LAPORAN PTK

 

Perbandingan Hasil Belajar Matematika Yang Menggunakan Metode Discovery Learning Dengan Metode Tanya Jawab  Di Kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011

Oleh : Arif Harianto,S.Pd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Masalah

           Matematika merupakan salah satu bidang studi yang sangat penting diajarkan di sekolah. Oleh sebab itu pemerintah terus berusaha meningkatkan mutu pembelajaran matematika, diantaranya melengkapi sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran maupun melanjutkan pendidikan formal. Namun kenyataannya di lapangan menunjukan bahwa usaha-usaha tersebut masih belum memberikan hasil yang optimal, khususnya pada mata pelajaran matematika. Hal ini terlihat dari masih banyaknya guru yang belum menggunakan metode pembelajaran yang terpusat pada siswa dan terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien.         

Dalam konteks pembelajaran yang menyenangkan, suatu kegiatan pembelajaran tidak selalu menjamin siswa dapat belajar. Hal   ini            menunjukkan bahwa sebaik apapun guru merancang suatu program pembelajaran, apabila tidak didukung dengan pemilihan dan            penggunaan metode yang tepat maka pembelajaran menjadi tidak efektif. Atas dasar itu, metode dalam kegiatan pembelajaran berfungsi menciptakan kondisi pernbelajaran yang memungkinkan bagi siswa memperoleh kemudahan dalam mempelajari bahan ajar. Salah satu metode pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran matematika agar terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan adalah metode tanya jawab.

         Sebagai sebuah bentuk interaksi proses pembelajaran, metode tanya jawab mengandung keunggulan diantaranya adalah siswa lebih aktif dibandingkan dengan penerapan metode ceramah yang bersifat monoton, partisipasi siswa lebih besar dan berusaha mendengarkan pertanyaaan guru dengan baik dan mencoba untuk memberikan jawaban yang tepat, sehingga siswa menerima pelajaran dengan aktif. Dalam metode tanya jawab guru bermaksud meneliti kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang dipelajari.

          Namun pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika, sehingga menyebabkan hasil belajar tetap rendah.  Hal  ini  terlihat dari hasil ujian mid semester genap Tahun Pelajaran 2010/2011, seperti terlihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1:  Nilai Rata-Rata Ujian Mid Semester Matematika Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011

No

Kelas

Jumlah Siswa

Rata- Rata Nilai Ujian Mid Semester

1

X TGB

27

53,52

2

X TKK

29

52,93

3

X TFL 1

37

53,78

4

X TFL 2

34

54,41

5

TKR 1

32

55,00

6

X TKR 2

35

52,03

7

X TITL

37

53,89

 (Sumber : Tata Usaha SMK Negeri 2 Sungai Penuh)

Keterangan :

X TGB     : Kelas XTeknik Gambar Bangunan

X TKK     : Kelas X Teknik Konstruksi Kayu

X TFL      : Kelas X Teknik Fabrikasi Logam

X TKR     : Kelas X Teknik Kendaraan Ringan

X TITL     : Kelas X Teknik Instalasi Tenaga Listrik

           Berdasarkan  tabel 1 diatas, terlihat bahwa nilai rata-rata  hasil ujian matematika siswa kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 masih   berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan  yaitu 60,00. Jika masalah yang dikemukakan diatas  tidak diatasi maka tujuan peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran matematika sulit dicapai. Untuk mengatasi masalah diatas diharapkan guru dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran siswa aktif yang salah satunya adalah dengan menggunakan metode Discovery Learning  pada pembelajaran matematika. Dengan metode Discovery Learning ini memungkinkan siswa untuk mengalami sendiri bagaimana cara menemukan keterkaitan-keterkaitan baru dan bagaimana cara meraih pengetahuan melalui kegiatan mandiri.

          Ahmadi (2005:22) menyatakan:“Dalam sistim belajar mengajar metode discovery learning, guru tidak menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, tetapi siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pemecahan masalah”.

          Berdasarkan  latar belakang masalah diatas, maka mendorong penulis untuk mengadakan penelitian  lebih lanjut yang berjudul  “Perbandingan Hasil Belajar Matematika Yang Menggunakan Metode Discovery Learning Dengan Metode Tanya Jawab  Di Kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011”.

1.2   Identifikasi masalah

                Berdasarkan kondisi yang telah diuraikan diatas, maka diidentifikasikan penyebab kurangnya pencapaian hasil belajar matematika siswa di antaranya adalah sebagai berikut:

1.    Belum diterapkannya metode pembelajaran yang terpusat pada siswa.

2.    Pembelajaran matematika masih bersifat konvensional yang menempatkanguru sebagai pusat belajar.

3.    Minat dan Motivasi belajar siswa kurang.

4.    Interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran belum optimal.

5.    Hasil belajar matematika siswa masih rendah.

1.3   Batasan Masalah

    Mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dana dan untuk lebih terpusatnya penelitian ini, maka penulis membatasi masalah sebagai berikut :

1.    Penelitian dilakukan di kelas XSMK Negeri 2 Sungai Penuh padaSemester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.

2.    Materi pokok yang dibahas adalah memecahkan  masalah  berkaitan  sistem  persamaan dan pertidaksamaan linear.

3.    Data yang diambil adalah hasil belajar kognitif.

4.    Hasil belajar siswa yang dianalisis meliputi hasil belajar melalui  penggunaan metode discovery learning dan metode tanya jawab.

 

1.4  Rumusan Masalah

         Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat perbandingan hasil belajar matematika siswa antara yang menggunakan Metode  discovery learning dengan metode tanya jawab di kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011.”

1.5  Tujuan penelitian

     Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka tujuan penelitian ini adalah            untuk mengetahui  perbandingan hasil belajar matematika  antara yang  menggunakan Metode  discovery learning dengan metode tanya jawab di kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.6   Manfaat Penelitian

          Penelitian tindakan ini memberi manfaat :

1        Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti dalam mengajarkan mata pelajaran matematika dimasa yang akan datang.

2        Masukan bagi guru matematika sebagai alternatif metode pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah.

3        Meningkatkan kinerja dan kemampuan guru dalam menentukan metode pembelajaran yang paling tepat.

4        Bagi siswa, untuk dapat belajar lebih aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.

5        Sebagai sumbangan pikiran bagi dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran matematika pada umumnya dan bahan masukan bagi peneliti pada khususnya.

1.7     Asumsi

            Dalam http://www . infoskripsi.com/Proposal/Proposal-Penelitian-  

Kuantitatif-Skripsi.html dijelaskan asumsi penelitian adalah anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berfikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian.Adapun asumsi dalam penelitian ini adalah :    

1      Siswa diberi kesempatan belajar yang sama

2      Nilai ujian matematika menggambarkan kemampuan matematika siswa.

 

1.8     Hipotesis Penelitian

Ho =  Tidak terdapat perbandingan hasil belajar matematika antara yang menggunakan metode  discovery learning dengan metode tanya jawab di kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011.

Hi= Terdapat perbandingan hasil belajar matematika antara yang  menggunakan metode  discovery learning dengan metode tanya jawab di kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Tinjauan Tentang Pembelajaran Matematika

 

           Pendidikan kejuruan bukan hanya perlu membekali siswa dengan keterampilan kejuruan, namun juga kemampuan adaptasi yang cukup dan  sesuai dengan kejuruan yang diampunya; sehingga siswa siap menghadapi perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Kemampuan adaptasi untuk siswa SMK sebetulnya telah dibekali melalui kelompok mata pelajaran adaptif yang  dituangkan  pada standar kompetensi mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam   yang lebih dikenal dengan istilah Matematika dan Sain.  Menurut Hamzah (2009:129) :

Matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas serta mempunyai cabang-cabang antara lain aritmetika, aljabar, geometri dan analisis.

 

     7

          Mengingat matematika memiliki beberapa unit yang satu sama lain saling berhubungan, maka yang penting dalam pembelajaran matematika adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa materi matematika merupakan materi yang abstrak, dan dalam pemilahan materi keilmuan matematika merupakan salah satu jenis materi ilmu ide abstrak. Jenis materi ilmu ide abstrak ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan materi ilmu lainnya. Dalam hal ini, matematika menuntut kemampuan penalaran dalam mempelajarinya. Dalam konteks ini belajar matematika secara keseluruhan merupakan belajar memecahkan masalah. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Schoenfeld dalam Hamzah (2009:130) yang menyatakan “Belajar matematika berkaitan dengan apa dan bagaimana menggunakannya dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah. Matematika melibatkan pengamatan, penyelidikan dan keterkaitannya dengan fenomena fisik dan sosial.” Menurut Depdiknas (2008:9) :

“Pembelajaran Matematika dan Sain di SMK diharapkan mampu : (1) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; (2) Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan; (3) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri; (4) Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik; (5) Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; (6) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial; (7) Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan  bertanggung jawab.”

2.2 Tinjauan Tentang Belajar dan Hasil Belajar

2.2.1 Hakikat Belajar

          Pembelajaran meliputi dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Belajar  mengacu pada kegiatan siswa sedangkan mengajar mengacu  pada kegiatan guru. Belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Pengertian belajar ini para ahli psikologi pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

         MenurutAhmadi (2005:17)Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi.” Sedangkan menurut Usman (1999:5) “Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya.”

         Walaupun terdapat perbedaan rumusan pengertian belajar, namun pada hakekatnya pendapat di atas mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.

                    Menurut Depdiknas (2008:3) menjelaskan ciri-ciri belajar, yaitu:

1)        Pelakunya adalah siswa yang bertindak belajar atau pembelajar.

2)        Tujuan belajar adalah memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup.

3)        Prosesnya terjadi secara internal pada diri pembelajar.

4)        Tempat belajar di sembarang tempat.

5)        Lama belajar sepanjang hayat.

6)        Syarat terjadinya belajar yaitu ada motivasi belajar yang kuat.

7)        Ukuran keberhasilan dari belajar adalah dapat memecahkan masalah.

8)        Faedah belajar bagi pembelajar adalah dapat mempertinggi martabat pribadi.

9)        Hasil belajar adalah dampak yang diperoleh dari pengajar

Menurut Hamzah (2009:1) “Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan”. Sedangkan Menurut Suryosubroto (1997:19) ”Proses pembelajaran meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran.” 

          Selanjutnya Winkel dan Paulina (2001:24) “Pembelajaran sebagai aktivitas mental dan fisik  yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, menghasilkan perubahan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap, bersifat tetap dan membekas.” Pembelajaran bukan proses pemindahan pengetahuan melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membentuk  pengetahuan, mengkonstruksi makna secara jelas dan kritis dalam menghadapi fenomena baru dan menemukan cara-cara pemecahan permasalahan.

          Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran  adalah suatu kegiatan atau proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik untuk mencapai tujuan tertentu.

2.2.2  Hakikat Hasil Belajar

          Hasil belajar diperoleh melalui kegiatan guru yang terkait dengan  pengambilan keputusan melalui penilaian kelas. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan hasil belajar yang akan dinilai. Dari hasil belajar diperoleh profil kemampuan siswa dalam mencapai sejumlah kompetensi dasar. Untuk mengetahui penguasaan setiap siswa terhadap mata pelajaran tertentu maka perlu dilaksanakan evaluasi. Dari hasil evaluasi itulah akan dapat diketahui kemajuan siswa.

         Menurut Winarno ( 1986 : 88 ) “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”. Kemampuan siswa dalam menguasai konsep pengetahuan yang disampaikan oleh guru akan bervariasi hal ini dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh oleh siswa melalui penilaian. Selanjutnya Hamzah (2009:139) ”Hasil belajar biasanya mengikuti pelajaran tertentu yang harus dikaitkan dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.” Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hal yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi pelajaran.

2.3 Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran

           Menurut Percival dan Ellington (1984) dalam Depdiknas (2008:6) “Metode (method) adalah cara yang umum untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa atau mempraktekkan teori yang telah dipelajari dalam rangka mencapai tujuan belajar”. Metode juga diartikan sebagai cara yang berisi prosedur baku yang digunakan untuk menyajikan materi pembelajaran kepada siswa. Dengan demikian, metode merupakan suatu komponen pembelajaran yang sangat menentukan terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien.

          Dalam konteks pembelajaran yang menyenangkan, suatu kegiatan pembelajaran tidak selalu menjamin siswa dapat belajar. Hal ini menunjukkan bahwa sebaik apapun guru merancang suatu program pembelajaran, apabila tidak didukung dengan pemilihan dan penggunaan metode yang tepat maka pembelajaran menjadi tidak efektif. Atas dasar itu, metode dalam kegiatan pembelajaran berfungsi menciptakan kondisi pernbelajaran yang memungkinkan bagi siswa memperoleh kemudahan dalam mempelajari bahan ajar. Menurut Depdiknas (2008:10) :

Ciri‑ciri metode yang berpeluang memfasilitasi siswa selama proses pembelajaran,  antara lain: (1) Memungkinkan terciptanya kondisi yang kondusif selama proses pembelajaran, (2) Memberikan kemudahan bagi siswa dalam mempelajari bahan ajar selama proses pembetajaran, (3) Memotivasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam setiap kegiatan pernbelajaran, (4) Memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang mencakup segenap potensi dalam dirinya secara seimbang, (5) Memungkinkan siswa untuk melakukan refleksi secara bebas terhadap pengalaman belajar yang diperoleh ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan (6) Mendorong tumbuh-kembangnya kepribadian siswa, utamanya sikap terbuka, demokratis, disiplin, tanggung-jawab dan toleran serta komitmen terhadap nilai-nilai sosio-budaya bangsanya.

2.4 Tinjauan Tentang Metode Discovery Learning

 

       2.4.1 Pengertian Discovery Learning

          Salah satu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan penerapan pembelajaran tuntas di SMK adalah metode discoveryMetode discovery dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai metode penemuan. Menurut Carin (1985) dalam Kinkin (2007:104) “Discovery adalah suatu proses mental dimana anak atau seseorang mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip”. Berdasarkan pendapat Carin ini, maka dengan metode discovery siswa dituntut untuk melibatkan proses mentalnya dalam kegiatan belajar. Proses mental yang biasanya terjadi antara lain, mengamati, menggolong-golongkan memprediksi, menjelaskan, mengukur dan menarik kesimpulan. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2004:134) :

Metode discovery adalah suatu komponen dari praktek pendidikan yang sering disebut sebagai heuristic teaching, yakni suatu tipe pengajaran yang meliputi metode-metode yang didesain untuk memajukan rentang yang luas dari belajar aktif, berorientasi pada proses, membimbing diri sendiri (self-directed), inkuiri, dan metode belajar reflektif.  Pemecahan masalah melalui discovery akan mengembangkan style inkuiri dan  problem solving untuk menyelesaikan sesuatu tugas yang dihadapi oleh seseorang.

         Selanjutnya Hamalik(2004:187) menyatakan “Metode belajar discovery paling baik dilaksanakan dalam kelompok belajar yang lebih besar.  Metode ini dapat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah, bergantung pada besarnya kelas. Dengan metode discovery memungkinkan siswa untuk mengalami sendiri bagaimana cara menemukan keterkaitan-keterkaitan baru dan bagaimana cara meraih pengetahuan melalui kegiatan mandiri.

2.4.2 Keunggulan Metode Discovery Learning

         Setiap metode pembelajaran memiliki keunggulan-keunggulan sesuai dengan materi pelajaran yang dipelajari. Keunggulan dari metode discovery learning  menurut Roestiyah (1998:20) adalah :

(1) Membantu siswa mengembangkan; memperbanyak kesiapan; serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa, (2) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi, (3) Dapat membangkitkan kegairahan belajar siswa, (4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai kemampuannya, (5) Mampu mengarahkan cara siswa belajar, (6) Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan diri, dan (7) Strategi itu berpusat pada siswa.

Jadi keunggulan dari metode discovery learning siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pemecahan masalah. Hal ini sesuai dengan pendapat  Bruner (1985) dalam Kinkin (2007:104) :

Beberapa kelebihan metode discovery, antara lain (1) Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik, (2) membantu menggunakan daya ingat dan transper pada situasi-situasi proses belajar baru, (3) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, (4) mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri, (5) memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik, (6) situasi proses belajar menjadi lebih menggairahkan”.

          Metode Discovery learning ini berpusat pada siswa dan tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar atau fasilitator, guru membantu bila diperlukan. Guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan-percobaan.

2.4.3        Langkah-Langkah Utama Metode Discovery Learning

 

            Menurut Wahyana (2000) dalam Rochmah (2007:139) “Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental untuk menemukan konsep atau prinsip”. Dengan demikian, rancangan pembelajaran harus memungkinkan siswa melakukan proses mental seperti mengamati, menggolong-golongkan, mengukur, membuat hipotesis, menemukan dan membuat kesimpulan.  Penerapannya dalam proses pembelajaran, guru memberikan informasi yang dipertanyakan dan setelah melalui tahap-tahap pembelajaran akhirnya sampai pada informasi yang diberikan. Untuk sampai di informasi yang diberikan yaitu kesimpulan sesuai dengan tujuan harus melalui beberapa tahap pembelajaran. Tiap tahap merupakan kegiatan eksplorasi dan akan memperoleh kesimpulan yang dapat dianggap sebagai pengenalan konsep. Kemudian konsep ini diterapkan dalam konteks lain sehingga diperoleh kesimpulan akhir atau masuk pada informasi yang diberikan. Discovery learning dimulai dengan menghadapkan siswa pada suatu masalah. Siswa berusaha sendiri membandingkan realita diluar dirinya dengan Metode-Metode mental yang telah dimilikinya. Dengan pengalaman-pengalamannya siswa akan mencoba untuk menyesuaikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk meningkatkan/ mengembangkannya hingga mencapai keadaan seimbang.

          Langkah-langkah utama dari metode discovery learning adalah :

1.    Guru memberikan masalah yang harus dipecahkan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan

2.    Guru menentukan proses kegiatan mental  yang akan dikembangkan

3.    Konsep atau prinsip yang akan diajarkan harus tertulis dengan jelas

4.    Alat-alat dan bahan yang diperlukan harus tersedia

5.    Pengarahan diberikan melalui tanya jawab

6.    Siswa melakukan penyelidikan atau percobaan sampai menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan oleh guru

7.    Menyusun pertanyaan bersifat terbuka sebagai cara untuk mengarahkan kegiatan.

8.    Guru membuat catatan sebagai bahan evaluasi program dan upaya memperoleh masukan. Rochmah (2007:133)

         Discovery learning dimulai dengan menghadapkan siswa pada suatu masalah. Siswa berusaha sendiri membandingkan realita diluar dirinya dengan Metode-Metode mental yang telah dimilikinya. Dengan pengalaman-pengalamannya siswa akan mencoba untuk menyesuaikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk meningkatkan/ mengembangkannya hingga mencapai keadaan seimbang.

             Dalam proses pelaksanaan pembelajaran matematika, penerapan model discovery learning ini mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

1.      Guru memberikan beberapa buah soal/ pertanyaan kepada siswa dan menyuruh siswa untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaan tersebut berpedoman pada buku paket.

2.      Siswa sendiri-sendiri mencari jawaban dari soal/ pertanyaan yang diberikan

3.      Guru menfasilitasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan soal atau masalah yang diberikan.

4.      Siswa mengerjakan soal atau masalah yang diberikan dengan mencoba menemukan sendiri konsep atau rumus dari masalah yang diberikan.

5.      Dengan metode tanya jawab guru menjelaskan materi yang dipelajari dan bersama-sama siswa menentukan konsep atau prinsip dari masalah yang sedang dibahas.

6.      Siswa merumuskan atau menemukan sendiri konsep atau prinsip yang sedang dipelajari berdasarkan pada penjelasan guru, masalah yang dibahas dan materi pada buku paket.

7.      Guru menjelaskan kembali materi yang terasa sulit bagi siswa dan kembali memberikan soal/ pertanyaan kepada siswa dengan menerapkan konsep atau prinsip yang telah dirumuskan.

8.      Siswa mencari jawaban sendiri dari pertanyaan yang diberikan guru.

2.5    Tinjauan Tentang Metode Tanya Jawab

 

         Menurut Ahmadi (2005:56) “Metode tanya jawab adalah suatu metode di dalam pendidikan dan pengajaran di mana guru bertanya sedangkan siswa menjawab tentang bahan materi yang ingin diperolehnya”. Guru menerapkan metode tanya jawab agar siswa dapat mengerti dan mengingat-ingat tentang fakta yang dipelajari, di dengar ataupun di baca, sehingga mereka memiliki pengertian yang mendalam tentang fakta itu. Penggunaan metode tanya jawab biasanya baik untuk maksud-maksud yang diperlukan untuk menyimpulkan atau mengikhtisarkan pelajaran. Dengan dibantu tanya jawab, siswa akan tersusun jalan pikirannya sehingga mencapai perumusan yang baik dan tepat. Metode tanya jawab dapat membantu tumbuhnya perhatian siswa pada pelajaran, serta mengembangkan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pengalamannya, sehingga pengetahuannya menjadi fungsional.

          Lebih lanjut Ahmadi (2005:56) :

Segi positif metode tanya jawab adalah (1) Kelas akan hidup karena siswa aktif berpikir dan menyampaikan pikiran melalui berbicara, (2) baik sekali untuk melatih siswa agar berani mengembangkan pendapatnya dengan lisan secara teratur, (3) Timbulnya perbedaan pendapat diantara siswa akan membawa kelas ke suasana diskusi. Sedangkan segi negatifnya adalah (1) Apabila terjadi perbedaan pendapat akan banyak waktu untuk menyelesaikannya, (2) Kemungkinan akan terjadinya perhatian siswa terutama apabila terdapat jawaban-jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya, tetapi bukan sasarannya yang dituju, (3) dapat menghambat cara berpikir, apabila guru kurang pandai dalam penyajian materi ajar, (4) Situasi persaingan bisa timbul, apabila guru kurang menguasai penerapan metode tanya jawab ini.

          Dalam proses pembelajaran penerapan metode tanya jawab ini mengikuti kegiatan sebagai berikut :

1.     Guru menyampaikan materi sesuai standar kompetensi yang dipelajari

2.     Guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang materi yang sedang dipelajari.

3.     Siswa menjawab pertanyaan guru.

4.     Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mendalami konsep yang sedang dipelajari dengan metode tanya jawab.

5.     Guru menfasilitasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan soal latihan dan memberikan contoh soal dan pembahasannya.

6.     Siswa mengerjakan soal latihan untuk mencari jawabannya.

7.     Siswa mengumpulkan lembaran jawaban kepada guru.

8.     Guru menanyakan mana soal yang sulit kepada siswa, dan guru membimbing siswa menyelesaikan soal tersebut di depan kelas.

9.     Guru memeriksa lembaran jawaban latihan  siswa dan mencantumkan nilai yang diperolehnya.

2.6 Kerangka Konseptual

          Kerangka konseptual merupakan kegiatan berpikir yang menjadi dasar bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Mata pelajaran Matematika di SMK merupakan salah satu mata pelajaran dalam kelompok adaptif pendukung mata pelajaran dasar kejuruan. Tujuan pembelajaran Matematika adalah agar peserta didik berlatih berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif.           

         Dengan demikian proses pembelajaran matematika harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup untuk melakukan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Secara grafis pemikiran yang dilakukan oleh peneliti dapat digambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut :

Kelompok

Eksperimen I

Kelompok

Eksperimen II

Menggunakan Metode Discovery Learning

Menggunakan Metode Tanya Jawab

Siswa

Evaluasi / Tes

Evaluasi / Tes

Analisis Statistik

Hasil Belajar

Hasil Belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                       Diagram 1:  Diagram kerangka berpikir

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Jenis Penelitian

           Sesuai dengan masalah penelitian, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimen. Suharsimi Arikunto (2008:26) menyatakan penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data sebagai hasil dari adanya suatu perlakuan atau treatment. Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis yang dilandasi asumsi yang kuat akan adanya hubungan sebab akibat antara dua variabel.

           Rancangan penelitian eksperimen ini menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II  yang kedua kelas diterapkan perlakukan yang berbeda. Pada kelas eksperimen I diterapkan metode discovery learning, dankelas eksperimen II diterapkan metode tanya jawab.

Tabel 2 :  Rancangan Penelitian

Group

Pretest

Treatment

Post test

Eksperimen I

X1

T1

Eksperimen II

X2

T2

 

       X1 = Kelas dengan metode Discovery Learning

X2 = Kelas dengan metode tanya jawab

T1 = Tes akhir pada kelas eksperimen I

T2 = Tes akhir pada kelas eksperimen II

 

    21

 

 

 

3.2  Populasi dan Sampel

3.2.1   Populasi

           Populasi menurut Juriah (2005:121)adalah “Keseluruhan objek penelitian yang merupakan sumber data dan memiliki karakteristik tertentu di dalam penelitian.” Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh yang terdiri dari tujuh kelas yang terdaftar pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah 232 siswa. Lebih lengkapnya distribusi siswa setiap kelas dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3:  Jumlah siswa kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun  

               Pelajaran 2010/2011.

No

Kelas

Jumlah Siswa

1

X TGB

27

2

X TKK

29

3

X TFL 1

37

4

X TFL 2

34

5

TKR 1

32

6

X TKR 2

37

7

X TITL

36

 

Jumlah

232

                 (Sumber : Tata Usaha SMK Negeri 2 Sungai penuh)

3.2.2   Sampel

          Sampel menurut Juriah (2005:121)adalah “Sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian.

Langkah-langkah penentuan sampel dalam penelitian ini sebagai berikut :

1.      Mengumpulkan nilaihasil ujian mid semester genap mata pelajaran matematika siswa kelas X,  kemudian nilai tersebut dikelompokan menurut kelas masing-masing, setelah itu dihitung nilai rata-rata dan standar deviasinya.

2.     Melakukan uji homogenitas varians. Uji Homogenitas varians ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi mempunyai varians yang homogen. Uji statistik yang digunakan adalah uji Bartlett. Harga-harga yang digunakan untuk uji Bartlett adalah :

          Tabel 4: Harga-harga untuk uji Bartlett

Sampel ke

Dk

1/dk

S12

Log S12

(dk)Log S12

1

1

K

n1 – 1

n1 – 1

nk – 1

1/(n1 – 1)

1/(n1 – 1)

1/(nk – 1)

S12

S12

Sk2

Log S12

Log S12

Log Sk2

(n1 – 1)Log S12

(n1 – 1)Log S12

(n1 – 1)Log Sk2

Jumlah

∑ (n1-1)

∑ (n1-1)

∑(n1 – 1)Log Sk2

 

                     Dari daftar ini dihitung harga-harga yang diperlukan, yakni :

a.      Varians gabungan dari semua sampel :

        S2 = (1/n1 – 1) S12/∑(nk – 1)

              b.   Harga satuan B dengan rumus :   B = (log S22) ∑(n1 – 1)

              c.  Untuk uji Bartlett digunakan statistic Chi-Kuadrat :

        2 = (In 10)(B-∑(n1-1) log S12).

        Dengan In 10 = 2,3026 disebut logaritma asli dengan bilangan 10. Dengan taraf α = 0,05 ditolak hipotesis jika 2 > 2(1-α)(k-1), dimana2(1-α)(k-1) didapat dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan peluang (1-α) dan dk = (k-1). (Sujana , 1996).

3.      Setelah dilakukan pengujian homogenitas terhadap populasi, dilakukan pemilihan sampel secara acak dengan menggunakan undian.

Dalam penelitian ini yang terpilih sebagai sampel adalah kelas X TKR 1 dan kelas X TKR 2 dengan jumlah siswa 69 orang.

          Tabel 5 : Sampel Penelitian

Sampel

Kelas

Jumlah sampel

Keterangan

1

X TKR 1

32

Kelas Eksperimen 1

2

X TKR 2

37

Kelas Eksperimen 2

Jumlah Total Sampel

69

 

 

3.3  Variabel Penelitian

          Pada penelitian ini diambil variabel sebagai berikut :

a.               Variabel bebas       :   Perbandingan    hasil      belajar        matematika      yang

                       menggunakan metode discovery learning dengan metode

                       tanya jawab.

b.               Variabel terikat : Hasil belajar  matematika  siswa yang  diperoleh  melalui

                       hasil tes akhir.

3.4   Jenis dan Sumber data

3.4.1 Jenis data

          Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer dan data sekunder.

1.      Data primer

         Data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh peneliti untuk tujuan khusus. Dalam hal ini data primer adalah data hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II.

2.      Data sekunder

         Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang luar peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu adalah data yang asli. Dalam penelitian ini data sekunder adalah nilai hasil ujian mid semester genap siswa kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011.

 

3.4.2 Sumber data

1. Data Primer bersumber  dari  siswa  kelas  X  SMK  Negeri 2  Sungai

    Penuh yang menjadi sampel penelitian.

2. Data Sekunder  bersumber  dari  Tata  Usaha  dan  Guru  Matematika

    kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh.

 

3.5   Prosedur Penelitian

         Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian.

3.5.1 Tahap Persiapan

a. Menentukan tempat penelitian

b. Menentukan populasi dan sampel

c. Memilih dua kelas sampel secara acak

d. Menetapkan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II

3.5.2   Tahap Pelaksanaan

            a. Persiapan pembelajaran

                1) Menentukan materi pelajaran

                2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran

                3) Membuat bahan ajar berupa ringkasan materi pelajaran

                4) Menyusun Lembar Kerja Siswa dan tugas latihan

                5) Mempersiapkan tes akhir

Kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen I menggunakan Metode Discovery Learning  dan kelas eksperimen II menggunakan metode tanya jawab. Langkah-langkah pembelajaran pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II  dapat dilihat pada tabel berikut :

       Tabel 6: Perlakuan yang diberikan pada kedua kelas sampel

No

Kelas Eksperimen I

Kelas Eksperimen II

1

2

3

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

Pendahuluan

a.    Mengisi absen siswa

b.    Guru memberi apersepsi, motivasi, dan menyampaikan indikator yang harus dicapai.

c.    Guru menjelaskan metode yang digunakan dalam pembelajaran dan prosedur penilaian

Kegiatan Inti

a.    Guru membagikan LKS  dan buku paket matematika kepada siswa

b.    Guru menjelaskan materi secara singkat

c.    Guru menulis beberapa buah soal/ pertanyaan di papan tulis dan menyuruh siswa untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaan tersebut berpedoman pada buku paket dan LKS

d.   Siswa sendiri-sendiri mencari jawaban dari soal/ pertanyaan yang diberikan

e.    Guru menfasilitasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan soal atau masalah yang diberikan dan memberikan contoh soal dan pembahasannya.

f.     Guru menyuruh siswa untuk bertukar jawaban untuk diperiksa oleh temannya sebangku.

g.    Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang mau menjawab soal nomor satu didepan kelas, dan setelah siswa menuliskan jawaban maka guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk memberikan tanggapan, begitu juga untuk soal-soal selanjutnya diberikan kepada siswa yang lain untuk mencari jawabannya di depan kelas.

h.    Siswa menjumlahkan skor yang diperoleh dari jawaban latihan temannya dan menyebutkannya, dan guru memberikan penghargaan dalam bentuk nilai.

i.      Guru menjelaskan kembali materi yang terasa sulit bagi siswa dan kembali memberikan soal/ pertanyaan kepada siswa

j.      Siswa mencari jawaban sendiri dari pertanyaan yang diberikan guru.

Penutup

a.   Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran

b.  Guru memberikan tugas rumah yang akan diselesaikan siswa

c.   Menyampaikan topik materi pelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

Pendahuluan

a.  Mengisi absen siswa

b.  Guru memberi apersepsi, motivasi menyampaikan indikator yang harus dicapai.

 

    Kegiatan Inti

a.    Guru menyampaikan materi sesuai standar kompetensi yang dipelajari

b.    Guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang materi yang sedang dipelajari.

c.    Siswa menjawab pertanyaan guru.

d.   Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mendalami konsep yang sedang dipelajari dengan metode tanya jawab.

e.    Guru menfasilitasi dan membimbing siswa dalam menyelesaikan soal latihan dan memberikan contoh soal dan pembahasannya.

f.     Siswa mengerjakan soal latihan untuk mencari jawabannya.

g.    Siswa mengumpulkan lembaran jawaban kepada guru.

h.    Guru menanyakan mana soal yang sulit kepada siswa, dan guru membimbing siswa menyelesaikan soal tersebut di depan kelas.

i.      Guru memeriksa lembaran jawaban latihan  siswa dan mencantumkan nilai yang diperolehnya.

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

a.    Siswa dan gurumenyimpulkan pelajaran

b.    Guru memberikan tugas rumah.

c.    Menyampaikan topik materi pelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

 

      3.5.3 Tahap Penyelesaian

a. Mengolah data dari kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen I maupun kelas eksperimen II.

b. Menarik kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai teknik analisa data.

 

3.6 Instrumen Penelitian

          Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil tes kepada kedua sampel.Instrumen penelitian pada aspek kognitif berupa tes materi pelajaran yang diberikan selama perlakukan berlangsung.

Untuk mendapatkan tes yang benar-benar valid, reabilitas serta memperhatikan taraf kesukaran dan daya beda soal  maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a.    Membuat kisi-kisi soal tes

b.   Menyusun soal tes sesuai dengan kisi-kisi soal tes

c.    Melakukan uji coba soal tes yang bertujuan untuk merevisi soal tes.        

          Soal diujicobakan kepada siswa kelas X SMK Negeri 4 Sungai Penuh karena kelas ini rata-rata  nilai ulangan hariannya berdistribusi normal dengan kelas sampel.Hasil ujicoba soal dianalisis mempergunakan prosedur statistic yaitu :

 

1.      Validitas Soal

         Menurut Arikunto (2009:160) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Pengujian validitas terhadap hasil uji coba dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi produk momen yang dikemukakan oleh Pearson (Arikunto, 2009;72), yaitu :

 

Dengan:      rxy         : koefisien korelasi product moment

N     : jumlah peserta tes

ΣY  : jumlah skor total

ΣX  : jumlah skor butir soal

ΣX2: jumlah kuadrat skor butir soal

ΣXY: jumlah hasil kali skor butir soal

Dengan kriteria :

0,800 – 1,000          : validitas sangat tinggi

0,600 – 0,800          : validitas tinggi

0,400 – 0,600          : validitas cukup

0,200 – 0,400          : validitas rendah

0,000 – 0,200          : validitas sangat rendah

Dari hasil perhitungan validitas soal tes diperoleh rxy= 0,343 dengan kriterian validitas rendah.

2.      Reliabilitas Soal

Menurut Arikunto (2009:101) reliabilitas menunjukan bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Dengan kata lain reliabelitas soal merupakan ketetapan suatu tes apabila tes dicobakan pada objek yang sama. Untuk menentukan reliabilitas suatu tes dipakai rumus Kuder Richardson (KR.21) yang dikemukakan oleh Arikunto (2009:103),  yaitu:

                   r11 1 –        

 Dengan:

S2 =

    M =

                              ∑x         dan                     N∑x2 – (x2)                           

                               N                                     N (n – 1)

 

 r11    : Reliabilitas tes secara keseluruhan

 n     : Jumlah butir soal

M    : rata-rata skor tes

N     : Jumlah pengikut tes

S2    : Varians total

 Kriteria reliabilitas tes dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 7.

 Tabel 7:  Klasifikasi indeks reliabelitas soal

No

Indeks Reliabelitas

Klasifikasi

1

0,00 < r11 ≤0,20

Sangat rendah

2

0,21 < r11 ≤0,40

Rendah

3

0,41 < r11 ≤0,60

Sedang

4

0,61 < r11 ≤0,80

Tinggi

5

0,81 < r11 ≤1,00

Sangat tinggi

           Dari hasil perhitungan diperoleh reliabilitas untuk 10 butir soal adalah 0,888. Hal ini berarti soal tersebut memiliki reliabilitas sangat tinggi.

3.      Daya Pembeda

    Daya pembeda soal menurut Arikunto (2009:211) adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks daya beda adalah sebagai berikut:

                    ( Arikunto, 2009: 213)

D : Daya beda

BA: Jumlah kelompok atas yang menjawab dengan benar

BB: Jumlah kelompok bawah yang menjawab dengan benar

JA  : Jumlah peserta kelompok atas

JB  : Jumlah peserta kelompok bawah

 Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.

 Proporsi peserta kelompok bawah  menjawab benar.

Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal:

                   Tabel 8: Klasifikasi daya beda soal

No

Daya beda soal

Kriteria

1

0,000 < D ≤0,200

Jelek

2

0,201 < D ≤0,400

Cukup

3

0,401 < D ≤0,700

Baik

4

0,701 < D ≤1,000

Baik sekali

 

          Dari hasil perhitungan diperoleh daya beda yaitu 0,182 (jelek) dan 0,545 (dipakai). Dari 15 soal tersebut 5 soal dinyatakan dibuang, jadi soal terpakai sebanyak 10 butir.

4.      Taraf Kesukaran

   Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran, adalah:

                                                (Arikunto, 2009: 208)

Dengan:

P               : Indeks kesukaran

B              : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar

Js              : Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut:

Tabel 9: Klasifikasi Indeks kesukaran

No

Indeks Kesukaran

Kriteria

 1

 0,00≤P0,30

Sukar

2

 0,30P0,70

Sedang

3

 0,70P1,00

Mudah

 

                   Dari hasil perhitungan indeks kesukaran soal diperoleh 0,773 (mudah) 

                   dan 0,364 (sedang).

3.7    Teknik Analisa data

           Untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik. Untuk melakukan uji statistik maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi kedua kelompok.

3.7.1     Uji Normalitas

            Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok sampel berdistribusi normal atau tidak. Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan uji Lillieford (Sujana, 1996:467) dengan langkah sebagai berikut :

1.      Data X1, X2,  X,…, Xn yang diperoleh dari data yang  terkecil hingga

data yang terbesar.

2.      Data X1, X2,  X3,  …, Xn dijadikan bilangan  Z1,  Z2,  Z3,, Xn dengan

 

 rumus :    Zi =   Xi – X

                               S

      Keterangan :

      Xi = Skor yang diperoleh siswa ke-i

       X =  Skor rata-rata

       S = Simpangan baku              

                   3. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian  

       dihitung peluang F (Zi) = P (z < Zi)

4.      Dengan menggunakan propersi Z1,  Z2,  Z3,…,Xn yang lebih kecil

    atau sama dengan Zi, jika propersi ini dinyatakan dengan S (Zi)   :

S (Zi) =

                        banyak  Z1,  Z2,  Z3 yang ≤ Zi

                                            n

5.         Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian harga mutlaknya.

6.         Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut yang disebut Lo.

7.         Membandingkan Lo dengan nilai kritis A yang terdapat pada taraf nyata α = 0,05, kriteria terima yaitu hipotesis tersebut normal jika Lo < Lt, lain dari itu ditolak. (Sujana , 1996 : 467).

3.7.2  Uji Homogenitas

       Uji homogenitas bertujuan menurut Sujana (1996:302) untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F. Uji ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.      Mencari varians masing-masing data kemudian dihitung harga F  dengan rumus :

F  =

                         Varians terbesar

                         Varians terkecil

Keterangan :

F    = Varians kelompok data

S12 = Varians hasil belajar kelas eksperimen I

S22 = Varians hasil belajar kelas eksperimen II

 

2.      Jika harga sudah didapat maka dibandingkan dengan F tersebut dengan harga F yang terdapat dalam daftar distribusi F dengan taraf signifikan 95% dan dk pembilang  = n1–1 dan dk penyebut = n2–1. Bila F yang didapat dari perhitungan lebih kecil dari harga F pada tabel maka kedua kelompok data mempunyai varians yang homogen dan sebaliknya. (Sujana, 1996:305).

 

3.7.3  Uji Hipotesis

             Untuk melihat apakah terdapat atau tidaknya perbandingan hasil belajar matematika yang menggunakan metode discovery learning dengan metode tanya jawab, maka dilakukan pengujian hipotesis. Untuk uji hipotesis ini digunakan uji-t (Sujana, 1996:239) dengan rumus:

 

  t=

                  X1 – X2                                                   

1 + 1

n n2

                   S    

 

  Dengan :

            S2=

 

             ( (n1 – 1) S12  + (n2 – 1) S22

                        n 1 + n2 – 2

 

  Keterangan :                

  X1          = Nilai rata- rata kelas eksperimen I

  X2             = Nilai rata- rata kelas eksperimen II

  S            = Standar deviasi gabungan

  n1              = Jumlah siswa kelas eksperimen I

  dk          = Derajat kebebasan

 n 2           = Jumlah siswa kelas eksperimen II

 S2           = Varians gabungan

           Harga thitung dibanding denganttabel, yang terdapat dalam tabel distrbusi t. Kriteria pengujian hipotesis adalah terima Ho jika t ≥ t (1-α) dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan peluang (1 – α). Untuk harga-harga lainnya Ho ditolak.

 

3.8   Tempat dan Waktu Penelitian

      3.8.1 Tempat Penelitian

         Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMK Negeri 2 Sungai Penuh Jl. Kayu Aro KM. 03 Sungai Penuh Kecamatan Pesisir Bukit Kota Sungai Penuh Propinsi Jambi .

3.8.2   Waktu Penelitian

         Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 04 Mei sampai dengan 25 Mei 2011, tepatnya pada semester genap  tahun pelajaran  2010/2011.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Hasil Uji Coba Soal

1.    Hasil Validitas

Berdasarkan hasil perhitungan uji validitas soal maka diperoleh

4.2  Deskripsi  Data

           Setelah kegiatan penelitian selesai dilaksanakan pada kedua kelas, maka dilaksanakantes akhir untuk melihat hasil belajar siswa. Pada tes akhir dari yang telah dilaksanakan diperoleh data hasil belajar siswa berupa nilai. Deskripsi data tes akhir kedua kelas dapat dilihat pada tabel berikut.

       Tabel 10: Hasil tes akhir kedua kelas

Kelas Sampel

N

 (Jumlah Siswa)

X

(Nilai rata-rata)

S

(Standar Deviasi)

S2

(Varians)

Eksperimen I

Eksperimen II

32

37

65, 50

62, 84

       12,07

7,50

145,74

56,31

 

           Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen I lebih tinggi dari   rata-rata hasil belajar kelas eksperimen II.

 

4.2 Analisis Data

   38

          Tujuan dari analisis data adalah untuk melihat apakah terdapat perbandingan hasil belajar matematika antara yang  menggunakan metode  discovery learning dengan metode tanya jawab di kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011.

 Untuk mengetahui perbedaan tersebut digunakan uji t, namun terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap hasil tes belajar kedua kelas.

4.2.1      Uji Normalitas

           Dari uji normalitas yang dilakukan terhadap masing-masing kelompok harga Lo. Harga ini kemudian dibandingkan dengan Ltabel untuk kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 11.

           Tabel 11: Data Uji Normalitas

Kelas Sampel

Lo

Ltabel

Hasil Uji

Keterangan

Eksperimen I

Eksperimen II

0,1185

0,1351

0,1380

0,1380

Lo < Ltabel

Lo  < Ltabel

Normal

Normal

 

4.2.2        Uji Homogenitas

            Dari uji homogenitas yang dilakukan terhadap masing-masing kelompok diperoleh Fhitung. Selanjutnya Ftabel untuk taraf nyata 0,10. Hasil yang diperoleh pada tabel 12.

           Tabel 12: Data Uji Homogenitas

Varians

N

Fhitung

Ftabel

Hasil Uji Varians

Eksperimen I

Eksperimen II

32

37

1,588

1,820

Homogen

 

                   Dari tabel terlihat bahwa Fhitung  < Ftabel     berarti kedua kelas mempunyai  varians yang homogen dengan tingkat kepercayaan 90% dengan α = 0,10.

4.2.3        Uji Hipotesis

            Dari hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukan bahwa kedua kelas normal dan mempunyai varians yag sama. Selanjutnya digunakan uji t untuk mengetahui perbedaan dua rata-rata. Dengan memperhatikan persentil t dan tabel distribusi t. Untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan dk = 67 diperoleh thitung = 5,291, hasil ini dapat dilihat pada tabel 13 .

                 Tabel 13: Pengujian Hipotesis

 

Kelas

 

N

 

X

 

S

 

 

St

 

thitung

 

ttabel

Eksperimen I

Eksperimen II

32

37

65,50

62,84

12,07

7,50

11,917

5,291

1,670

 

4.3 Pembahasan

            Setelah dilaksanakan perhitungan dengan menggunakan uji t didapat thitung  sebesar 5,291 dan ttabel  sebesar 1,670 ternyata thitung lebih besar dari ttabel  pada taraf kepercayaan 95%, hal ini berarti hipotesis nol (Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat perbandingan hasil belajar matematika antara yang  menggunakan metode  discovery learning dengan metode tanya jawab di kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh Tahun Pelajaran 2010/2011, pada taraf kepercayaan 95% ditolak.”Berdasarkan tes akhir yang dilaksanakan dikelas eksperimen I dan eksperimen II didapatkan hasil bahwa terdapat perbedan hasil belajar matematika antara kelas eksperimen dengan kelas control akibat perlakuan yang diberikan. Pada kelas eksperimen I yang diajarkan dengan menerapkan pendekatan discovery learning dengan hasil rata-rata tes akhir 65,50 dan standar deviasi 12,07. Sedangkan pada kelas eksperimen II diajarkan dengan menerapkan metode tanya jawab diperoleh rata-rata tes akhir sama dengan 62,84 dan standar deviasi 7,50.

          Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan discovery learninglebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menerapkan metode tanya jawabdi kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh.  Pada saat penelitian berlangsung siswa yang menggunakan pendekatan discovery learningsangat antusias mengikuti pelajaran dikarenakan dengan pendekatan discovery learningsiswa dapat lebih memahami konsep-konsep yang diajarkan, sehingga proses pembelajaran terlaksana dengan teratur berdasarkan tujuan  pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

          Dari hasil uji hipotesis pada taraf kepercayaan 95% dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

2.         Hasil belajar matematika siswa yang menerapkan pendekatan discovery learning (kelas eksperimen I) memperoleh nilai rata-rata 65,50 dengan standar deviasi 12,07 dan siswa yang menerapkan metode tanya jawab (kelas eksperimen II) memperoleh nilai rata-rata 62,84 dengan standar deviasi 7,50.

3.         Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data diperoleh thitung = 5,291dan ttabel = 1,670  berarti H0 ditolak H1 diterima, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan discovery learninglebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menerapkan metode tanya jawabdi kelas X SMK Negeri 2 Sungai Penuh.

B.      Saran

1.     

   42

Pendekatan discovery learning sebagai salah satu pendekatan pembelajaran proses pembelajaran matematika sangat bermanfaat sekali bagi guru maupun siswa, terutama sekali dalam mata pelajaran matematika yang selama ini dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Penggunaan  pendekatan   pembelajaran  ini  dapat  menarik  perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari suatu konsep. Oleh karena itu pada pembelajaran standar kompetensi menjelaskan materi memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat disarankan kepada guru matematika  menerapkan pendekatan discovery learning untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.

2.      Setelah diketahui pendekatan pembelajaran discovery learning lebih baik dalam menjelaskan materi memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat , maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan pendekatan discovery learning untuk standar kompetensi lainnya dalam bidang studi matematika.

3.      Khusus untuk SMK Negeri 2 Sungai Penuh diharapkan selalu mencoba menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran yang baru dalam proses pembelajaran terutama bidang studi matematika  agar minat dan motivasi siswa meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Ahmadi. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

 

Depdiknas. 2008. Pengembangan dan Penerapan Metode Pembelajaran  Berbasis

          Kompetensi. Jakarta : Depdiknas

Hamzah B. Uno. 2009. Metode Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

 

Kinkin Suartini. 2007. Urgensi Pertanyaan dalam Pembelajaran Sains dengan      

         Metode Discovey-Inquiry. Jakarta : PIC UIN Jakarta

 

Oemar Hamalik. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

 

Nurul Juriah. 2006.Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi

           Aksara

 

Paulina, P.  2001.  Konstruktivisme dalam Pembelajaran.Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas.  Jakarta.

Rochmah Yudhawati Dhewi. 2007. Mengembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah Menggunakan Pendekatan Discovery dan Inquiry dalam Fisika. Jakarta : PIC UIN Jakarta

Roestiyah N.K. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta

Suryosubroto. 1997. Proses Belajar-Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Suharsimi Arikunto. 2009.  Dasar-Dasar  Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Bumi

         Aksara

 

Sujana. 1996. Metode Statistika. Edisi ke.5.  Bandung : Penerbit Tarsito

Usman, Uzer Mohammad. 1999. Menjadi Guru Profesional. Edisi kedua.  

          Bandung : Remaja Rosdakarya.

 

Winarno Surakhmad. 1986Pengantar   Interaksi   Mengajar BelajarBandung : 

         Tarsito

44

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s