Laporan PTK : Penerapan pendekatan pembelajaran Open-Ended

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam impelementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdapat misi yang hendak dicapai, yaitu menjadikan siswa kelak sebagai warga negara yang cerdas, terampil dan berwatak, kompeten secara memadai serta mampu mewujudkan keberlangsungan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbekal dari semua itu, secara sadar dan penuh tanggung jawab, siswa akan menggunakannya untuk membangun identitas budaya, integritas sosial dan kepribadian bangsanya serta untuk menghadapi tantangan kehidupan dan penghidupan dimasa yang akan datang. Untuk mewujudkan misi tersebut perlu dilakukan perubahan terhadap pembelajaran yang berlangsung selama ini di sekolah, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada optimalisasi kompetensi siswa. Perubahan tersebut perlu dilakukan karena pembelajaran yang berorientasi pada guru, keterlaksanaannya lebih bersifat indoktrinatif dengan menekankan pencapaian target kurikulum pada ranah pengetahuan saja. Sementara tuntutan lulusan SMK bukan hanya dapat memasuki dunia kerja, tetapi juga diharapkan mampu melanjutkan ke pendidikan lebih lanjut. Oleh karena itu pendidikan kejuruan bukan hanya perlu membekali siswa dengan keterampilan kejuruan saja, namun juga kemampuan adaptasi yang cukup dan sesuai dengan kejuruan yang diampunya, sehingga siswa siap menghadapi perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Program adaptif adalah kelompok mata pelajaran yang berfungsi membentuk siswa sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Program adaptif berisi mata pelajaran yang lebih menitikberatkan pada pemberian kesempatan kepada siswa untuk memahami dan menguasai konsep dan prinsip dasar ilmu dan teknologi yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari dan atau melandasi kompetensi untuk bekerja. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang sangat penting diajarkan di sekolah. Oleh sebab itu pemerintah terus berusaha meningkatkan mutu pembelajaran matematika, di antaranya melengkapi sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran maupun melanjutkan pendidikan formal.

Namun kenyataannya di lapangan menunjukan bahwa usaha-usaha tersebut masih belum memberikan hasil yang optimal, khususnya pada mata pelajaran matematika. Hal ini terlihat dari masih banyaknya guru yang belum menggunakan metode pembelajaran yang terpusat pada siswa. Untuk mengatasi hal ini maka guru dituntut untuk memilih metode, strategi dan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai guna meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sudah diterapkan dalam proses pembelajaran matematika adalah pendekatan pembelajaran sistim modul. Pendekatan pembelajaran dengan sistem modul memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara individual sesuai dengan percepatan pembelajaran masing-masing. Modul sebagai alat atau sarana pembelajaran berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Namun pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika walaupun pembelajaran dengan sistem modul telah diterapkan, sehingga menyebabkan hasil belajar matematika tetap rendah. Hal ini terlihat dari hasil ujian semester genap Tahun Pelajaran 2009/2010, seperti terlihat pada tabel 1 dibawah ini. Tabel 1: Nilai Rata-Rata Matematika Siswa Kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh Semester Genap Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kelas Jumlah Siswa Rata- Rata Nilai Ujian Semester Genap 1 X KK 1 31 56,61 2 X KK 2 32 58,28 3 X KL 31 57,90 4 X KT 26 56,67 5 X DKV 30 59,83 (Sumber : Arsip data nilai guru matematika SMK Negeri 4 Sungai Penuh) Keterangan : X KK : Kelas X Kriya Kayu X KL : Kelas X Kriya Logam X KT : Kelas X Kriya Tekstil X DKV : Kelas X Dokumen Komunikasi Visual Berdasarkan tabel 1 di atas, terlihat bahwa nilai rata-rata hasil ujian matematika siswa kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010 masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 60,00. Jika masalah yang dikemukakan di atas tidak diatasi maka tujuan peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran matematika sulit dicapai. Untuk mengatasi masalah di atas diharapkan guru dapat menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran siswa aktif yang salah satunya adalah dengan menggunakan pendekatan Open-Ended pada pembelajaran matematika. Pendekatan Open-Ended merupakan salah satu pendekatan yang membantu siswa melakukan penyelesaian masalah secara kreatif dan menghargai keragaman berpikir yang mungkin timbul selama mengerjakan soal. Dalam pembelajaran Pendekatan Open-Ended, dimulai dengan pertanyaan dalam bentuk Open-Ended yang diarahkan untuk menggiring tumbuhnya pemahaman atas masalah yang diajukan. Pendekatan ini memberi siswa kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman menemukan, mengenali dan memecahkan masalah dengan beberapa cara berbeda. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Open-ended dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka mendorong penulis untuk mengadakan penelitian lebih lanjut yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Open-Ended Di Kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011”. 1.2 Identifikasi masalah Berdasarkan kondisi yang telah diuraikan diatas, maka diidentifikasikan penyebab kurangnya pencapaian hasil belajar siswa di antaranya adalah : 1. Belum diterapkannya pendekatan dan metode pembelajaran yang terpusat pada siswa. 2. Minat dan Motivasi belajar siswa kurang. 3. Interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran belum optimal. 4. Hasil belajar matematika siswa masih rendah. 1.3 Batasan Masalah Mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dana dan untuk lebih terpusatnya penelitian ini, maka penulis membatasi masalah sebagai berikut : 1. Penelitian dilakukan di kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2010/2011. 2. Materi pokok yang dibahas adalah memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat. 3. Nilai yang dibahas adalah pada ranah kognitif. 4. Hasil belajar siswa yang dianalisis meliputi hasil belajar melalui penerapan pendekatan open-ended. 5. Penerapan pendekatan pembelajaran Open-Ended. 1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu: Apakah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran open-ended dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011 ? 1.5 Tujuan penelitian Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan pembelajaran open-ended di kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011. 1.6 Manfaat Penelitian Penelitian tindakan ini memberi manfaat : 1. Bagi siswa : 1.1 Membantu mengoptimalkan hasil belajar siswa 1.2 Membantu siswa memahami konsep matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran open-ended. 2. Bagi Guru 2.1 Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang pendekatan Pembelajaran 2.2 Meningkatkan profesionalisme guru 2.3 Meningkatkan kreatifitas dan inovasi dalam proses pembelajaran. 2.4 Sebagai alternatif pengembangan pendekatan dalam proses pembelajaran 3. Bagi Sekolah : 3.1 Dapat memberikan masukan yang berarti bagi sekolah dalam rangka perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. 3.2 Akan tercapainya amanat kurikulum (KTSP). 1.7 Asumsi Adapun asumsi penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Semua siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. 2. Kesiapan siswa dalam proses pembelajaran mempengaruhi hasil belajar. 3. Hasil belajar yang diperoleh siswa menggambarkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran matematika. 1.8 Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Ho : Penerapan pendekatan pembelajaran Open-Ended tidak dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010-2011. H1 : Penerapan pendekatan pembelajaran Open-Ended dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010-2011. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Tentang Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran meliputi dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Belajar mengacu pada kegiatan siswa sedangkan mengajar mengacu pada kegiatan guru. Belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Pengertian belajar ini para ahli psikologi pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Menurut Ahmadi (2005:17) menyatakan bahwa “belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi.” Sedangkan menurut Usman (1999:5) “Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya.” Selanjutnya beberapa definisi belajar dapat dilihat pada uraian berikut, (Djamarah,2008:13) : 1) James O Whittaker merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. 2) Cronbach berpendapat bahwa belajar sebagai suatu aktifitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. 3) Howard I. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. 4) Slameto merumuskan pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Walaupun terdapat perbedaan rumusan pengertian belajar, namun pada hakekatnya pendapat di atas mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik. Pembelajaran sebagai aktivitas mental/psikis dan fisik yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, menghasilkan perubahan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap, bersifat tetap dan membekas. Pembelajaran bukan proses pemindahan pengetahuan melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membentuk pengetahuan, mengkonstruksi makna secara jelas dan kritis dalam menghadapi fenomena baru dan menemukan cara-cara pemecahan permasalahan. Sedangkan Menurut Hamzah (2008:2) “Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan”. Menurut Suryosubroto (1997:19) ”Proses pembelajaran meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran.” Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran adalah suatu kegiatan atau proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik untuk mencapai tujuan tertentu. 2.2 Tinjauan Tentang Pembelajaran Matematika Pendidikan kejuruan bukan hanya perlu membekali siswa dengan keterampilan kejuruan, namun juga kemampuan adaptasi yang cukup dan sesuai dengan kejuruan yang diampunya; sehingga siswa siap menghadapi perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Kemampuan adaptasi untuk siswa SMK sebetulnya telah dibekali melalui kelompok mata pelajaran adaptif yang dituangkan pada standar kompetensi mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam / Sain yang lebih dikenal dengan istilah Matematika dan Sain. Menurut Hamzah (2009:129) “Matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas serta mempunyai cabang-cabang antara lain aritmetika, aljabar, geometri dan analisis”. Mengingat matematika memiliki beberapa unit yang satu sama lain saling berhubungan, maka yang penting dalam pembelajaran matematika adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa materi matematika merupakan materi yang abstrak, dan dalam pemilahan materi keilmuan matematika merupakan salah satu jenis materi ilmu ide abstrak. Jenis materi ilmu ide abstrak ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan materi ilmu lainnya. Dalam hal ini, matematika menuntut kemampuan penalaran dalam mempelajarinya. Dalam konteks ini belajar matematika secara keseluruhan merupakan belajar memecahkan masalah. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Schoenfeld dalam Hamzah (2009:130) yang menyatakan bahwa “Belajar matematika berkaitan dengan apa dan bagaimana menggunakannya dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah. Matematika melibatkan pengamatan, penyelidikan dan keterkaitannya dengan fenomena fisik dan sosial.” Sedangkan menurut Depdiknas (2008:9) : Pembelajaran Matematika dan Sain di SMK diharapkan: (1) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; (2) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan; (3) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri; (4) Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik; (5) Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; (6) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial; (7) Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. Dari berbagai pandangan dan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah mempelajari suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi dan alat untuk memecahkan berbagai masalah praktis yang bertujuan untuk membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif dan inovatif. 2.3 Tinjauan Tentang Hasil Belajar Hasil belajar diperoleh melalui kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan melalui penilaian kelas. Data yang diperoleh guru selama pembelajaranan berlangsung dapat dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan hasil belajar yang akan dinilai. Dari hasil belajar ini diperoleh profil kemampuan siswa dalam mencapai sejumlah kompetensi dasar. Untuk mengetahui penguasaan setiap siswa terhadap mata pelajaran tertentu maka perlu dilaksanakan evaluasi. Dari hasil evaluasi itulah akan dapat diketahui kemajuan siswa. Menurut Winarno Surahmad ( 1997 : 88 ) “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”. Kemampuan siswa dalam menguasai konsep pengetahuan yang disampaikan oleh guru akan bervariasi hal ini dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh oleh siswa melalui penilaian. Hasil belajar yang bervariasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1988:31) yang mengemukaan bahwa : Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan yang mempengaruhi hasil belajar siswa, karena kedua faktor tersebut mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar artinya semakin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran semakin bagus hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hal yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi pelajaran. 2.4 Tinjauan Tentang Pendekatan Pembelajaran Menurut Ruseffendi (2007:158) menyatakan bahwa “Pendekatan adalah suatu jalan, cara, atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pengajaran itu, umum atau khusus, dikelola.” Sedangkan Depdiknas (2008:7) menyatakan “Pendekatan (approach) adalah cara umum memandang suatu permasalahan atau objek kajian, sehingga muncul dampak dari cara pandang tersebut.” Ketepatan dalam memilih suatu pendekatan akan menjadi pedoman atau orientasi dalam pemilihan komponen kegiatan pembelajaran lainnya terutama strategi dan metode pembelajaran. Untuk itu pendekatan dalam kegiatan pembelajaran berfungsi sebagai acuan pengorganisasian bahan ajar yang akan dipelajari oleh siswa selama proses pembelajaran. Bahan ajar merupakan uraian materi dari silabus yang akan diajarkan sebagai sarana untuk mewujudkan ketercapaian kompetensi. Pembelajaran dalam rangka mencapai sejumlah kompetensi pada sekolah kejuruan mensyaratkan penggunaan cara-cara belajar yang dapat mengkondisikan siswa aktif. Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya melakukan latihan-latihan dalam rangka membangun kompetensi yang menjadi sasaran belajarnya. 2.5 Tinjauan Tentang Pendekatan Open-Ended 2.5.1 Pengertian Pendekatan Open-Ended Pendekatan Open-Ended merupakan suatu upaya pembaharuan pendidikan matematika yang pertama kali dilakukan oleh para ahli pendidikan matematika Jepang. Pendekatan ini lahir sekitar dua puluh tahun yang lalu dari hasil penelitian yang dilakukan Shigeru Shimada, Toshio sawada, Yoshiko Yashimoto dan Kennichi Shibuya. Munculnya pendekatan sebagai reaksi atas pendidikan matematika sekolah saat itu dimana guru menjelaskan konsep baru didepan kelas kepada para siswa, kemudian memberikan contoh untuk penyelesaian beberapa soal. Menurut Dwirahayu (2007:159) “Pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended adalah pembelajaran yang dimulai dengan memberikan soal yang memiliki banyak jawaban yang benar ( problem terbuka atau incomplete) kepada siswa.” Sedangkan Sillivan (2001:57) (http://suchaini.wordpress.com/2008/12/15/ pendekatan open-ended) mengemukakan bahwa ”Pendekatan Open-Ended dapat memberikan dorongan kepada siswa untuk menghadapi tantangan, mengembangkan kreativitas dan memberikan konstribusi terhadap pemahaman konsep pada siswa.” Dalam pembelajaran Pendekatan Open-Ended, dimulai dengan pertanyaan dalam bentuk Open-Ended yang diarahkan untuk menggiring tumbuhnya pemahaman atas masalah yang diajukan. Tujuan dari pembelajaran dengan pendekatan open-ended adalah, siswa diharapkan dapat mengembangkan ide-ide kreatif dan pola pikir matematis. Dengan diberikan masalah yang bersifat terbuka, siswa terlatih untuk melakukan investigasi berbagai strategi dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa akan memahami bahwa proses penyelesaian suatu masalah sama pentingnya dengan hasil akhir yang diperoleh. Berdasarkan pengertian dan tujuan pembelajaran dengan pendekatan open-ended di atas, perlu digaris bawahi bahwa pendekatan open-ended memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan demikian kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal (http://educare.efkipunla.net/index2.php?option=com_content&do_pdf) 2.5.2 Prinsip Pembelajaran Open-Ended Pendekatan Open-Ended menjanjikan suatu kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan. Tujuannya tidak lain adalah agar pemahaman matematika siswa berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari siswa terkomunikasikan melalui proses belajar mengajar. Inilah yang menjadi pokok pikiran pembelajaran dengan open-ended, yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan dalam berbagai strategi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sillivan (http://suchaini.wordpress.com/2008/12/15/pendekat- an open-ended) mengajukan tiga pendekatan dalam melaksanakan open-ended yaitu ; terbuka dalam bertanya, terbuka dalam strategi dan terbuka dalam menangani masalah pribadi siswa dalam menyelesaikan tugas. Menurut Suherman, dkk (2003:132) (http://www.Psb –Psma .org/content/blog/Pendekatan-open-ended-Problem-dalam matematika) menyatakan bahwa: Keunggulan Pendekatan Open-Ended antara lain: 1. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengepresikan idenya. 2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematika secara komprehensif. 3. Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri. 4. Siswa secara instrinsik termotifasi untuk memberikan bukti atau penjelasan. 5. Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.” Dari beberapa keunggulan pendekatan Open-ended diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Open-ended dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Shimada (dalam Suherman, 2003:124), menyatakan bahwa “Dalam pembelajaran matematika, rangkaian dari pengetahuan, keterampilan, konsep, prinsip, atau aturan diberikan kepada peserta didik biasanya melalui langkah demi langkah. Langkah-langkah pembelajaran matematika dengan pendekatan problem open ended adalah sebagai berikut : 1. Pendekatan problem open ended dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada peserta didik, problem tersebut diperkirakan mampu diselesaikan peserta didik dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban sehingga memacu potensi intelektual dan pengalaman peserta didik dalam proses menemukan pengetahuan yang baru. 2. Peserta didik melakukan beragam aktivitas untuk menjawab problem yang diberikan. 3. Berikan waktu yang cukup kepada peserta didik untuk mengeksplorasi problem. 4. Peserta didik membuat rangkuman dari proses penemuan yang mereka lakukan. 5. Diskusi kelas mengenai strategi dan pemecahan dari problem serta penyimpulan dengan bimbingan guru.” 2.6 Kerangka Konseptual Bertolak dari pemikiran bahwa membawa siswa aktif dalam proses pembelajaran akan memudahkan siswa menerima konsep yang harus dikuasainya maka secara otomatis langkah membawa siswa aktif dalam belajar ini merupakan suatu langkah yang efektif untuk menyampaikan suatu materi ajar. Dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-ended masalah yang biasa digunakan merupakan masalah non rutin yang bersifat terbuka, yaitu masalah yang dikonstruksikan sedemikian hingga siswa tidak hanya dapat menentukan konsep matematika prasyarat dan algoritma penyelesaiannya. Masalah atau soal Open-ended didefenisikan sebagai soal yang memiliki beberapa jawaban benar atau memiliki beberapa cara untuk memecahkan masalah dengan benar. Dengan adanya tipe soal terbuka guru berpeluang untuk membantu siswa dalam memahami dan mengelaborasi ide-ide matematika siswa sejauh dan sedalam mungkin. Secara grafis pemikiran yang dilakukan peneliti dapat digambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Berdasarkan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2008:3) ”Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.” Sedangkan Suhardjono (2008:58) menyatakan bahwa “PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran.” Jadi Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart dalam Suhardjono (2008:73) “Yaitu berbentuk kegiatan berulang dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (perencanaan), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi”. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya dengan tujuan untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Dalam penelitian ini dilaksanakan selama tiga siklus, karena dengan tindakan dalam tiga siklus, yaitu siklus pratindakan, siklus 1 dan siklus 2, sudah dapat dilihat peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan menerapkan pendekatan open ended dalam proses pembelajaran matematika. 3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh yang terdiri dari lima kelas yang terdaftar pada semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011. Lebih lengkapnya distribusi siswa setiap kelas dapat dilihat pada tabel 2 ini. Tabel 2: Jumlah Siswa Kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011. Kelas Jumlah Siswa X KK 34 X KL 32 X KT 16 X DKV2 24 X DKV2 24 Jumlah 130 (Sumber : Tata Usaha SMK Negeri 4 Sungai penuh) 3.2.2 Sampel Sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian.(Juriah, 2005:121). Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan nilai matematika siswa kelas X, kemudian nilai tersebut dikelompokan menurut kelas masing-masing, setelah itu dihitung nilai rata-rata dan standar deviasinya. Tabel 3. Distribusi nilai matematika siswa kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh tahun pelajaran 2010/2011 Kelas Jumlah Siswa (N) Nilai Rata-Rata (X) Standar Deviasi (S) X KK 34 65,59 11,73 X KL 32 65,00 11,29 X KT 16 63,13 7,93 X DKV2 24 67,71 8,59 X DKV2 24 69,38 10,35 Jumlah 130 2. Melakukan uji homogenitas varians. Uji Homogenitas varians ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi mempunyai varians yang homogen. Uji statistik yang digunakan adalah uji Bartlett. Harga-harga yang digunakan untuk uji Bartlett adalah : Tabel 4. Harga-Harga Untuk Uji Bartlett Sampel ke dk 1/dk S12 Log S12 (dk)Log S12 1 1 K n1 – 1 n1 – 1 nk – 1 1/(n1 – 1) 1/(n1 – 1) 1/(nk – 1) S12 S12 Sk2 Log S12 Log S12 Log Sk2 (n1 – 1)Log S12 (n1 – 1)Log S12 (n1 – 1)Log Sk2 Jumlah ∑ (n1-1) ∑ (n1-1) – – ∑(n1 – 1)Log Sk2 Dari daftar ini dihitung harga-harga yang diperlukan, yakni : 1) Varians gabungan dari semua sampel : S2 = (1/n1 – 1) S12/∑(nk – 1) 2) Harga satuan B dengan rumus : B = (log S22) ∑(n1 – 1) 3) Untuk uji Bartlett digunakan statistic Chi-Kuadrat : 2 = (In 10)(B-∑(n1-1) log S12) Dengan In 10 = 2,3026 disebut logaritma asli dengan bilangan 10. Dengan taraf α = 0,10 ditolak hipotesis jika 2 > 2(1-α)(k-1), dimana 2(1-α)(k-1) didapat dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan peluang (1-α) dan dk = (k-1). (Sujana , 1992). 3. Setelah dilakukan pengujian homogenitas, dilakukan pemilihan sampel secara acak terhadap populasi dengan menggunakan undian. Hasil pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh. 3.3 Variabel Penelitian Menurut Arikunto (2002:96) “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi pokok perhatian pada suatu penelitian.” Pada penelitian ini diambil variabel sebagai berikut : 3.3.1 Variabel bebas : Pembelajaran matematika dengan pendekatan Open – ended 3.3.2 Variabel terikat : Hasil belajar matematika siswa setelah proses pembelajaran dengan pendekatan open- ended yang diperoleh melalui hasil tes akhir. 3.4 Jenis dan Sumber data 3.4.1 Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer dan data sekunder. 1) Data Primer Data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh peneliti untuk tujuan khusus yang meliputi data hasil belajar siswa yang diperoleh dari pemberian tes akhir. 2) Data Sekunder Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang luar peneliti sendiri. Dalam penelitian ini data sekunder adalah jumlah siswa dan nilai rapor mata pelajaran matematika siswa kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh tahun pelajaran 2010-2011. 3.4.2 Sumber data 1) Sumber data primer dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh yang terdaftar pada semester ganjil tahun pelajaran 2010-2011 2) Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah tata usaha dan guru matematika kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh. 3.5 Prosedur Penelitian Penelitian ini mengikuti prosedur penelitian yang dikemukakan oleh Suhardjono (2008:74) yang mempunyai 4 tahapan, yaitu : 3.5.1 Perencanaan (Planning) 3.5.2 Pelaksanaan (Action) 3.5.3 Pengamatan (Observing) 3.5.4 Refleksi (Reflecting) 3.5.1 Menyusun Rencana Tindakan (Planning) Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 3 siklus yang terdiri dari siklus pratindakan, siklus I dan siklus II dengan rincian sebagai berikut: 1) Siklus Pratindakan Pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran konvensional. Pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran belum diterapkan . Pada akhir siklus ini peneliti melakukan evaluasi dengan memberikan tes siklus pratindakan untuk melihat hasil belajar siswa. 2) Siklus I Pada siklus I ini peneliti mulai menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran. Dalam observasi dan evaluasi akan dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan pada siklus pertama ini, sehingga pada siklus berikutnya akan dilakukan tindakan yang dapat memperbaiki kelemahan pada siklus ini agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. 3) Siklus II Pada siklus II ini peneliti menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran. Dalam observasi dan evaluasi akan dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan pada siklus kedua ini, Apabila pada siklus II ini peneliti belum merasa puas dengan hasil yang dicapai maka peneliti dapat melanjutkan pada siklus berikutnya. Namun, apabila peneliti telah merasa puas dengan hasil yang dicapai maka penelitian boleh dihentikan. 3.5.2 Pelaksanaan Tindakan (Action) 1. Siklus Pratindakan Pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran konvensional. Pendekatan open-ended belum diterapkan pada siklus ini. Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1) Guru membuka pelajaran dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa. 2) Guru menyampaikan topik bahasan dan tujuan pembelajaran 3) Guru menjelaskan materi di depan kelas secara keseluruhan. 4) Guru memberikan beberapa contoh soal. 5) Guru memberikan latihan. 6) Guru memberikan tes akhir dengan soal berbentuk essay. 7) Merefleksikan perbaikan proses pembelajaran. 2. Siklus I 1) Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut. 2) Guru mengelompokan siswa menjadi 4 kelompok (7-8 orang)/ kelompok, dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok. Dalam diskusi kelompok tersebut diharapkan semua siswa aktif 3) Guru meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal dan guru memberikan bimbingan. 4) Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan. 5) Guru meminta perwakilan dari kelompok yang representatif yang mewakili variasi jawaban untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, selanjutnya mendiskusikan hasil pekerjaan siswa tersebut secara bersama-sama. 6) Guru mencatat beberapa respon dari masing-masing kelompok. 7) Guru dan siswa membahas hasil jawaban yang diberikan siswa Jika ternyata jawaban siswa (kelompok) tidak ada yang benar, maka dengan tanya jawab guru mengarahkan siswa (kelompok) sampai ditemukan jawaban yang benar. 8) Guru dan siswa memberikan suatu kesimpulan dari permasalahan yang diberikan. 9) Guru memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya. 10) Guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran. 11) Guru memberikan tes akhir untuk siklus I 12) Merefleksikan kegiatan pembelajaran 3. Siklus II 1) Dengan metode tanya jawab guru mengingatkan kembali tentang materi yang telah diberikan. 2) Guru mengelompokan siswa menjadi 6 kelompok (4 orang/ kelompok), dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok. 3) Guru meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal dan guru memberikan bimbingan jika diperlukan. 4) Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan. 5) Guru meminta perwakilan dari kelompok yang representatif yang mewakili variasi jawaban untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, selanjutnya mendiskusikan hasil pekerjaan siswa tersebut secara bersama-sama. 6) Guru mencatat beberapa respon dari masing-masing kelompok. 7) Guru dan siswa membahas hasil jawaban yang diberikan siswa . Jika ternyata jawaban siswa (kelompok) tidak ada yang benar, maka dengan tanya jawab guru mengarahkan siswa (kelompok) sampai ditemukan jawaban yang benar. 8) Guru dan siswa memberikan suatu kesimpulan dari permasalahan yang diberikan. 9) Guru memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya. 10) Guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran. 11) Guru memberikan tes akhir untuk siklus II 12) Merefleksikan kegiatan pembelajaran. 3.5.3 Pengamatan (Observing) Kegiatan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pendekatan pembelajaran open-ended. Kegiatan yang diamati adalah hasil belajar siswa yang dilakukan pada akhir siklus dengan memberikan tes tertulis dalam bentuk tes objektif. Hasil pengamatan ini dicatat untuk dikembangkan pada siklus berikutnya. Apabila peneliti telah cukup merasa puas dengan hasil belajar yang diperoleh siswa maka penelitian dapat dihentikan. 3.5.5 Refleksi (Reflecting) 1) Pada langkah Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan, kemudian hasil refleksi dari pengamatan disusun rencana tindakan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. 2) Agar dapat menarik kesimpulan mengenai data yang diperoleh, maka peneliti melakukan evaluasi guna mengetahui hal-hal yang dirasakan sudah memuaskan dan secara cermat mencari hal-hal yang perlu diperbaiki berdasarkan analisis peneliti sehingga dapat ditarik kesimpulan apakah terdapat atau tidak peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan pendekatan pembelajaran open-ended. 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk tes. Menurut Suharsimi Arikunto (2008:29) bahwa “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.” Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika pada standar kompetensi sistem persamaan dan pertidaksamaan kuadrat. Dalam penelitian ini tes diberikan dalam bentuk tes formatif yang diberikan setiap akhir siklus. Bentuk soal tes adalah pilihan ganda (objektif). Untuk mendapatkan tes yang benar-benar valid, reliabilitas yang tinggi serta memperhatikan tingkat kesukaran dan daya beda soal maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Membuat kisi-kisi soal tes 2. Menyusun soal tes sesuai dengan kisi-kisi soal tes. 3. Melakukan uji coba soal tes yang bertujuan untuk menganalisis butir soal, sehingga diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan. Soal diujicobakan kepada siswa kelas XI SMK Negeri 2 Sungai Penuh karena kelas ini rata-rata nilai ulangan hariannya berdistribusi normal dengan kelas sampel. Hasil ujicoba soal dianalisis mempergunakan prosedur statistik. 3.6.1 Validitas Soal Tes Menurut Suharsimi (2009:65) menyatakan bahwa “Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur.” Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Untuk mendapatkan tes yang valid maka penyusunan soal tes berdasarkan pada materi yang telah ditetapkan kurikulum. 3.6.2 Reliabilitas Soal Reliabilitas soal merupakan ketetapan suatu tes apabila tes dicobakan pada objek yang sama. Untuk menentukan reliabilitas suatu tes dipakai rumus Kuder Richerdson (K-R. 21) yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2009:103), yaitu: r11 = n 1- M (n-m) n-1 nS2 Dengan: ∑x dan N∑x2 – (x2) N N (N – 1) r11 : Reliabilitas tes secara keseluruhan n : Jumlah butir soal M : Rata-rata skor tes N : Jumlah pengikut tes S2 : Varians total Kriteria reliabilitas tes dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 5. Tabel 5: Klasifikasi Indeks Reliabelitas Soal No Indeks Reliabelitas Klasifikasi 1 0,00 < r11 ≤0,20 Sangat rendah 2 0,20 < r11 ≤0,40 Rendah 3 0,40 < r11 ≤0,60 Sedang 4 0,60 < r11 ≤0,80 Tinggi 5 0,80 < r11 ≤1,00 Sangat tinggi Dari hasil perhitungan diperoleh reliabilitas untuk 20 butir soal adalah 0,769. Hal ini berarti soal tersebut memiliki reliabilitas tinggi. 3.6.3 Daya Pembeda Daya Beda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks daya beda adalah sebagai berikut: ( Suharsimi Arikunto, 2009: 213) D : Daya beda BA : Jumlah kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Jumlah kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kelompok atas JB : Jumlah peserta kelompok bawah Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar. Proporsi peserta kelompok bawah menjawab benar. Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal: Tabel 6: Klasifikasi Daya Beda Soal No Daya beda soal Kriteria 1 0,000 < D ≤0,200 Jelek 2 0,200 < D ≤0,400 Cukup 3 0,400 < D ≤0,700 Baik 4 0,700 < D ≤1,000 Baik sekali Dari hasil perhitungan diperoleh daya beda yaitu 0,133 (jelek) dan 0,667 (dipakai). Dari 25 soal tersebut 5 soal dinyatakan dibuang, jadi soal yang terpakai sebanyak 20 butir. 3.6.4 Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran, adalah: (Suharsimi Arikunto, 2009: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut: Tabel 7: Klasifikasi Indeks kesukaran No Indeks Kesukaran Kriteria 1 0,00 ≤ P ≤ 0,30 Sukar 2 0,30 ≤ P ≤ 0,70 Sedang 3 0,70 ≤ P ≤ 1,00 Mudah Dari hasil perhitungan tingkat kesukaran soal yang sukar yaitu 0,200 (dibuang) dan soal yang mudah 0,733 (dipakai). 3.7 Teknik Analisa data Untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik. Untuk melakukan uji statistik maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. 3.7.1 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal. Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan uji Lillieford dengan langkah sebagai berikut : 1) Data x1, x2, x3, …, xn yang diperoleh dari data yang terkecil hingga data yang terbesar. 2) Data x1, x2, x3, …, xn dijadikan bilangan baku z1, z2, z3 …, zn dengan rumus : zi = xi – x s Keterangan : xi = Skor yang diperoleh siswa ke-i x = Skor rata-rata s = Simpangan baku 3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (zi) = P (z ≤ zi) 4) Selanjutnya dihitung propersi z1, z2, z3 …, zn yang lebih kecil atau sama dengan zi, jika propersi ini dinyatakan dengan S (zi) : banyak z1, z2, z3 yang ≤ zi n 5) Hitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian tentukan harga mutlaknya. 6) Diambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut. Sebutlah harga terbesar ini Lo. 7) Bandingkan Lo dengan nilai kritis L yang terdapat pada taraf nyata α = 0,05, kriteria terima yaitu hipotesis tersebut normal jika Lo < Lt, lain dari itu ditolak. (Sujana , 1992 : 467). 3.7.2 Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F. Uji ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Mencari varians masing-masing data kemudian dihitung harga F dengan rumus : Varians terbesar Varians terkecil Keterangan : F = Varians kelompok data S12 = Varians hasil belajar siklus pratindakan S22 = Varians hasil belajar siklus II 2) Jika harga sudah didapat maka dibandingkan dengan F tersebut dengan harga F yang terdapat dalam daftar distribusi F dengan taraf signifikan 90% dan dk pembilang = n1–1 dan dk penyebut = n2–1. Bila F yang didapat dari perhitungan lebih kecil dari harga F pada tabel maka kelompok data mempunyai varians yang homogen dan sebaliknya. (Sujana, 1992). 3.7.3 Uji Hipotesis Untuk melihat apakah terdapat atau tidaknya peningkatan hasil belajar matematika dengan menerapkan pendekatan open-ended, maka dilakukan pengujian hipotesis. Untuk uji hipotesis ini digunakan uji-t dengan rumus: (Sujana. 1992:239) X1 – X2 S + Dengan : ( (n1 – 1) S12 + (n2 – 1) S22 n 1 + n2 – 2 Harga thitung dibanding dengan ttabel, yang terdapat dalam tabel distrbusi t. Kriteria pengujian hipotesis adalah terima Ho jika t ≥ t (1-α) dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan peluang (1 – α). Untuk harga-harga lainnya Ho ditolak. 3.8 Tempat dan Waktu Penelitian 3.8.1 Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMK Negeri 4 Sungai Penuh Jl. Maliki Air Kumun Kota Sungai Penuh Propinsi Jambi . 3.8.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 14 Juli sampai dengan 19 Agustus 2010, tepatnya pada semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Deskripsi Siklus Pratindakan 4.1.1. Perencanaan Pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran konvensional. Pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran belum diterapkan . Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 1 , Lembaran Kerja Siswa (LKS) 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Pada akhir siklus peneliti melakukan evaluasi dengan memberikan tes siklus pratindakan untuk melihat hasil belajar siswa. 4.1.2 Pelaksanaan Tindakan Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1) Guru membuka pelajaran dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa. 2) Guru menyampaikan topik bahasan dan tujuan pembelajaran 3) Guru menjelaskan materi di depan kelas secara keseluruhan. 4) Guru memberikan beberapa contoh soal. 5) Guru memberikan latihan. 6) Guru memberikan tes akhir (post test). 7) Merefleksikan perbaikan proses pembelajaran. 4.1.3 Hasil Pengamatan Dari hasil pengamatan dan evaluasi pada proses pembelajaran siklus pratindakan ini ditemukan hal-hal yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan perbaikan tindakan, yaitu : 1) Proses pembelajaran masih sangat didominasi oleh guru dengan metode ceramah, secara umum siswa lebih banyak pasif. 2) Interaksi antara siswa dengan guru dan antar sesama siswa masih kurang dimana saat guru memberikan kesempatan untuk bertanya masih sedikit siswa yang mau bertanya. Soal Latihan yang diberikan kepada siswa masih belum bersifat terbuka. 3) Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan soal latihan terlalu sedikit sehingga siswa banyak yang tidak siap menyelesaikan latihan. 4) Pelaksanaan post tes pada akhir pembelajaran dapat dilaksanakan walaupun waktu yang tersedia sedikit. 5) Data distribusi nilai hasil belajar siswa pada siklus Pratindakan. Tabel 8. Distribusi nilai hasil ulangan harian 1 (Siklus Pratindakan) NO NILAI FREKUENSI PERSENTASE KATEGORI 1 40 1 4,17 % Belum Tuntas 2 45 2 8,33 % Belum Tuntas 3 50 4 16,67% Belum Tuntas 4 55 4 16,67% Belum Tuntas 5 60 2 8,33% Tuntas 6 65 4 16,67% Tuntas 7 70 5 20,83% Tuntas 8 75 2 8,33% Tuntas 24 • Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) = 60,00 • Jumlah Nilai (∑X) = 1430 • Nilai Rata-Rata ( ) = 59,58 • Varians (S2) = 104,168 • Standar Deviasi (S) = 10,206 • Jumlah siswa yang sudah memperoleh nilai 60-100 (tuntas) sebanyak 13 orang dari 24 orang atau sebesar 54,16% . • Jumlah siswa yang mendapat nilai 0-59 (belum tuntas) sebanyak 11 orang dari 24 orang atau sebesar 45,84 %. 4.1.4 Refleksi Dari paparan data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar siswa belum mencapai kriteria ketuntasan secara klasikal yang ditetapkan yaitu 85% siswa telah mencapai nilai 60,00 dengan predikat tuntas. Sedangkan dari hasil ulangan harian 1 diatas terlihat bahwa siswa yang memperoleh nilai 60 – 100 (tuntas) sebanyak 13 orang dari 24 orang atau sebanyak 54,16%. Nilai rata-rata secara klasikal diperoleh 59,58 dengan standar deviasi 10,206. Untuk perbaikan hasil belajar agar terjadi peningkatan maka pada proses pembelajaran selanjutnya dilakukan perbaikan tindakan yaitu menerapkan pendekatan Open Ended dalam proses pembelajaran. 4.2 Deskripsi Siklus I 4.2.1 Perencanaan Tindakan Rencana tindakan yang akan diberikan pada siklus 1 ini adalah : 1) Guru menerapkan pendekatan open ended dalam menjelaskan materi pelajaran 2) Guru mengelompokan siswa menjadi 4 kelompok (6 orang/ kelompok), dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok. Dalam diskusi kelompok tersebut diharapkan semua siswa aktif 3) Guru meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal pada LKS dan guru memberikan bimbingan jika diperlukan. 4) Guru menunjuk beberapa orang siswa untuk mempresentasikan hasil tugas yang dibuatnya dan siswa lain menanggapinya. 5) Pada akhir pembelajaran guru memberikan post tes. 4.2.2. Pelaksanaan Tindakan Paparan tindakan kegiatan pembelajaran pada siklus 1 ini adalah: 1) Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut. 2) Guru mengelompokan siswa menjadi 4 kelompok (6 orang/kelompok), dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok. Dalam diskusi kelompok tersebut diharapkan semua siswa aktif 3) Guru meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal pada LKS dan guru memberikan bimbingan jika diperlukan. 4) Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan. 5) Guru meminta perwakilan dari kelompok yang representatif yang mewakili variasi jawaban untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, selanjutnya mendiskusikan hasil pekerjaan siswa tersebut secara bersama-sama. 6) Guru mencatat beberapa respon dari masing-masing kelompok. 7) Guru dan siswa membahas hasil jawaban yang diberikan siswa Jika ternyata jawaban siswa (kelompok) tidak ada yang benar, maka dengan tanya jawab guru mengarahkan siswa (kelompok) sampai ditemukan jawaban yang benar. 8) Guru dan siswa memberikan suatu kesimpulan dari permasalahan yang diberikan. 9) Guru memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya. 10) Guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran. 11) Guru memberikan tes akhir untuk siklus I 4.2.3 Hasil Pengamatan Dari hasil pengamatan dan evaluasi bahwa pendekatan open ended dalam proses pembelajaran sudah baik dan menarik namun masih ditemukan hal-hal yang perlu mendapat perhatian yaitu : 1) Pendekatan open ended dalam proses pembelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soal latihan terlihat mempengaruhi motivasi dan keaktifan siswa, namun belum optimal, guru masih banyak menggunakan ceramah. 2) Interaksi antara siswa dengan guru dan antar sesama siswa masih kurang dimana saat guru memberikan kesempatan untuk bertanya masih sedikit siswa yang mau bertanya dan mengemukakan pendapatnya. 3) Waktu yang disediakan untuk mempresentasikan hasil latihan terlalu singkat sehingga pembahasan materi belum maksimal. 4) Pelaksanaa tes akhir dapat dilaksanakan walaupun waktu yang tersedia sedikit. 5) Nilai hasil belajar siswa naik dari rata-rata 59,58 pada siklus pratindakan menjadi 64,17 pada siklus 1. Untuk lebih jelasnya data distribusi nilai hasil belajar siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 8 dibawah ini. Tabel 8. Distribusi nilai hasil ulangan harian 1 (Siklus Pratindakan) NO NILAI FREKUENSI PERSENTASE KATEGORI 1 2 3 4 5 1 50 2 8,33% Belum Tuntas 2 55 4 16,67% Belum Tuntas 3 60 5 20,83% Tuntas 4 65 4 16,67% Tuntas 5 70 5 20,83% Tuntas 6 75 2 8,33% Tuntas 7 80 2 8,33% Tuntas 24 • Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) = 60,00 • Jumlah Nilai (∑X) = 1540 • Nilai Rata-Rata ( ) = 64,17 • Varians (S2) = 75,362 • Standar Deviasi (S) = 8,68 • Jumlah siswa yang sudah memperoleh nilai 60-100 (tuntas) sebanyak 18 orang dari 24 orang atau sebesar 75% . • Jumlah siswa yang mendapat nilai 0-59 (belum tuntas) sebanyak 6 orang dari 24 orang atau sebesar 25 %. 4.2.4. Refleksi Dari data siklus 1 diatas, pada prinsipnya proses pembelajaran sudah baik, namun pendekatan open ended yang diterapkan guru masih perlu dilatihkan sebanyak mungkin pada proses pembelajaran berikutnya agar siswa lebih aktif. Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) dan hasil tes terdapat perubahan yang lebih baik walaupun masih kecil. Untuk meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus 1 maka perlu dilakukan perbaikan tindakan pada siklus 2. Tindakan perbaikan yang dilakukan pada siklus 2 adalah : 1) Menerapkan kerja kelompok dengan cara membagi siswa atas 6 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang. 2) Memotivasi dan mengaktifkan siswa agar berani mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat. 3) Mengefektifkan penggunaan waktu dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup sesuai rencana pembelajaran. 4) Melatih siswa agar mampu menyelesaikan soal latihan di depan kelas. 4.3 Deskripsi Siklus II 4.3.1 Perencanaan Tindakan Perencanaan yang diterapkan sama seperti pada siklus 1, hanya saja bagi guru peneliti perlu memperbaiki tindakan dengan cara : 1) Menerapkan kerja kelompok dengan cara membagi siswa atas 8 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang. 2) Guru meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal pada LKS dan guru memberikan bimbingan jika diperlukan. 3) Guru menunjuk beberapa orang siswa untuk mempresentasikan hasil tugas yang dibuatnya dan siswa lain menanggapinya. 4) Pada akhir pembelajaran guru memberikan post tes. 4.3.2. Pelaksanaan Tindakan Paparan tindakan kegiatan pembelajaran pada siklus 1 ini adalah: 1) Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut. 2) Guru mengelompokan siswa menjadi 6 kelompok (4 orang/kelompok), dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok. Dalam diskusi kelompok tersebut diharapkan semua siswa aktif. 3) Guru meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal pada LKS dan guru memberikan bimbingan jika diperlukan. 4) Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan. 5) Guru meminta perwakilan dari kelompok yang representatif yang mewakili variasi jawaban untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, selanjutnya mendiskusikan hasil pekerjaan siswa tersebut secara bersama-sama. 6) Guru mencatat beberapa respon dari masing-masing kelompok. 7) Guru dan siswa membahas hasil jawaban yang diberikan siswa Jika ternyata jawaban siswa (kelompok) tidak ada yang benar, maka dengan tanya jawab guru mengarahkan siswa (kelompok) sampai ditemukan jawaban yang benar. 8) Guru dan siswa memberikan suatu kesimpulan dari permasalahan yang diberikan. 9) Guru memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya. 10) Guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran. 11) Guru memberikan tes akhir untuk siklus I 4.3.3 Hasil Pengamatan Pada siklus 2 ini merupakan penyempurnaan dan perbaikan karena bertujuan mencari format baru untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Hasil pengamatan pada siklus 2 ini dapat diuraikan sebagai berikut : 1) Proses pembelajaran menunjukan adanya perbaikan, yaitu menggunakan pendekatan open-ended pada kelompok kecil. 2) Aktifitas siswa tampak lebih meningkat, kegiatan diskusi setiap kelompok berjalan lancar dan sebagian besar siswa sudah aktif mengerjakan tugas latihan. 3) Guru melaksanakan bimbingan sudah merata dan kesannya guru agak santai sedang siswa terlihat cukup antusias. 4) Guru lancar memberikan tindakan-tindakan yang direncanakan. 5) Nilai hasil belajar siswa naik dari rata-rata 64,16 pada siklus 1 menjadi 73,50 pada siklus 2. Untuk lebih jelasnya hasil belajar peserta didik pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 9. Tabel 9. Distribusi nilai hasil ujian siklus 2 NO NILAI FREKUENSI PERSENTASE KATEGORI 1 2 3 4 5 1 55 2 8,33% Belum Tuntas 2 60 2 8,33% Tuntas 3 65 4 16,67% Tuntas 4 70 5 20,83% Tuntas 5 75 6 25,00% Tuntas 6 80 5 20,83% Tuntas 24 • Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) = 60,00 • Jumlah Nilai (∑X) = 1690 • Nilai Rata-Rata ( ) = 70,42 • Varians (S2) = 60,688 • Standar Deviasi (S) = 7,79 • Jumlah siswa yang sudah memperoleh nilai 60-100 (tuntas) sebanyak 22 orang dari 24 orang atau sebesar 91,67% . • Jumlah siswa yang mendapat nilai 0-59 (belum tuntas) sebanyak 2 orang dari 24 orang atau sebesar 8,33 %. Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes akhir sebesar 70,42 dan dari 24 siswa yang telah tuntas sebanyak 22 siswa dan 2 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 91,67% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus 2 ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus 1. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus 2 ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan open ended dalam proses pembelajaran dan membuat siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. 4.3.4 Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pendekatan open ended. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil belajar siswa pada siklus 2 mencapai ketuntasan. 4.4 Analisis Data Tujuan dari analisis data adalah untuk melihat apakah terdapat peningkatan hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran kompetensi memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat di SMK Negeri 4 Sungai Penuh. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar tersebut digunakan uji t, namun terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap hasil tes akhir siswa. 4.4.1 Uji Normalitas Dari uji normalitas yang dilakukan terhadap masing-masing kelompok harga Lo. Harga ini kemudian dibandingkan dengan Ltabel . Berdasarkan hasil uji normalitas pada kelas sampel diperoleh nilai Ltabel = 0,1580 dan hasil Lo = 0,1093, maka diperoleh Lo < Ltabel, sama artinya dengan kelas berdistribusi normal. 4.4.2 Uji Homogenitas Dari uji homogenitas yang dilakukan terhadap kelas sampel diperoleh Fhitung = 1,716. Dari tabel distribusi F dengan taraf kepercayaan 90% atau dan dk = (23,23) diperoleh harga Ftabel = 1,740, karena Fhitung < Ftabel ( 1,716 < 1,740), maka kelas sampel memiliki varians homogen dengan tingkat kepercayaan 90% dengan α = 0,10. 4.4.3 Uji Hipotesis Dari hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukan bahwa sampel berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Selanjutnya digunakan uji t untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak. Dengan memperhatikan persentil t dan tabel distribusi t. Untuk α = 0,10 dan derajat kebebasan dk = 46 diperoleh thitung = 4,136 , dan ttabel = 1,3009, maka thitung > ttabel yaitu 4,136 > 1,3009. Dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa yang menerapkan pendekatan open-ended pada proses pembelajaran matematika di kelas X DKV SMK Negeri 4 Sungai Penuh. 4.5 Pembahasan Dari data hasil belajar matematika siswa dan hasil analisis data diatas memberikan kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan open-ended dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji hipotesis (uji t) yaitu untuk α = 0,10 dan derajat kebebasan dk = 46 diperoleh thitung = 4,136, dan ttabel = 1,3027, maka thitung > ttabel yaitu 4,136> 1,3027, hal ini berarti hipotesis nol (Ho) yang menyatakan “Penerapan pendekatan pembelajaran Open-Ended tidak dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010-2011., pada taraf kepercayaan 90% ditolak.” Berdasarkan tes akhir yang dilaksanakan dikelas sampel didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan hasil belajar matematika siswa di kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh dengan menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran. Peningkatan hasil belajar matematika siswa tersebut juga dapat dilihat dari kenaikan nilai hasil belajar siswa mulai dari siklus 1 sampai siklus 3. Untuk memudahkan pembacaan data, berikut disajikan grafik peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran matematika. Grafik 2. Peningkatan hasil belajar siswa setiap siklus Berdasarkan data perbandingan nilai hasil belajar siswa dan grafik peningkatan hasil belajar pada siklus pratindakan, siklus I dan siklus II diatas terjadi peningkatan sebagai berikut: 1) Adanya peningkatan nilai hasil belajar dari rata-rata nilai 59,58 pada siklus pratindakan menjadi 64,17 pada siklus I dan pada 70,42 siklus II 2) Adanya peningkatan jumlah persentase siswa yang tuntas secara klasikal yaitu dari 13 orang (54,16%) pada siklus pratindakan menjadi 18 orang (75%) pada siklus I dan 22 orang (91,67%) pada siklus II. Paparan data di atas menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan ketuntasan belajar. Tentu peningkatan ini tidak semata-mata dari satu metode dan strategi pembelajaran saja. Guru harus tetap kreatif untuk terus menggali potensi siswa secara individual. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari data hasil belajar matematika siswa dan hasil analisis data diatas memberikan kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan open-ended dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji hipotesis (uji t) yaitu untuk α = 0,10 dan derajat kebebasan dk = 46 diperoleh thitung = 4,136, dan ttabel = 1,3027, maka thitung > ttabel yaitu 4,136> 1,3027, hal ini berarti hipotesis yang menyatakan penerapan pendekatan pembelajaran Open-Ended dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010-20011 diterima. Berdasarkan tes akhir yang dilaksanakan dikelas sampel didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan hasil belajar matematika siswa di kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh dengan menerapkan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran. Peningkatan hasil belajar matematika siswa tersebut juga dapat dilihat dari kenaikan nilai hasil belajar siswa mulai dari siklus 1 sampai siklus 3. 5.2 Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar matematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut: 5.2.1 Penerapan pendekatan open-ended dalam proses pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa, oleh karena itu disarankan kepada guru mata pelajaran matematika menerapkan pendekatan open-ended agar hasil belajar siswa menjadi lebih baik. 5.2.2 Untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode pendekatan open-ended memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode pendekatan open-ended sehingga diperoleh hasil yang optimal. 5.2.3 Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di kelas X DKV 2 SMK Negeri 4 Sungai Penuh tahun pelajaran 2010/2011. 5.2.4 Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Abu Ahmadi. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia Depdiknas. 2008. Pengembangan dan Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Depdiknas Gelar Dwirahayu. 2007.Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar. Sebuah Antologi. Jakarta: IAIN Indonesian Social Equity Project Universitas Syarif Hidayatullah Hamzah B. Uno. 2009. Model Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara http://suchaini.wordpress.com/2008/12/15/ pendekatan open-ended http://www.Psb –Psma .org/content/blog/Pendekatan-open-ended-Problem-dalam matematika Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Nurul Juriah. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara Paulina, P. 2001. Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas. Jakarta. Suryosubroto. 1997. Proses Belajar-Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta Suharsimi Arikunto. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Bumi Aksara ________________,. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Rajawali Syaiful Bahri Djamarah. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta S. Nasution. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara Sudjana. 1996. Metode Statistika. Edisi ke.5. Bandung : Penerbit Tarsito Usman, Uzer Mohammad. 1999. Menjadi Guru Profesional. Edisi kedua. Bandung : Remaja Rosdakarya. Winarno Surakhman. 1985. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar. Bandung : Tarsito

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s