komunikasi yang terjadi juga lebih luwes. Hal ini ditunjukkan dari beberapa penampilan para penyaji yang selalu memberikan bimbingan secara personal maupun kelompok yang membutuhkan bantuan. Cara menanggapi pertanyaan peserta didik juga bervariasi. Dengan ekspresi yang menunjukkan keramahan kepada peserta didik (siswa) yang mengajukan pertanyaan. Hal ini ditunjukkan pada gambar 20, ketika seorang penyaji (guru) memberikan jawaban kepada siswa yang telah mengajukan pertanyaan.

 

Gambar 21. Penyaji (guru) memberikan jawaban kepada peserta didik (siswa) yang telah mengajukan pertanyaan.

 

·      Dinamika penyajian oleh peserta Diklat saat microteaching sangat hidup. Variasi kegiatan dilakukan dengan efektif. Gambar 21, menunjukkan penyaji (guru) menggunakan permainan sebagai sarana pemecahan masalah.

Gambar 22. Menggunakan permainan sebagai sarana untuk pemecahan suatu masalah (1)

Gambar 23. Menggunakan permainan sebagai sarana untuk pemecahan suatu masalah (2)

·      Pengelolaan kelas dilakukan dengan cara yang lebih baik (bila dibandingkan dengan siklus I), ketika ada gangguan dari peserta didik (siswa) yang kurang bisa menerima teguran guru, dapat diatasi (ditanggapi) dengan sikap yang santun dan bersifat mendidik. Perhatian kepada peserta didik (siswa) juga mengalami peningkatan, hal ini dilakukan dengan membagi pandangan ke seluruh kelas.

 

Gambar 24. Saat penyaji (guru) menanggapi gangguan kecil di dalam kelas

 

4.    Refleksi (refecting)

·      Ada peningkatan kualitas implementasi pembelajaran bervariasi, secara signifikan yang merupakan sebagai hasil belajar, yaitu meningkatnya dari nilai rata-rata 2,37 pada siklus 1,menjadi 3,20 pada siklus II. Dari nilai rata-rata cukup, menjadi rata-rata baik. Kalau dengan ukuran persentase, peningkatan ini sebesar 53,8 %.

·      Kelemahan yang muncul pada siklus I, yaitu tentang masih lemahnya respon penyaji terhadap suasana negative yang terjadi di kelas, sudah tidak tampak lagi pada siklus II.

·      Secara umum, pada siklus II peserta Diklat Kewirausahaan Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers dapat mengimplementasikan pembelajaran bervariasi dengan baik.

D.   Hasil Penelitian

Beberapa hasil temuan dari kegiatan penelitian tindakan Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers, yang dilakukan oleh peneliti, adalah sebagai berikut:

1.    Nilai hasil belajar peserta Diklat secara keseluruhan, yaitu pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2, diuraikan secara rinci pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Tes Keseluruhan: Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

No.

Nama

Nilai Kondisi Awal

Nilai Siklus I

Nilai Siklus II

1

Yansensius K. Nahak, S.Pt

2,2

2,5

3,4

2

Yosef Wao Werang, S.Fil

2,0

2,4

3,2

3

Klitus Bolo Wurin

1,9

2,2

3,0

4

Aloysius Dutarjo, S.Pd

1,9

2,3

3,0

5

Veronika Yulita Moi, A.Md

2,0

2,2

2,9

6

Meryson E.A. Nufninu, S.Pd

1,9

2,0

2,8

7

Ariance Ch. Daniel, S.Pd

2,2

2,5

3,2

8

Endang Sudarsono, S.Pd

2,2

2,4

3,6

9

‘Asa Manason Lahtang, S.Pd

2,1

2,5

3,4

10

Agnes Selyana Laapen, S.Sos

2,2

2,4

3,3

11

Timotius Laradjawa, S.Pd

2,1

2,4

3,0

12

Grace Ester Faot, S.Th

2,0

2,5

3,4

13

Erny Adriana Taneo, SP

2,0

2,4

3,4

14

Sefice A. Kause, S.Pi

1,9

2,3

3,0

15

Agustinus Seno, Amd

1,8

2,0

3,2

16

Maria Apu, S.Pd

2,2

2,3

3,2

17

Maria Margaretha Kefi

2,0

2,3

3,3

18

Petrus Olin, S.Pd

2,0

2,4

3,3

19

Paulus Seran, S.Pd

1,9

2,3

3,2

20

Agustinus Johanes Baso Bas, ST

1,8

2,0

3,0

21

Rafael Seran, S.Pd

1,9

2,3

3,3

22

Jeni Bernadetha Oematan

2,0

2,4

3,1

23

Simeon Liunima, S.Pd

2,1

2,5

3,3

24

Dra. Ec. Cornelia Margreet Doko

2,0

2,4

3,2

25

Elias Neno, S.Pd

2,1

2,4

3,3

26

Blandina Amfotis

2,0

2,3

3,2

 

Rata-Rata

2,08

2,37

3,20

 

2.    Grafik peningkatan hasil belajar pserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers dari kondisi awal ke siklus I, adalah 13, 9 % (dari 2,08 menjdi 2,37).

3.    Adapun grafik peningkatan hasil belajar pserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers dari siklus I ke siklus II, adalah 35,0 % (dari 2,37 menjadi 3,20).

4.    Sedangkan grafik peningkatan hasil belajar pserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers dari kodisi awal ke siklus II, adalah 53,8 % (dari 2,08 menjadi 3,20).

5.    Secara kualitatif juga dapat diamati perubahan-perubahan yang terjadi pada peserta Diklat, yang diabadikan melalui gambar (foto), menunjukkan adanya perbedaan sikap pada masing-masing kondisi. Pada kondisi awal, peserta Diklat cenderung pasif, artinya persentase keaktifan mereka masih minim. Sedangkan pada siklus I, peserta mulai agak aktif walaupun dengan tingkat penyerapan yang masih belum maksimal. Selanjutnya pada siklus II, keaktifan peserta Diklat sudah tampak maksimal, yang diekspresikan dengan aktivitas yang sangat bervariasi dalam mengembangkan pembelajarannya.

6.    Berdasarkan hasil belajar peserta Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2, dapat dinyatakan bahwa pemanfaatan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil Diklat kewirausahaan.

Hasil penelitian yang diuraikan pada bab iv ini adalah hasil penelitian melalui kebenaran empirik. Secara teoritik kebenaran dapat diperoleh dari kajian teori, kerangka berpikir dan pengajuan hipotesis. Secara empirik kebenaran diperoleh dari hasil analisis data yang dari bab III dan bab IV, sehingga hasil penelitian pada bab IV ini merpakan kebenaran secara empirik

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

A.   Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah, hipotesis, temuan-temuan pada hasil penelitian, dapat kemukakan beberapa simpulan sebagai berikut:

1.    Implementasi pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC),dengan melibatkan peserta Diklat secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari pemberian contoh sampai dengan penyimpulan prinsip-prinsip, dapat menciptakan pembelajaran bervariasi yang efektif.

2.    Pemanfaatan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil belajar peserta Diklat Kewirausahaan guru sekolah menengah kejuruan (SMK) secara signifikan.

3.    Hipotesis yang dikemukakan pada BAB II, bahwa “melalui pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil Diklat kewirausahaan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)”, ternyata terbukti benar adanya. Bahwa melalui pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil Diklat kewirausahaan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

B.   Implikasi/Rekomendasi

Sebagai implikasi dengan pembuktian yang didukung oleh beberapa temuan yang menunjukkan bahwa melalui pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil Diklat kewirausahaan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),maka:

1.    Keberadaan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), sebagai salah satu pendekatan pembelajaran dapat digunakan sebagai alternative pengembangan pembelajaran perlu dipertimkangkan.

2.    Experiential Learning Cycle (ELC),yang saat ini masih menjadi pembicaraan baru dalam pengembangan pembelajaran perlu dipikirkan kajian-kajian lanjutan untuk memperdalam pemahaman terhadap pendekatan pembelajaran ini.

C.   Saran

Mengacu pada simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada kegiatan Diklat Train of .Trainer: Know About Business (KAB) for SMK Teachers, kepada berbagai pihak terkait disarankan:

1.    Untuk guru, disarankan untuk mencoba mengimplementasikan pendekatan pembelajaran ini sebagai alternatif pengembangan pembelajaran, agar dinamika kegiatan pembelajaran bersama siswa dapat ditingkatkan.

2.    Untuk kepala sekolah, disarankan agar mencermati pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) ini untuk tambahan wawasan, sebagai bekal dalam membina para guru.

3.    Untuk P4TK, disarankan untuk mencermati pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) ini agar dapat digunakan sebagai tambahan bahan layanan kepada para guru-guru di sekolah.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Atherton, J S. (2009). Learning and Teaching: Experiential Learning (on-line). UK: http://www.learningandteaching.info/learning/experience.htm Accessed: 30 march 2009.

Buchari, A. (2008). Kewirausahaan. Bandung: Penerbit ALFABETA.

Center for Service Learning at Denison University (2009). Reflection Ideas. http://www.denison.edu/service-learning/refideas.hatml.

Departemen Pendidikan Nasional (a). (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan Nasional (b). (2006). Peraturan Menteri Diknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional (c). (2007). Peraturan Menteri Diknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional (d). (2007). Prinsip-Prinsip Manajemen Pelatihan. Jakarta: Pusdiklat Depdiknas.

ILO. (2007). Modul 1 Mari Belajar Bisinis (MBB). Jakarta: ILO

Kolb, D. (2002). Powerful Learning Experiences. http://www. Learningfrom experience.com

Kunandar (20080). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rajawali Pers

Winkel, WS.(1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s