Laporan Penelitian : Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Penerapan Pendekatan Sistim Kontrak dengan Pendekatan Bimbingan Belajar Di Kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang Masalah

 Pembangunan nasional membutuhkan sumber daya manusia ( SDM) yang berkualitas yang memiliki sikap dan tekad kemandirian. Kualitas SDM dapat ditingkatkan dengan pendidikan. Parameter penilaian kualitas SDM ini adalah semangat dan kemampuan mengoperasikan dan mengaplikasikan teknologi. Program Pembinaan  Pendidikan Menengah yang mencakup Sekolah Menengah Umum (SMU), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) ditujukan antara lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan  menengah sebagai landasan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan kebutuhan dunia kerja.

           Kegiatan pokok dalam upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan menengah dengan  menyusun kurikulum yang berbasis kompetensi sesuai dengan kebutuhan dan potensi pembangunan daerah, mampu meningkatkan kreativitas guru sesuai dengan kapasitas peserta didik serta menekankan perlunya keimanan, dan ketaqwaan, wawasan  kebangsaan, kesehatan jasmani, kepribadian yang berakhlak mulia, beretos kerja, memahami hak dan kewajiban, serta meningkatkan penguasaan ilmu-ilmu dasar (matematika, sains dan teknologi, bahasa dan  sastra,  ilmu sosial).     

  Matematika merupakan salah satu bidang studi yang sangat penting diajarkan di sekolah. Oleh sebab itu pemerintah terus berusaha meningkatkan mutu pembelajaran matematika, diantaranya melengkapi sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran maupun pendidikan formal. Namun kenyataannya di lapangan menunjukan bahwa usaha-usaha tersebut masih belum memberikan hasil yang optimal.

Meskipun telah diupayakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa, namun pendidikan di sekolah saat ini masih dihadapkan pada permasalahan siswa yang berprestasi rendah, khususnya pada mata pelajaran matematika. Hal ini menuntut pentingnya guru memilih metode, strategi dan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai guna meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.

   Salah satu pendekatan pembelajaran yang sudah diterapkan dalam proses pembelajaran matematika di SMK Negeri 5 Sungai Penuh adalah pendekatan bimbingan belajar. Dalam proses belajar matematika pendekatan bimbingan belajar ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada siswa atau peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar matematika secara optimal.   Kegiatan bimbingan belajar memang sangat dibutuhkan, sebab siswa yang dibimbing melaksanakan kegiatan belajar individu (mandiri) yang bersumber dari modul dan Lembar Kerja Siswa (LKS).

 Namun pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika walaupun pendekatan bimbingan belajar telah diterapkan, sehingga menyebabkan hasil belajar matematika tetap rendah.  Hal  ini  terlihat dari hasil ujian mid semester ganjil

       Tahun Pelajaran 2009/2010, seperti terlihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1: Rata-rata nilai hasil ujian mid semester siswa pada mata pelajaran   

               matematika kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun

               Pembelajaran 2009/2010

 

No

Kelas

Jumlah Siswa

Rata- rata Nilai Ujian Semester II

1

X M1

34

51,03

2

X M2

32

56,25

3

X Bgn

29

57,76

4

X TE

38

56,05

(Sumber : Arsip data nilai guru matematika  SMKN 5 Sungai Penuh)

    Berdasarkan  tabel 1 diatas, terlihat bahwa rata-rata  nilai hasil ujian mid semester matematika siswa kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh  masih   berada dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan  yaitu 60,00. Jika masalah yang dikemukakan diatas  tidak diatasi maka tujuan peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran matematika sulit dicapai. Untuk mengatasi masalah diatas diharapkan guru dapat menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran siswa aktif yang diantaranya adalah penerapan pendekatan sistim kontrak.

 Berdasarkan  latar belakang masalah diatas, maka mendorong penulis untuk mengadakan penelitian  lebih lanjut yang berjudul  “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Penerapan Pendekatan Sistim Kontrak dengan Pendekatan Bimbingan Belajar Di Kelas X  SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010”.

1.2      Identifikasi Masalah

     Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan pembelajaran  matematika di SMK Negeri 5 Sungai Penuh sebagai berikut :

1.       Pembelajaran matematika masih bersifat konvensional yang menempatkan guru sebagai pusat belajar (teacher centered).

2.       Minat siswa dalam pembelajaran matematika yang masih rendah.

3.       Hasil belajar matematika siswa masih rendah.

 

1.3 Batasan Masalah

          Agar penelitian ini lebih terarah dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka perlu adanya pembatasan masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.       Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat.

2.       Hasil belajar yang dibahas hanya dalam aspek kognitif.

 

1.4 Rumusan Masalah

           Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa antara penerapan pendekatan sistim kontrak dengan pendekatan bimbingan belajar di kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010.”

1.5    Tujuan Penelitian

           Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  perbedaan hasil belajar matematika  antara penerapan pendekatan sistim  kontrak dengan bimbingan belajar di kelas X  SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010.

 

1.6      Manfaat Penelitian

1.       Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti dalam mengajarkan mata pelajaran matematika dimasa yang akan datang.

2.       Masukan bagi guru matematika sebagai alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah.

3.       Meningkatkan kinerja dan kemampuan guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang paling tepat.

4.       Bagi siswa, untuk dapat belajar lebih aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.

5.       Sebagai sumbangan pikiran bagi dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran matematika pada umumnya dan bahan masukan bagi peneliti pada khususnya.

 

1.7       Hipotesis Penelitian

          Hipotesis penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar  matematika antara penerapan pendekatan sistim kontrak dengan  pendekatan  bimbingan belajar di kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010, dimana :

Ho  = Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan  pendekatan sistim kontrak dengan pendekatan bimbingan belajar di kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010.

Hi = Terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan pendekatan sistim kontrak dengan pendekatan bimbingan belajar di kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1    Pengertian Belajar Mengajar

Keberhasilan pembelajaran  tidak  hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi proses pembelajarannya. Proses pembelajaran terjadi ketika ada interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa, karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik.

Pembelajaran meliputi dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Belajar mengacu pada kegiatan siswa sedangkan mengajar mengacu pada kegiatan guru. Belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang.   Pengertian belajar ini para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Selanjutnya beberapa defenisi belajar dapat dilihat pada uraian berikut Djamarah (2008:13) :

1.     James O Whittaker merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

2.     Cronbach berpendapat bahwa belajar sebagai suatu aktifitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

3.     Howard I. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan.

4.    

   7

Slameto merumuskan pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. 

           Walaupun terdapat perbedaan rumusan pengertian belajar, namun pada hakekatnya pendapat diatas mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu belajar merupakan perubahan tingkah laku siswa setelah adanya interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tersebut dapat berupa pengetahuan, kemampuan, kebiasaan, keterampilan maupun sikap melalui hubungan timbale balik antara siswa dengan lingkungannya.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan, guru hendaknya dapat mengajar dengan  baik. Menurut Ahmadi (2005:39) “Mengajar menurut pengertian modern berarti aktifitas guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada siswa atau anak didik sehingga terjadi proses belajar.”

Disamping itu Ad Rooijakkers (1986:1) mengemukakan bahwa “Mengajar berarti menyampaikan atau menularkan pengetahuan dan pandangan, dalam hal ini baik siswa maupun guru harus mengerti bahan yang akan dibicarakan. Dengan kata lain dalam kegiatan mengajar itu harus terjadi suatu proses, yaitu proses belajar.”

Berdasarkan  kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi belajar siswa. Pengertian diatas juga berlaku dalam proses belajar dan mengajar matematika, dimana penekanan pembelajaran matematika lebih diutamakan pada proses dengan tidak melupakan pencapaian tujuan. Proses ini lebih ditekankan pada proses belajar matematikan seseorang. Tujuan yang paling utama dalam pembelajaran matematika adalah mengatur jalan pikiran untuk memecahkan masalah bukan hanya menguasai konsep dan perhitungan walaupun sebagian besar belajar matematika adalah belajar konsep, struktur, keterampilan menghitung dan menghubungkan konsep-konsep tersebut.

2.2      Tinjauan Tentang Pendekatan Pembelajaran

Pembelajaran dalam rangka mencapai sejumlah kompetensi pada sekolah menengah kejuruan mensyaratkan penggunaan cara-cara belajar yang dapat mengkondisikan siswa aktif. Belajar tidak hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan yang bersifat teknis saja, namun  juga kemampuan-kemampuan yang bersifat intelektual, personal, sosial dan sebagainya.

Menurut Depdiknas (2008:3) “Pendekatan (approach) adalah cara umum dalam memandang suatu permasalahan atau objek kajian, sehingga muncul dampak dari cara pandang tersebut.” Ketepatan dalam memilih suatu pendekatan akan menjadi pedoman atau orientasi dalam pemilihan komponen kegiatan pembelajaran lainnya terutama strategi dan metode pembelajaran. Pendekatan dalam pembelajaran berfungsi sebagai acuan pengorganisasian  bahan ajar yang akan dipelajari oleh siswa selama proses pembalajaran. Beberapa jenis pendekatan pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan, diantaranya adalah pembelajaran individu (Individual Learning).

Pembelajaran individu merupakan salah satu prinsip dari pembelajaran berbasis kompetensi. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi pencapaian kompetensi bersifat individual bukan klasikal atau rata-rata kelas.  Menurut  Nasution (2008:58) menyatakan bahwa : “Ada beberapa cara pembelajaran individu diantaranya adalah belajar berprogram, belajar dengan bantuan computer, pengajaran sistim  modul, pengajaran sistim kontrak, sistim keller dan lain-lain.”

 

2.3      Tinjauan Tentang Pembelajaran Sistim Kontrak

Pembelajaran dengan sistim kontrak termasuk salah satu jenis pendekatan pembelajaran individual yang menggabungkan keuntungan dari berbagai pendekatan pengajaran individual lainnya, seperti tujuan yang spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan diukur, belajar menurut kecepatan masing-masing dan menyelesaikan tugas-tugas dalam waktu tertentu.

Pengertian kontrak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:522) adalah “(1) Perjanjian secara tertulis antara dua pihak dalam perdagangan, sewa menyewa dan lain-lain, (2) Persetujuan yang bersangsi hukum antara dua pihak atau lebih untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan.”

Menurut  Nasution (2008:73) “Pembelajaran sistim kontrak adalah siswa diberikan suatu kontrak yang berisikan keterangan  tentang apa yang harus dikerjakannya, hingga berapa tinggi tingkat penguasaan yang harus di capainya dan kredit atau bentuk penghargaan apa yang akan diberikan.”

Lebih lanjut Nasution (2008:69) menyatakan bahwa :

“Agar sistim  kontrak ini efektif, maka diberikan petunjuk-petunjuk sebagai berikut: (1) Setiap tugas hendaknya diberikan penghargaan berupa kredit, (2) Kredit itu hendaknya diberikan sesering mungkin, (3) Kontrak itu hendaknya mengutamakan prestasi, bukan kepatuhan, (4) pekerjaan harus diberikan penghargaan selekas mungkin setelah tugas diselesaikan, (5) Kontrak harus layak, (6) Syarat-syarat kontrak harus jelas, (7) Kontrak harus jujur dan positif, (8) Kontrak itu sebagai metode belajar harus di susun secara sistematis.”

 

Dasar sistim kontrak ini adalah bahwa angka-angka merupakan motivasi utama bagi siswa untuk belajar. Siswa biasanya hanya belajar bila menghadapi ujian, tes atau ulangan. Untuk mendorong siswa belajar, maka dalam pendekatan system kontrak dapat diuraikan sejumlah tugas yang harus diselesaikan siswa. Untuk itu siswa menanda tangani suatu kontrak tentang tugas-tugas yang akan diselesaikannyadalam waktu tertentu. Setiap tugas ditentukan jumlah kredit yang dapat diperolehnya. Keseluruhan kredit itu akan menentukan angka akhirnya.

 

2.4      Tinjauan Tentang Bimbingan Belajar

Hasil belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan . Namun sayangnya ancaman, hambatan dan gangguan dialami  siswa tertentu, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya hasil belajar.

Usaha demi usaha harus diupayakan dengan berbagai strategi dan pendekatan agar siswa dapat dibantu keluar dari kesulitan belajar. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa adalah memberikan bantuan kepada siswa melalui bimbingan belajar.

Menurut  Walgito  (1985 :10)  menyatakan  bahwa  “Bimbingan   adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan didalam kehidupannya, agar individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.”

Disamping itu H.P Gammon (1969) dalam Andi Mapiare (1984:131) menyatakan bahwa :

“Bimbingan di sekolah menengah adalah usaha membantu siswa agar dapat sebanyak mungkin memetik manfaat dari pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan selama berada di sekolah menengah …. Bimbingan di sekolah meliputi harapan-harapan yang menyangkut perkembangan pendidikan, perkembangan social, dan psikologis dan sedapat mungkin di orientasikan pada bidang akademis.”

 

Lebih lanjut Mapiare (1984:169) mengemukakan bahwa “Bimbingan belajar adalah membantu siswa agar ia mendapat pengertian,dan menerima tanggung jawab pengembangan keterampilan, menciptakan situasi belajar yang tentram, mengembangkan gairah belajar dan menjadikan proses belajarnya lebih maju.”

Berdasarkan  pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan belajar adalah seperangkat usaha bantuan kepada siswa agar siswa dapat membuat pilihan, mengadakan penyesuaian dan dapat memecahkan masalah-masalah belajar, masalah pendidikan dan masalah akademis yang dihadapinya.

Dalam proses belajar matematika pendekatan bimbingan belajar ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada siswa atau peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar matematika secara optimal. Kegiatan bimbingan belajar memang sangat dibutuhkan, sebab siswa yang dibimbing melaksanakan kegiatan belajar individu (mandiri) yang bersumber dari modul dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam mata pelajaran matematika. Itu sebabnya kegiatan bimbingan belajar ini sering dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran modular. Modul dipelajari oleh siswa menurut kecepatan masing-masing. Tidak semua siswa yang yang mempelajari bahan itu dalam waktu yang sama. Maka guru selalu membimbinga siswa secara individu.

Urutan kegiatan dalam prosedur bimbingan belajar adalah :

1.            Menentukan, merumuskan dan mengkaji permasalahan belajar yang dihadapi siswa.

2.            Mencari informasi dari berbagai sumber yang mengalami kesulitan dan masalah bagi siswa.

3.            Melaksanakan berbagai pendekatan kearah pemecahan masalah yang dihadapi siswa.

4.            Memberikan bantuan dan nasehat kepada peserta dan atau mengajarkan kembali materi modul yang dianggap perlu atau dibutuhkan siswa.

5.            Menempatkan kembali peserta yang telah mendapat bimbingan kedalam kelompok siswa lain.

6.            Melakukan pembinaan terus menerus dan memantau perkembangan belajar siswa selanjutnya.

2.5       Tinjauan Tentang Hasil Belajar

       Hasil belajar merupakan suatu hal yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang digunkan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi pelajaran.                                                       Menurut Nana Sudjana (1995:22 ) mengemukakan bahwa : “Hasil belajar adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia  memperoleh

pengalaman belajarnya.” Sementara itu Gagne dan Briggs (1978:49-55) dalam Yunita (2008:14)  mengemukakan  bahwa:

“Hasil belajar yang berkaitan dengan lima kategori tersebut adalah : (1) ketrampilan intelektual adalah kecakapan yang berkenaan dengan pengetahuan prosedural yang terdiri atas deskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi kaidah serta prinsip, (2) strategi kognitif adalah kemampuan untuk memecahkan masalah–masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing – masing individu dalam memperlihatkan, mengingat dan berfikir, (3) informasi verbal adalah kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi –informasi yang relevan, (4) ketrampilan motorik adalah kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan–gerakan yang berhubungan dengan otot, (5) sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan untuk menerima atau menolak berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.”

Sedangkan Bloom (1976:201-207) dalam Yunita (2008:14) menyatakan bahwa:  ”Hasil belajar dibagi menjadi tiga  kawasan  yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.” Kawasan kognitif berkenaan dengan ingatan atau pengetahuan dan kemampuan intelektual serta ketrampilan- ketrampilan. Kawasan afektif menggambarkan sikap-sikap, minat dan nilai serta pengembangan pengertian atau pengetahuan dan penyesuaian diri yang memadai. Kawasan  psikomotor adalah kemampuan–kemampuan menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak.

Kawasan kognitif dibagi atas enam macam kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang disusun secara hirarkis dari yang paling sederhana  sampai kepada yang paling kompleks, yaitu (1) pengetahuan adalah kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari, (2) pemahaman adalah kemampuan menangkap makna atau arti suatu hal, (3) penerapan adalah kemampuan mempergunakan hal – hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi–situasi baru dan nyata, (4) analisis adalah kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian–bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami, (5) sintesis adalah kemampuan untuk memadukan bagian–bagian menjadi satu keseluruhan yang berarti, (6) penilaian adalah kemampuan memberi harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau kriteria ekstern atapun yang ditetapkan lebih dahulu.

            Berdasarkan  pandangan-pandangan dari para ahli tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa  hasil belajar matematika  dalam penelitian ini adalah  hasil dari seorang siswa dalam  mengikuti proses belajar mengajar matematika yang diukur dari kemampuan siswa tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika.

2.6      Kerangka Konseptual

 

           Kerangka konseptual merupakan kegiatan berpikir yang menjadi dasar bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Mata pelajaran Matematika di SMK merupakan salah satu mata pelajaran dalam kelompok adaptif pendukung mata pelajaran dasar kejuruan. Tujuan pembelajaran Matematika adalah agar peserta didik berlatih berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif. Dengan demikian proses pembelajarn matematika harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup untuk melakukan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

            Secara grafis pemikiran yang dilakukan oleh peneliti dapat digambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut :

 

Kelompok

Eksperimen I

Kelompok

Eksperimen II

Penerapan

 Sistem kontrak

Penerapan

 Bimbingan Belajar

Hasil Belajar

Hasil Belajar

Analisis Statistik

Siswa

 

 

 

 

 

 

 

        Diagram 1:  Diagram kerangka berfikir

 

     Berdasarkan diagram diatas, maka rancangan penelitian ini  menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II. Pada kelas eksperimen I diterapkan pendekatan  sistem kontrak dan pada kelas eksperimen II diterapkan pendekatan  bimbingan belajar. Pada akhir tindakan sama-sama dilakukan tes untuk melihat  perbedaan hasil  belajarnya.

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1    Jenis Penelitian

           Sesuai dengan masalah penelitian, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimen. Suharsimi Arikunto (2008:26) menyatakan bahwa “Penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang akibat dari adanya suatu treatment atau perlakuan.” Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis yang dilandasi asumsi yang kuat akan adanya hubungan sebab akibat antara dua variable.

           Rancangan penelitian eksperimen ini adalah  Design Kelompok Kontrol dengan Menggunakan Tes Akhir saja (Post test-Only Control Group Design)  yang menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II  yang kedua kelas diterapkan perlakukan yang berbeda.

Tabel 2 :  Rancangan Penelitian

Group

Pretest

Treatment

Post test

Eksperimen I

X1

T1

Eksperimen II

X2

T2

 

       X1 = Kelas dengan pendekatan sistim kontrak

X2 = Kelas dengan pendekatan bimbingan belajar

T1 = Tes akhir pada kelas eksperimen I

    17

T2 = Tes akhir pada kelas eksperimen II

3.2    Populasi dan Sampel

 

3.2.1      Populasi

            Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang merupakan sumber data dan memiliki karakteristik tertentu di dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh yang terdiri dari empat kelas yang terdaftar pada semester I tahun pelajaran 2009/2010. Lebih lengkapnya distribusi siswa setiap kelas dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 3:  Jumlah siswa kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun   

               Pelajaran 2009/2010.

 

 

Kelas

Jumlah Siswa

X  M1

34

X  M2

32

X  Bgn

29

X  TE

38

Jumlah

133

    (Sumber : Tata Usaha SMK Negeri 5 Sungai penuh)

Keterangan :

X M1                             = Kelas X Teknik Mesin 1

X M2                             = Kelas X Teknik Mesin 2

X Bgn                            = Kelas X Teknik Bangunan

X TE                              = Kelas X Teknik Elektronika 1

3.2.2      Sampel

          Sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.       Mengumpulkan nilai hasil ujian matematika mid semester  siswa kelas X,  kemudian nilai tersebut dikelompokan menurut kelas masing-masing, setelah itu dihitung nilai rata-rata dan standar deviasinya.

2.      Melakukan uji homogenitas varians. Uji Homogenitas varians ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi mempunyai varians yang homogen. Uji statistik yang digunakan adalah uji Bartlett. Harga-harga yang digunakan untuk uji Bartlett adalah :

          Tabel 4. Harga-harga untuk uji Bartlett

 

Sampel ke

dk

1/dk

S12

Log S12

(dk)Log S12

1

1

K

n1 – 1

n1 – 1

nk – 1

1/(n1 – 1)

1/(n1 – 1)

1/(nk – 1)

S12

S12

Sk2

Log S12

Log S12

Log Sk2

(n1 – 1)Log S12

(n1 – 1)Log S12

(n1 – 1)Log Sk2

Jumlah

∑ (n1-1)

∑ (n1-1)

∑(n1 – 1)Log Sk2

 

                     Dari daftar ini dihitung harga-harga yang diperlukan, yakni :

a.      Varians gabungan dari semua sampel :

        S2 = (1/n1 – 1) S12/∑(nk – 1)

              b.   Harga satuan B dengan rumus :

         B = (log S22) ∑(n1 – 1)

               c.  Untuk uji Bartlett digunakan statistic Chi-Kuadrat :

        2 = (In 10)(B-∑(n1-1) log S12)

        Dengan In 10 = 2,3026 disebut logaritma asli dengan bilangan 10. Dengan taraf α = 0,05 ditolak hipotesis jika 2 > 2(1-α)(k-1), dimana2(1-α)(k-1) didapat dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan peluang (1-α) dan dk = (k-1). (Sujana , 1992).

3.          Setelah dilakukan pengujian homogenitas, dilakukan pemilihan sampel secara acak terhadap populasi dengan menggunakan undian.

 Berdasarkan hasil uji homogenitas maka yang terpilih menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kelas X M1 dan X M2, dimana kelas X M1 sebagai kelas eksperimen I dan kelas X M2 sebagai kelas ekperimen II.

 

3.3    Variabel Penelitian

          Menurut Arikunto (2002:96) “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi pokok perhatian pada suatu penelitian.” Pada penelitian ini diambil variable sebagai berikut :

a.                Variabel bebas      : Perlakuan yang diberikan kepada siswa kelas eksperi –   

                          men dan kelas control.

b.                Variabel terikat     : Hasil belajar matematika siswa yang diperoleh melalui

                          hasil tes akhir.

3.4     Jenis dan Sumber data

        Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh peneliti untuk tujuan khusus. Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang luar peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu adalah data yang asli. Dalam penelitian ini data yang dibutuhkan adalah tes akhir hasil belajar, sedangkan sumber data adalah siswa-siswa yang menjadi sampel.

 

3.5  Teknik Pengumpulan Data

3.5.1 Instrumen Penelitian

           Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil tes kepada kedua sampel.Instrumen penelitian pada aspek kognitif berupa tes materi pelajaran yang diberikan selama perlakukan berlangsung.

         Untuk mendapatkan tes yang benar-benar valid, reabilitas serta memperhatikan taraf kesukaran dan daya beda soal  maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a.    Membuat kisi-kisi soal tes

b.    Menyusun soal tes sesuai dengan kisi-kisi soal tes

c.     Melakukan uji coba soal tes yang bertujuan untuk merevisi soal tes. Soal diujicobakan kepada siswa kelas XI karena kelas ini rata-rata  nilai ulangan hariannya berdistribusi normal dengan kelas sampel.

    Hasil ujicoba soal dianalisis mempergunakan prosedur statistik sebagai berikut :

3.5.2 Validitas Soal

Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Untuk mendapatkan tes yang valid maka penyusunan soal tes berdasarkan pada materi  yang telah ditetapkan kurikulum.

3.5.3           Reliabilitas Soal

Reliabelitas soal merupakan ketetapan suatu tes apabila tes dicobakan pada objek yang sama. Untuk menentukan reliabelitas suatu tes dipakai rumus Kuder Richerdson (KR-21) yang dikemukakan oleh Arikunto (1999),  yaitu:

                   r11 =   1 –        

Dengan:

    M =

S2 =

                              ∑x         dan                     N∑x2 – (x2)                           

                               N                                     N (n – 1)

 r11                     : Reliabilitas tes secara keseluruhan

 n                     : Jumlah butir soal

M                    : rata-rata skor tes

N                     : Jumlah pengikut tes

S2                    : Varians total

 

 Kriteria reliabilitas tes dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 5.

 Tabel 5:  Klasifikasi indeks reliabelitas soal

No

Indeks Reliabelitas

Klasifikasi

1

0,00 < r11 ≤0,20

Sangat rendah

2

0,21 < r11 ≤0,40

Rendah

3

0,41 < r11 ≤0,60

Sedang

4

0,61 < r11 ≤0,80

Tinggi

5

0,81 < r11 ≤1,00

Sangat tinggi

 

Dari hasil perhitungan diperoleh reliabilitas untuk 20 butir soal adalah 0,82. Hal ini berarti soal tersebut memiliki reliabilitas sangat tinggi.

3.5.4           Daya Pembeda

    Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.

   Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks daya beda adalah sebagai berikut:

                  ( Suharsimi Arikunto, 2001: 211)

D   : Daya beda

BA: Jumlah kelompok atas yang menjawab dengan benar

BB  : Jumlah kelompok bawah yang menjawab dengan benar

JA   : Jumlah peserta kelompok atas

JB   : Jumlah peserta kelompok bawah

 Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.

 Proporsi peserta kelompok bawah  menjawab benar.

Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal:

                   Tabel 6: Klasifikasi daya beda soal

No

Daya beda soal

Kriteria

1

0,000 < D ≤0,200

Jelek

2

0,201 < D ≤0,400

Cukup

3

0,401 < D ≤0,700

Baik

4

0,701 < D ≤1,000

Baik sekali

 

Dari hasil perhitungan diperoleh daya beda yaitu 0,182 (jelek) dan 0,727 (dipakai). Dari 25 soal tersebut 5 soal dinyatakan dibuang, jadi soal yang terpakai sebanyak 20 butir.

3.5.5           Taraf Kesukaran

     Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran, adalah:

                           (Suharsimi Arikunto, 2001: 208)

Dengan:

P                    : Indeks kesukaran

B                   : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar

Js                   : Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut:

Tabel 7: Klasifikasi Indeks kesukaran

No

Indeks Kesukaran

Kriteria

1

 0,00  –  0,30

Sukar

2

  0,31 –  0,70

Sedang

3

0,71 – 1,00

Mudah

 

Dari hasil perhitungan tingkat kesukaran soal yang sukar yaitu 0,273 (dibuang) dan soal yang mudah 0,727 (dipakai).

3.6     Teknik Analisa data

           Untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik. Untuk melakukan uji statistik maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi kedua kelompok.

3.6.1        Uji Normalitas

            Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok sampel berdistribusi normal atau tidak. Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan uji Lillieford dengan langkah sebagai berikut :

      1. Data X1, X2,  X3, ………….. Xn yang diperoleh dari data yang    

    terkecil hingga data yang terbesar.

      2. Data X1, X2,  X3,  ………. Xn dijadikan bilangan  Z1,  Z2,  Z3 ……. Xn

     dengan rumus :

                      Zi =   Xi – X

                                    S

      Keterangan :

      Xi = Skor yang diperoleh siswa ke-i

       X =  Skor rata-rata

       S = Simpangan baku              

                   3. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian  

       dihitung peluang F (Zi) = P (z < Zi)

4.       Dengan menggunakan propersi Z1,  Z2,  Z3 ……. Xn yang lebih kecil

    atau sama dengan Zi, jika propersi ini dinyatakan dengan S (Zi)   :

S (Zi) =

                        banyak  Z1,  Z2,  Z3 yang ≤ Zi

                                            n

5.          Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian harga mutlaknya.

6.          Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut yang disebut Lo.

7.          Membandingkan Lo dengan nilai kritis A yang terdapat pada taraf nyata α = 0,05, kriteria terima yaitu hipotesis tersebut normal jika Lo < Lt, lain dari itu ditolak. (Sujana , 1992 : 467).

3.6.2  Uji Homogenitas

       Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F. Uji ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.       Mencari varians masing-masing data kemudian dihitung harga F  dengan rumus :

F  =

                         Varians terbesar

                         Varians terkecil

Keterangan :

F    = Varians kelompok data

S12 = Varians hasil belajar kelas eksperimen I

S22 = Varians hasil belajar kelas eksperimen II

 

2. Jika harga sudah didapat maka dibandingkan dengan F tersebut dengan harga F yang terdapat dalam daftar distribusi F dengan taraf signifikan 95% dan dk pembilang  = n1–1 dan dk penyebut = n2–1. Bila F yang didapat dari perhitungan lebih kecil dari harga F pada tabel maka kedua kelompok data mempunyai varians yang homogen dan sebaliknya. (Sujana, 1992).

3.6.3  Uji Hipotesis

   t=

             Untuk melihat apakah terdapat atau tidaknya perbedaan hasil belajar matematika antara pendekatan system kontrak dengan pendekatan bimbingan belajar, maka dilakukan pengujian hipotesis. Untuk uji hipotesis ini digunakan uji-t dengan rumus: (Sujana. 1992:239)

                X1 – X2

                     S    +

 

  Dengan :

            S2=

 

             ( (n1 – 1) S12  + (n2 – 1) S22

                        n 1 + n2 – 2

 

  Keterangan :                 

  X1               = Nilai rata- rata kelas eksperimen I

  X2                      = Nilai rata- rata kelas eksperimen II

  S= Standar deviasi gabungan

  n1                       = Jumlah siswa kelas eksperimen I

  dk              = Derajat kebebasan

 n 2               = Jumlah siswa kelas eksperimen II

 S2                = Varians gabungan

           Harga thitung dibanding denganttabel, yang terdapat dalam tabel distrbusi t. Kriteria pengujian hipotesis adalah terima Ho jika t ≥ t (1-α) dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan peluang (1 – α). Untuk harga-harga lainnya Ho ditolak.

 

3.7    Prosedur Penelitian

          Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian.

3.7.1     Tahap Persiapan

a. Menentukan tempat penelitian

b. Menentukan populasi dan sampel

c. Memilih dua kelas sampel secara acak

d. Menetapkan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II

3.7.2   Tahap Pelaksanaan

            a. Persiapan pembelajaran

                1) Menentukan materi pelajaran

                2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran

                3) Membuat bahan ajar berupa ringkasan materi pelajaran

                4) Menyusun Lembar Kerja Siswa dan tugas latihan

                5) Mempersiapkan tes akhir

            b. Kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen I menggunakan pendekatan sistim kontrak  dan kelas eksperimen II menggunakan pendekatan bimbingan belajar. Skenario pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 8: Perlakuan yang diberikan pada kedua kelas sampel

No

Kelas Eksperimen I

Kelas Eksperimen II

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Pendahuluan

a. Mengisi absen siswa

b.Guru menyampaikan kontrak pembelajaran sebelum pelajaran dimulai berdasarkan tugas dari materi yang akan dipelajari

c. Guru memberi apersepsi, motivasi, dan menyampaikan indikator yang harus dicapai.

Kegiatan Inti

a. Guru memberikan materi sesuai standar kompetensi yang dipelajari yaitu memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan dan pertidaksamaan linier dan kuadrat

b. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mendalami konsep yang sedang dipelajari dengan metode tanya jawab.

c. Bersama siswa, guru membuat kontrak belajar tentang tujuan pembelajaran sesuai indikator dan jenis kegiatan yang dilakukan, antara lain : Membuat soal latihan, Jumlah soal, Waktu penyelesaian, Skor/poin setiap soal dan poin plus (tambahan) apabila dapat menyelesaikan soal yang diberikan di depan kelas.

d. Guru menfasilitasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan soal latihan dan memberikan contoh soal dan pembahasannya.

e. Siswa mengerjakan soal latihan untuk mencari jawabannya sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

f. Guru menyuruh siswa untuk bertukar lembar jawaban untuk diperiksa oleh temannya sebangku.

g. Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang mau menjawab soal nomor satu didepan kelas, dan setelah siswa menuliskan jawaban maka guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk memberikan tanggapan, begitu juga untuk soal-soal selanjutnya diberikan kepada siswa yang lain untuk mencari jawabannya di depan kelas.

h. Siswa menjumlahkan skor yang diperoleh dari jawaban latihan temannya dan menyebutkannya, dan guru memberikan penghargaan dalam bentuk nilai dan predikat amat baik, baik, cukup dan kurang.

Penutup

a. Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran

b. Guru memberikan tugas rumah dan menyampaikan kontrak tugas PR yang akan diselesaikan siswa

c. Menyampaikan topik materi pelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

Pendahuluan

a. Mengisi absen siswa

b.Guru memberi apersepsi, motivasi, dan menyampaikan indikator yang harus dicapai.

 

 

Kegiatan Inti

a. Guru memberikan materi sesuai standar kompetensi yang dipelajari yaitu memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan dan pertidaksamaan linier dan kuadrat

b. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mendalami konsep yang sedang dipelajari dengan metode tanya jawab.

c. Guru menfasilitasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan soal latihan dan memberikan contoh soal dan pembahasannya.

d. Siswa mengerjakan soal latihan untuk mencari jawabannya.

e. Siswa mengumpulkan lembaran jawaban kepada guru.

f. Guru menanyakan mana soal yang sulit kepada siswa, dan guru membimbing siswa menyelesaikan soal tersebut di depan kelas.

g. Guru memeriksa lembaran jawaban latihan  siswa dan mencantumkan nilai yang diperolehnya.

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

a. Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran

b. Guru memberikan tugas rumah.

c. Menyampaikan topik materi pelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

 

        3.7.3 Tahap Penyelesaian

a. Mengolah data dari kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen I maupun kelas eksperimen II.

b. Menarik kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai teksik analisa data

 

3.8   Tempat dan Waktu Penelitian

          Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 5 Sungai Penuh Jalan Stadion Pancasila Tanah kampung Kota Sungai Penuh Propinsi Jambi. Penelitian November 2009,  tepatnya pada semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010.          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1    Deskripsi  Data

           Setelah kegiatan penelitian selesai dilaksanakan pada kedua kelas, maka dilaksanakantes akhir untuk melihat hasil belajar siswa. Pada tes akhir dari yang telah dilaksanakan diperoleh data hasil belajar siswa berupa nilai. Deskripsi data tes akhir kedua kelas dapat dilihat pada tabel berikut.

       Tabel 9: Hasil tes akhir kedua kelas

Kelas Sampel

N

 (Jumlah Siswa)

X

(Nilai rata-rata)

S

(Standar Deviasi)

S2

(Varians)

Eksperimen I

Eksperimen II

34

32

65, 59

62, 50

11,73

12,11

137,522

146,774

 

           Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen I lebih tinggi dari   rata-rata hasil belajar kelas eksperimen II.

 

4.2 Analisis Data

   33

Tujuan dari analisis data adalah untuk melihat apakah hasil belajar matematika siswa yang menerapkan pendekatan sistim kontrak berbeda dengan penerapan bimbingan belajar pada standar kompetensi memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat di SMK Negeri 5 Sungai Penuh. Untuk mengetahui perbedaan tersebut digunakan uji t, namun terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap hasil tes belajar kedua kelas.

4.2.1        Uji Normalitas

           Dari uji normalitas yang dilakukan terhadap masing-masing kelompok harga Lo. Harga ini kemudian dibandingkan dengan Ltabel untuk kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 9.

           Tabel 10: Data Uji Normalitas

Kelas Sampel

Lo

Ltabel

Hasil Uji

Keterangan

Eksperimen I

Eksperimen II

0,1076

0,1145

0,1519

0,1563

Lo < Ltabel

Lo  < Ltabel

Normal

Normal

 

4.2.2           Uji Homogenitas

            Dari uji homogenitas yang dilakukan terhadap masing-masing kelompok diperoleh Fhitung. Selanjutnya Ftabel untuk taraf nyata 0,10. Hasil yang diperoleh pada tabel 10.

           Tabel 11: Data Uji Homogenitas

Varians

N

Fhitung

Ftabel

Hasil Uji Varians

Eksperimen I

Eksperimen II

34

32

1,067

1,820

Homogen

 

                         Dari tabel terlihat bahwa Fhitung  < Ftabel     berarti kedua kelas mempunyai  varians yang homogen dengan tingkat kepercayaan 90% dengan α = 0,10.

4.2.3           Uji Hipotesis

            Dari hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukan bahwa kedua kelas normal dan mempunyai varians yag sama. Selanjutnya digunakan uji t untuk mengetahui perbedaan dua rata-rata. Dengan memperhatikan persentil t dan tabel distribusi t. Untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan dk = 64 diperoleh thitung = , hasil ini dapat dilihat pada tabel 12 .

                 Tabel 12: Pengujian Hipotesis

 

Kelas

 

N

 

X

 

S

 

 

St

 

thitung

 

ttabel

Eksperimen I

Eksperimen II

34

32

65,588

62,500

11,73

12,11

11,917

5,291

1,670

 

4.3 Pembahasan

          Setelah dilaksanakan perhitungan dengan menggunakan uji t didapat thitung  sebesar 5,291 dan ttabel  sebesar 1,670 ternyata thitung lebih besar dari ttabel  pada taraf kepercayaan 95%, hal ini berarti hipotesis nol (Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan  pendekatan sistim kontrak dengan pendekatan bimbingan belajar di kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2009/2010, pada taraf kepercayaan 95% ditolak.”

           Berdasarkan tes akhir yang dilaksanakan dikelas eksperimen I dan eksperimen II didapatkan hasil bahwa terdapat perbedan hasil belajar matematika antara kelas eksperimen dengan kelas control akibat perlakuan yang diberikan. Pada kelas eksperimen I yang diajarkan dengan menerapkan pendekatan sistim kontrak dengan hasil rata-rata tes akhir 65,59 dan standar deviasi 11,73. Sedangkan pada kelas eksperimen II diajarkan dengan menerapkan pendekatan bimbingan belajar diperoleh rata-rata tes akhir sama dengan 62,50 dan standar deviasi 12,11.

          Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan sistim kontrak lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menerapkan bimbingan belajar di kelas X SMK Negeri 5 Sunga Penuh.

 Pada saat penelitian berlangsung siswa yang menggunakan pendekatan sistimm kontrak sangat antusias mengikuti pelajaran dikarenakan dengan pendekatan sistim kontrak siswa dapat lebih memahami konsep-konsep yang diajarkan, sehingga proses pembelajaran terlaksana dengan teratur berdasarkan kontrak pembelajaran sebagai acuan.

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

          Dari hasil uji hipotesis pada taraf kepercayaan 95% dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.     Hasil belajar matematika siswa yang menerapkan pendekatan sistim kontrak (kelas eksperimen I) memperoleh nilai rata-rata 65,59 dengan standar deviasi 11,73 dan siswa yang menerapkan bimbingan belajar (kelas eksperimen II) memperoleh nilai rata-rata 62,50 dengan standar deviasi 12,11.

2.     Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data diperoleh thitung = 5,291dan ttabel = 1,670  berarti H0 ditolak H1 diterima, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa  yang menerapkan pendekatan sistim kotrak lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menerapkan bimbingan belajar pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) di kelas X SMK Negeri 5 Sungai Penuh.

 

B.      Saran

1.      

   37

Pendekatan sistim kontrak sebagai salah satu pendekatan pembelajaran individual dalam proses pembelajaran matematika sangat bermanfaat sekali bagi guru maupun siswa, terutama sekali dalam mata pelajaran matematika yang selama ini dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Penggunaan  pendekatan   pembelajaran  ini  dapat  menarik  perhatian dan

motivasi siswa untuk mempelajari suatu konsep. Oleh karena itu pada pembelajaran standar kompetensi menjelaskan materi memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat disarankan kepada guru matematika  menerapkan pendekatan sistim kontrak untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.

2.       Setelah diketahui pendekatan pembelajaran sistim kontrak lebih baik dari pendekatan bimbingan belajar dalam menjelaskan materi memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat , maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan pendekatan sistim kotrak untuk standar kompetensi lainnya dalam bidang studi matematika.

3.       Khusus untuk SMK Negeri 5 Sungai Penuh diharapkan selalu mencoba menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran yang baru dalam proses pembelajaran terutama bidang studi matematika  agar minat dan motivasi siswa meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ad Rooijakkers. 1986. Mengajar dengan Sukses. Jakarta : PT. Gramedia

 

Abu Ahmadi. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

 

Andi Mapiare. 1084. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah.  Surabaya :   

         Usaha Nasional

 

Bloom, Benyamin S., 1976. Handbook on Formative and Summative Evaluation   

          of Student Learning. New York :McGraw- Hill Book Company.

 

Depdiknas. 2008. Pengembangan dan Penerapan Model Pembelajaran  Berbasis

          Kompetensi. Jakarta : Depdiknas

 

Gagne, Robert M. 1978. The Conditions of Learning. New York : Holt, Rinehart

          and Winston, Inc.

Nana Sudjana. 1995.  Penilaian  Hasil  Proses  Belajar Mengajar. Bandung:  PT.   

          Remaja Rosda Karya

Nurul Zuriah. 2006. Metodologi  Penelitian  Sosial dan Pendidikan. Jakarta : PT.  

         Bumi Aksara.

 

Suharsimi Arikunto,.  1999.  Dasar-Dasar  Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Bumi

         Aksara

 

________________,. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Rajawali

 

Syaiful Bahri Djamarah. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

 

Yunita Dwi. 2008.  Efektifitas  Pembelajaran Matematika  Menggunakan   Media    

         Gambar dengan Bantuan Power Point Ditinjau dari Aktifitas Belajar Siswa.

          Surakarta : UMS

 

S. Nasution. 2008.  Berbagai  Pendekatan  dalam  Proses  Belajar dan  Mengajar.  

          Jakarta : PT. Bumi Aksara

 

Sudjana. 1996. Metode Statistik. Bandung : Tarsito

 

Toha Anggoro. 2007. Metode Penelitian. Jakarta : Universitas Terbuka

 

Winarno Surakhman. 1985.  Pengantar   Interaksi   Mengajar Belajar.  Bandung :  

         Tarsito

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s